IHK Naik 106,13, Inflasi Kota Bima 0,02, ini Komoditas Penyumbangnya

Aktivitas Pedagang di Pasar Raya Amahami Kota Bima. Foto US/ Berita11.com.

Kota Bima, Berita11.com— Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bima mencatat pada Agustus 2021 Kota Bima mengalami inflasi 0,02 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 106,11 pada Juli 2021 menjadi 106,13 pada Agustus 2021.

Kepala BPS Kota Bima Peter Willem melalui BRS menyebut angka tersebut searah dengan kondisi nasional yang mengalami inflasisebesar 0,03 persen pada Agustus 2021.

Peter menyebut, pada bulan Agustus 2021 tujuh kelompok komoditas tercatat mengalami inflasi, yaitu rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,22 persen, kesehatan sebesar 0,21 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,18 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 0,17 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,11 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,03 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,03 persen.

Kendati demikian kata dia, deflasi terjadi pada kelompok komoditas transportasi sebesar 0,21 persen, di sisi lain, tiga kelompok komoditas yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman/restoran tercatat tidak mengalami perubahan harga yang signifikan dalam periode pemantauan di bulan Agustus 2021.

“Laju inflasi Kota Bima tahun kalender Agustus 2021 sebesar 1,23 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender Agustus 2020 sebesar 0,16 persen. Sedangkan laju inflasi “tahun ke tahun” (YoY) Agustus 2021 sebesar 1,72 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi “tahun ke tahun” di bulan Agustus 2020 sebesar 0,99persen,” jelas Peter.

BACA JUGA:  Provinsi NTB Kuatkan Fondasi Perekonomian Melalui Industrialisasi

Berdasarkan hasil pemantauan pihaknya, perkembangan harga berbagai komoditas yang memiliki bobot besar secara umum menunjukkan kenaikan harga.

Grafik Inflasi Kota Bima YoY.

Dia menyebut tujuh kelompok komoditas tercatat mengalami inflasi, yaitu rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,22 persen, kesehatan sebesar 0,21 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,18 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 0,17 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,11 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,03 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,03 persen. “Meskipun begitu, deflasi terjadi pada kelompok komoditas transportasi sebesar 0,21 persen,” ujarnya.

Sementara itu, tiga kelompok komoditas yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau, pendidikan, dan penyediaan makanan dan minuman/restoran tercatat tidak mengalami perubahan harga yang signifikan dalam periode pemantauan di bulan Agustus 2021.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Agustus 2021 lalu, antara lain ikan bandeng/ikan bolu, tomat, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, udang basah, dan kerudung/jilbab. Sedangkan komoditas–komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai rawit, ayam hidup, daging ayam ras, angkutan udara, dan kacang panjang

Jika dirinci menurut kota-kota, IHK di Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram mengalami deflasi pada Agustus 2021 sebesar 0,18 persen dan inflasi tahun kalender (Agustus 2021 terhadap Desember 2020) sebesar 1,11 persen. Kota Bima mengalami inflasi pada bulan Agustus 2021 sebesar 0,02 persen dan inflasi tahun kalender (Agustus 2021 terhadap Desember 2020) sebesar 1,23 persen.

BACA JUGA:  Harga Masker Standar Medis masih Mahal, Mi6: Pemerintah Perlu Tetapkan HET

Dikatakannya, laju inflasi ‘tahun ke tahun’ Kota Bima untuk Agustus 2021 terhadap bulan Agustus 2020 sebesar 1,72 persen, sementara itu laju inflasi ‘tahun ke tahun” Kota Mataram untuk bulan Agustus 2021 terhadap bulan Agustus 2020 sebesar 1,76 persen. Terjadi inflasi sebesar 0,02 persen di Kota Bima yang disebabkan kenaikan harga beberapa komoditas antara lain ikan bandeng/ikan bolu, tomat, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, udang basah, dan kerudung/jilbab.

Pada tingkat nasional terjadi inflasi sebesar 0,03 persen dengan IHK sebesar 106,57. Dari 90 kota yang menghitung IHK, tercatat 34 kota mengalami inflasi dan 56 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kendari sebesar 0,62 persen diikuti Palu sebesar 0,49 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Tanjung sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, deflasi terbesar terjadi di Sorong sebesar 1,04 persen dan deflasi terkecil terjadi di Meulaboh, Sukabumi, dan Timika sebesar 0,03 persen. Untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara, dari tujuh  kota yang menghitung IHK, dua kota mengalami inflasi yaitu Denpasar sebesar 0,11 persen dan Kota Bima sebesar 0,02 persen.  “Deflasi terjadi di Maumere sebesar 0,89 persen, disusul Kupang sebesar 0,56 persen. Deflasi terkecil terjadi di Singaraja sebesar 0,07 persen,” jelasnya. [B-19]