Dapat Beasiswa Full Selama Kuliah, Calon Wisudawati ini Raih Juara II Nasional Kompetisi Menulis

Rusdayanti Bersama Seniornya di KOHATI PB HMI.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Quotes kolomnis dan sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer itu sepertinya menjadi spirit bagi wanita kelahiran Padolo, 7 Maret 1999 silam ini. Sejak kecil dia sudah hobi menulis apa saja. Bahkan atas kepiwaiannya meraingkai kata-kata, hasil membaca berbagai karya sastra yang dia mulai secara otodidak, mengantarnya meraih juara 2 event nasional menulis yang diselenggarakan lembaga di Probolinggo Jawa Timur.

Dua tulisan terbaiknya masuk dalam buku bersama karya sejumlah penulis lain, dalam kompilasi bertajuk Setumpuk Diksi yang Hilang dan Kisah di Kala Sekolah. Ya, menulis adalah hobi yang telah lama digeluti Rusdayanti. Maka tak pelak, kanvas maya di akun facebooknya dipenuhi tulisan tentang opini singkat, puisi dan jawaban atas otokritik yang disuarakan mahasiswa. 

“Saya suka menulis dan alhamdulillah sekarang masih aktif dan sedang menyelesaikan dua buku karya solo, doakan semoga cepat selesai dan diterbitkan. Saya sering mengikuti event kepenulisan dan sudah mempunyai dua buku bersama penulis lainnya. Pernah mendapat peringkat kedua dan penulis terbaik dalam event menulis cerpen dan puisi,” ujar wanita yang baru saja dikukuhkan sebagai peserta yudisium terbaik angkatan XV STKIP Taman Siswa Bima ini, Jumat (6/8/2021) lalu itu.

Beberapa tulisan yang ditorehkan alumnus SMAN 1 Woha tahun 2017 ini dalam kanvas maya, di antaranya pemberdayaan perempuan melalui pembelajaran literasi. Di mana peran perempuan menurutnya strategis, bercermin dari tokoh-tokoh besar perempuan seperti RA Kartini dan Jessica, seorang perempuan muda memperjuangkan kelestarian lingkungan di Amerika Serikat.

“Berbicara tentang perempuan, banyak sekali paradigma-paradigma masyarakat yang coba menurunkan derajat dan martabat perempuan. Yakni menganggap bahwa perempuan hanya bisa terlibat dalam ranah domestik semata, seolah peran tersebut merupakan sebuah kodratnya perempuan,” katanya.

“Paradigma ini sudah menjadi pemikiran yang dibawa dari dulu hingga kini dan bahkan sudah menjadi tradisi, seolah menunjukkan bahwa perempuan hanya dalam tiga aspek yakni dapur, kasur, dan sumur,” kata wanita yang akrab disapa Rus ini.

BACA JUGA:  WhatsApp Hadapi Rententan Keluhan soal Pembaruan Kebijakan Privasi

Di luar urusan kodrat yang berbeda dengan laki-laki, Rusdayanti tak sepakat perspektif uzur, memandang wanita sebagai mahluk lemah sebagai realitas sosial. Bahkan menurutnya perempuan memiliki peran strategis terutama sebagai ibu, pendidik, serta peran dalam ranah publik dan penentuan kualitas generasi. Karena perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, sehingga perempuan membutuhkan wawasan yang luas serta kepekaan sosial yang tinggi, yang bisa diperoleh perempuan dari kegiatan membaca dan menulis.

Sejak lama, bungsu dari dua bersaudara ini sudah bertekad menempuh pendidikan tinggi atau duduk di bangku kampus. Namun tekad itu pernah bertarah,manakala dia harus dihadapkan kenyataan gagal mendapatkan beasiswa kampus impiannya di luar Bima.

“Karena sadar akan perekonomian keluarga yang terbatas, akhirnya saya kecilkan niat untuk kuliah dan bekerja saja. Namum takdir membawa saya masuk dan menjadi bagian dari STKIP Taman Siswa Bima. Saya mendapat kesempatan kuliah dengan beasiswa full sampai akhir dari STKIP Tamsis. Dari situ saya bertekad untuk menjadi yang terbaik,” cerita anak pasangan suami istri Nuriani dan Iwan Sukriana ini.

Menurut Rusdayanti, banyak faktor yang memengaruhi orang untuk meraih kesuksesan. Yaitu kejujuran (fairness), kedisiplinan,mengelola hukum sosial,kerja keras, produktif dan mencintai pekerjaan. Syarat-syarat kesuksesan tersebut terpatri dalam hatinya, sehingga dia pun bertekad menempuh pendidikan tinggi di bangku kuliah secara serius. Karena banyak peluh dan air mata yang harus dia dan keluarganya keluarkan untuk dapat berseragam almamater kampus.

“Banyak sekali suka duka yang sebelum dan sesudah menjadi mahasiswa. Sembari kuliah, saya juga berwirausaha. Dulu pernah berjualan nasi bungkus dan salome tumis di kampus. Namun sekarang fokus berjualan online,” ujarnya.

Di tengah kesibukan membantu meringankan beban orang tua dan rutinitas kuliah, sejak awal masuk kampus, Rusdayanti aktif dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan kampus STKIP Taman Siswa Bima dan aktif dalam organisasi internal dan eksternal seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan korps Hijau-Hitam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Beberapa kegiatan organisasi yang diikutinya, di antaranya menyelesaikan latihan khusus Kohati (LKK) yang diselenggarakan HMI Cabang Mataram. Dia juga ikut aktif pergerakan menyorot kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap kepentingan publik, termasuk menyuarakannya melalui tulisan.

BACA JUGA:  Soliditas Bhabinkamtibmas dan Babinsa Brang Biji Antar Jemput Lansia untuk Divaksin

“Awal masuk kuliah saya mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh kampus serta aktif dalam organisasi internal dan eksternal,” ujarnya.

Rusdayanti Bersama Anggota KOHATI lainnya saat LKK di Mataram.

Di balik kesibukannya sebagai aktivis HMI, kesibukan menulis dan menawarkan berbabagai barang dagangan di lapak media sosial facebook, ternyata Rusdayanti memiliki prestasi akademik yang membanggakan, di antaranya sebagai anggota debater Pra-NUDC yang digelar STKIP Tamsis. Selain itu, dia aktif sebagai MC berbagai kegiatan internal kampus dan selama tiga tahun menjadi anggota paduan suara (Padura) STKIP Tamsis. Puncaknya menjadi dirigen Padura saat acara wisuda.

“Pernah menjadi Korlap Ospek 2019 dan pernah mencalonkan diri menjadi kandidat Ketua BEM 2020,” ujarnya.

Tak hanya menjadi peserta yudisium dan kandidat wisudawan terbaik Prodi S1 Bahasa Inggris, Rusdayanti juga menjadi mahasiswa pertama dan tercepat yang menyelesikan skripsi untuk yudisium angkatan XV STKIP Tamsis. Skripsinya berjudul The Analysis of Verbal and Nonverbal comminication in English Classroom Interaction of  SMAS Kae Woha. Namun di balik itu, ada sekelumit cerita berkesan baginya, terutama beberapa hari sebelum sidang penetapan peserta yudisium.

“Tantangan (saya rasakan) saat menyusun skripsi, pada saat itu kesulitan laptop. Jadi harus pinjam laptop teman. Namum alhamdulillah bisa terselesaikan dengan cepat,” ujarnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dan menunggu jadwal wisuda, yang terbesit dalam pikiran Rusdayanti kini bagaimana mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang S2. [US]