Ekonom: Menguatnya Dolar AS Terhadap Rupiah Seharusnya Menguntungkan NTB

Dr Muhammad Firmansyah. Foto Ist.
Dr Muhammad Firmansyah. Foto Ist.

Mataram, Berita11.com— Ekonom Universitas Mataram, Muhammad Firmansyah mengatakan, trend menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mestinya menjadi momentum yang baik bagi Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Harga dolar yang naik seharusnya menguntungkan NTB yang core ekonominya pariwisata. Harusnya mendapatkan lebih banyak belanja dan lebih lama stay (wisatawan di NTB),” ujar Doktor Ekonomi itu saat dihubungi Berita11.com melalui layanan media sosial, Rabu (26/6/2024).

Bacaan Lainnya

Menurut Firmansyah, dolar AS yang menguat seharusnya menguntungkan eksportir, sehingga pemerintah di daerah dapat fokus untuk meningkatkan ekspor. Hanya saja dampak negatif kenaikan harga dollar AS dikhawatirkan berpengaruh terhadap harga produk di daerah meningkat. Misalnya harga kadelai sebagai bahan baku pembuatan tahu tempe. Bahkan sampai saat ini kedelai di Indonesia masih diimpor.

Firmansyah mengamati, pelemahan rupiah oleh dollar AS sebagaimana yang tercermin grafik data Refinitif beberapa waktu terakhir tidak akan separah tahun 1998, saat krisis moneter melanda Indonesia.

BACA JUGA: Pengamat Respon Positif Kebijakan Subsidi Minyak Goreng dari Pemerintah

Pada fase tersebut yang terjadi di Indonesia merupakan krisis multidimensi dan dipengaruhi agenda politik pergantian kekuasaan. “Namun pada saat ini, bila ada tanda-tanda masif pemutusan hubungan kerja (PHK), maka hati-hati. Apalagi saat ini yang melakukan PHK di industri tekstil,” ujarnya.

Secara nasional, kata Firmansyah, pelemahan rupiah oleh dolar AS dapat menciptakan inflasi dan terganggunya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Khususnya berkaitan jatuh tempo bayar hutang. Nilai bayarnya akan lebih besar karena kurs rupiah yang melemah.

“Dengan adanya penguatan dolar terhadap rupiah, maka secara nasional Bank Indonesia akan gunakan cadangan devisa untuk stabilkan rupiah,” ujar Firmansyah.

Solusi lain kata dia, pemerintah harus fokus pada kegiatan produksi yang berorientasi ekspor, sehingga bisa manfaatkan kelemahan rupiah.

Perkembangan harga dolar AS pada Kamis (27/6/2024).

Meskipun rupiah berhasil keluar dari zona Rp16.400/US$ pada penutupan, Senin (24/6/2024) lalu sebesar 0,33% ke angka Rp16.390/US$, rupiah kembali merana pada Rabu, 26 Juni 2024 di tengah indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY yang kembali terapresiasi. Per pukul 15:31 WIB, indeks dolar naik 0,17% menjadi 105,782.

BACA JUGA: Siapkan Masa Depan Anak dengan Jaminan Asuransi Pendidikan

Tantangan nilai tukar rupiah masih terus hadir khususnya setelah The Conference Board menunjukkan bahwa Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) AS sedikit mengalami penurunan menjadi 100,4 pada Juni 2024 dari 101,3 pada Mei 2024.

Sebelumnya, Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky mengingatkan, ancaman lonjakan harga pangan yang dapat terjadi karena fenomena alam La Nina mempengaruhi hasil panen. Sementara kenaikan harga energi bisa disebabkan pelemahan nilai tukar rupiah.

“Di samping itu pangan dan energi kita kan masih bergantung dengan impor, sehingga yang harus diwaspadai adalah potensi kenaikan impornya,” ujar Riefky dikutip, Selasa (25/6/2024).

Riefky menyarankan pemerintah menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil. Karena jika rupiah terus melemah, maka potensi inflasi impor akan meningkat, kemudian memberi tekanan inflasi dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga diimbau terus menjaga ketersediaan pasokan pangan domestik dan belajar dari pengalaman terjadinya dampak dari fenomena el nino beberapa waktu lalu. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait