Sering dapat Cibiran, Leni Buktikan jadi Calon Wisudawati Terbaik, Skripsi tanpa Revisi

Sempat Tertatih Tatih Melawan Rasa Minder dan Kendala Biaya, Leni Marlina Buktikan diri Mampu Raih Cum Laude.

Mata wanita berjilbab hitam yang dipadu jas merah marun itu berkaca-kaca. Sesekali dia sesenggukan dan terbata-bata menceritakan masa lalunya. Temannya yang duduk di samping bersetelan seragam yang sama, berupaya menyeka air matanya dan menenangkannya.

Dia adalah Leni Marlina, mahasiswa tingkat akhir S1 PGSD Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Kependidikan Taman Siswa (STKIP Tamsis) Bima yang dikukuhkan sebagai sarjana dalam prosesi yudisium yang digelar pada Jumat, 6 Agustus 2021 siang. Leni adalah salah satu peserta yudisium terbaik dengan Indeks Pretasi Komulatif (IPK) 3,87 atau Cum Laude (dengan pujian). Skripsinya berjudul Pengembangan LKS Berbasis Mind Mapping untuk Meningkatkan Kemampuan Kritis Siswa, tanpa revisi. Dia diuji oleh dosen tamu, duo doktor, Rosmiati dari STKIP Bima dan Ikhlas Hasan dari Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima.

Atas pretasinya itu, Leni Marlina juga mendapat pujian dari Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Ibnu Khaldun.

Hal yang paling menohok bagi Leni Marlina, kisah perjalanan awalnya memasuki bangku kampus. Banyak cibiran yang harus dia terima, baik dari sejumlah warga di kampungnya di Desa Rupe, Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima maupun dari teman kuliahnya. Tak ayal, wanita kelahiran Rupe, 8 Juni 1996 silam ini, harus melawan rasa mindernya dalam hati.

“Banyak yang mencibir saya, menertawakan saya. Tapi saya tetap berupaya kuatkan hati untuk kuliah. Walaupun dalam hati saya sulit melawan rasa malu karena dibully,” ujar Leni yang berupaya menahan isak.

Pernah gagal membina rumah tanggal pada usia dini membuat alumnus MAN 1 Bima pernah mengemas mimpinya duduk di bangku perguruan tinggi. Apalagi ekonomi keluarganya serba pas-pasan. Ibunya hanyalah guru non-PNS di SDN Sambali Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima, sedangkan bapak kandungnya telah lama meninggal, saat umurnya satu tahun. Namun demikian, Leni Marlina bersyukur bisa memiliki bapak sambung yang berprofesi sebagai petani.

“Cita-cita saya dari kecil memang mau jadi guru. Tapi sempat tertunda karena nikah, kemudian pisah dengan suami karena masalah ekonomi. Saya terinspirasi jadi guru, karena lihat dedikasi dan kegigihan mama yang jadi guru, walaupun puluhan tahun jadi guru, belum PNS. Mama pernah menasehati untuk memilih profesi bermanfaat bagi orang lain, menjadi guru atau tenaga kesehatan,” ujar sulung dari tiga bersaudara ini.

BACA JUGA:  Gerakan Masyarakat Sadar Literasi Diluncurkan, Ketua STKIP Tamsis Ingatkan Pentingnya Kolaborasi

Setelah menyelesaikan kuliah Strata 1, Leni belum memikirkan untuk melanjutkan studi ke jenjang magister, walaupun termasuk peserta yudisium terbaik. Dia bertekad untuk membantu meringankan beban orang tuanya, terutama membantu biaya kuliah dua adiknya, yang kuliah pada Jurusan S1 Keperawatan di Makassar dan adik bungsunya yang baru diterima sebagai mahasiswa baru di STKIP Taman Siswa Bima.

“Belum ada pikiran untuk lanjut S-2. Setiap pulang kampung di sela kuliah, saya kerja bantu orang tua di ladang dan pas waktu libur seperti libur puasa, saya biasa sambil kerja di toko di pasar bawah di Kota Bima,” ujarnya.

Walaupun upah yang diperoleh dari menjaga toko tidak banyak, hanya Rp1 juta per bulan, Leni bersyukur karena uang itu dapat dia gunakan untuk membayar sewa bulanan kamar kosnya di Kota Bima dan dia gunakan untuk membayar kuliah. Sejak bercerai dengan suaminya, dia memutuskan bekerja mencari uang dengan menjaga toko, termasuk ikut membantu bosnya membawa kanvas barang di sejumlah titik di Kota Bima. Dia kemudian  memberanikan diri mendaftar kuliah di STKIP Tamsis pada tahun 2017.

“Saya melawan rasa malu dan minder dalam hati. Karena banyak yang mencibir, saya berupaya menyembunyikan status saya sempat menikah. Tapi akhirnya semua tahu status saya, termasuk teman kuliah, ada bilang sudah tua mau kuliah. Rasa malu dan minder itu membuat saya sempat down dan menjadi penghalang untuk tampil (menonjol). Bahkan mantan suami saya sempat mencari saya di kampus,” ujar Leni.

Leni bersyukur saat duduk di bangku semester II-V, dia mendapatkan beasiswa aspirasi dari kampus, sehingga dibebaskan dari biaya kuliah. Namun setelah durasi beasiswa berakhir, dia kembali harus memutar otak untuk membiayai kuliah semester akhir, termasuk kebutuhan untuk menyusun skripsi.

BACA JUGA:  Warga di Bima Mengelus Dada, Harga Ikan Meroket Tajam, ini Daftar Bapok yang Naik

“Paling saya ingat untuk biaya penggandaan skripsi, saya sempat keteteran. Karena print skripsi juga di warnet. Tapi saya pernah bantu ketik skripsi 3-4 orang teman saya. Setiap teman ada yang kasi Rp50 ribu, walaupun awalnya saya tolak, karena saya niatnya bantu. Tapi berkat itu juga sangat membantu untuk penggandaan skripsi saya,” ujar Leni.

Kesulitan yang dialami Leni tidak berakhir saat fase menyusun skripisi. Saat hari-hari menjelang yudisium, dia mengalami ujian. Ketika mampir salat zuhur di masjid di Desa Ngali Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, saat perjalanan dari Desa Rupe Langgudu menuju Kota Bima, handphone miliknya hilang dicuri. Tak ayal, Leni kesulitan berkomunikasi dengan dosennya yang membimbing penyusunan skripsi. Bahkan informasi tentang yudisium dia peroleh dari tetangga kosnya yang memiliki handphone.

“HP saya hilang saat mampir salat zuhur. Awalnya bingung, karena sulit komunikasi dengan dosen untuk konsultasi selesaikan skripsi. Tapi Alhamdulillah bisa dapat informasi melalui telepon tetangga kos,” ujarnya.

Meskipun berasal dari desa, prestasi Leni Marlina bukan hanya terlihat saat menempuh kuliah, ketika duduk di bangku sekolah, dia sudah meraih sejumlah prestasi, di antaranya juara III Lomba Cerdas Cermat dalam rangka Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama, mewakili MAN 1 Kota Bima dan juara II bola voli tingkat Madrasah Aliyah.

Bagi Leni, sekelumit kisah kelam gagal membina bahtera rumah tangga tak selamanya harus membuatnya merasa terbelakang. Dia kemudian menyulam semangat yang sempat tercabik-cabik masa lalu dengan pretasi.

“Saya juga ingin membuktikan pada mantan suami saya dan semua orang, bahwa saya bisa. Jangan sampai rasa malu mengekang kita sendiri. Masih banyak perempuan yang ingin kuliah, tapi tidak ada dukungan keluarga maupun dari suaminya, sehingga tumbuh perasaan malu dan minder. Tapi dukungan teman-teman, termasuk dosen sangat berarti,” ungkap Leni.

Jika tak ada aral melintang, Leni Marlina dan mahasiswa lain tingkat akhir SKTIP Taman Siswa yang menyelesaikan skripsi akan diwisuda pada akhir tahun 2021 ini. (US)