Ini Daftar Harga Bapok dan Barang Strategis yang Naik di Pasar Tradisional di Kabupaten Bima

Suasana aktivitas pedagang bahan pokok di pasar tradisional pasar pagi Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Foto Novi/ Berita11.com.
Suasana aktivitas pedagang bahan pokok di pasar tradisional pasar pagi Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Foto Novi/ Berita11.com.

Bima, Berita11.com— Sejak awal Ramadan 1445 Hijriah harga bahan pokok dan komoditi di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, seperti di pasar pagi Sila melonjak. Sejumlah komoditi yang mengalami kenaikan di antaranya harga tomat kini berkisar Rp30.000 per kilogram dan harga gula pasir Rp20 ribu per kilogram.

Pantauan langsung Berita11.com di pasar tradisional Sila Kabupaten Bima, selain harga tomat yang melambung menjadi Rp30.000 hingga Rp35 ribu per kilogram dari Rp8.000 per kilogram, bahan pokok dan komoditi lain yang mengalami kenaikan di antaranya harga cabai merah Rp100.000 per kilogram, harga cabai rawit Rp60.000 per kilogram.

Bacaan Lainnya

Selain itu harga telur ayam ras naik drastis menjadi Rp64.000 per trail dari sebelumnya Rp55.000 per krak. Sementara itu harga bawang merah tembus Rp30.000 per kilogram, sedangkan harga bawang putih bertahan Rp40.000 per kilogram. Harga minyak goreng premium Rp22.000 per liter, sedangkan harga daging merah Rp120.000 per kilogram dan harga ayam broiler Rp70.000 per ekor bergantung ukuran.

Sementara itu sejumlah komoditi tidak terpengaruh bulan suci Ramadan, harga tetap sama, di antaranya wortel dan kentang impor masih dijual Rp30.000 per kilogram. Harga bahan pokok yang paling dibutuhkan masyarakat, beras premium mengalami kenaikan meskipun saat ini sejumlah petani telah memasukim musim tanam, dengan kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram.

BACA JUGA: Pertamina Tambah Pasokan LPG 3 Kg di Pulau Sumbawa, Klaim Harga Jual di Pangkalan Rp18.500
Suasana aktivitas pedagang daging merah di pasar tradisional pasar pagi Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Foto Novi/ Berita11.com.

Salah satu pedagang di pasar tradisional Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Rahma mengatakan, kenaikan harga bahan pokok dan barang strategis saat bulan suci Ramadan sudah biasa terjadi setiap tahun.

Kenaikan harga komoditi seperti cabai dan bawang merah juga dipengaruhi musim hujan dan distribusi bahan pokok. Umumnya sejumlah komoditi seperti cabai dan tomat didatangkan dari luar daerah seperti dari Pulau Lombok dan Makassar.

Kenaikan harga komoditi dipengaruhi tingkat produksi yang terbatas dan kenaikan pada tingkat produsen. “Kalau sekarang rata-rata naik. Bukan saja beras tapi hampir pada semua jenis barang,” kata Rahma di pasar tradisional Sila Kabupaten Bima, Rabu (29/3/2024).

Menurut dia, kenaikan harga bahan pokok dan sejumlah barang strategis serta komoditi impor tidak menguntungkan para pedagang. Karena modal yang harus dikeluarkan para pedagang lebih banyak. “Kalau kita sih malah menginginkan harga-harga ini turun. Pemerintah bisa memperhatikan Nasib pedagang dan masyarakat kecil. Kalau harga-harga barang naik, modal yang harus kita keluarkan lebih besar lagi, sementara untung ndak seberapa,” katayan.

BACA JUGA: Rem Blong di Turunan Samping Jurang, Mira Meregang Nyawa hingga Dirujuk ke RSUD Bima

Hal yang sama dikatakan pedagang lainnya, Hadijah. Ia berharap pemerintah terus menstabilisasi harga meskipun tidak memiliki kewenangan mengintervensi transaksi di pasar. Namun melalui sejumlah kebijakannya pemerintah bisa mengendalikan kenaikan harga bahan pokok.

“Dengan naiknya harga barang otomatis omzet kita juga menurun. Karena daya beli masyarakat akan otomatis berkurang,” ujarnya.

Pada sisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima melalui kegiatan Ramadan Berbagi pada sejumlah kecamatan terus berupaya menstabilisasi harga bahan pokok melalui kegiatan pasar sejumlah bahan pokok seperti beras medium (program stabilisasi pasokan dan harga pangan /SPHP), telur, gula pasir dan minyak goreng bersubsidi.

Pada kegiatan operasi pasar murah, beras program SPHP dijual dengan harga Rp52.000 per 5 kg, gula pasir Rp17.000 per kilogram dan minyak goreng nonpremium dijual dengan harga Rp15.000 per liter.

Secara terpisah Kepala Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Cabang Bima, Kurnia Rahmawati menyebut, harga beras saat ini cenderung turun karena para petani mulai memasuki musim panen. “Harga beras cenderung turun karena beberapa wilayah sudah memasuki masa panenm,” ujar Kurnia saat dihubungi Berita11.com.

Sampai saat ini stok beras di Bulog Cabang Bima 1.350 ton, sedangkan stok bahan pokok lain seperti minyak goreng 78.000 liter dan stok gula pasir 21 ton. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait