Nestapa Maryati, Warga Bajo Soromandi yang Rumah dan Ternaknya Diseret Banjir

Perabotan milik Maryati yang terseret banjir bersama rumah panggungnya ditemukan nelayan sekitar Pulau Kambing di Teluk Bima. Meski sempat dimintai tebusan, Maryati berhasil mendapatkan kembali kulkas miliknya yang sempat hanyut setelah dimediasi anggota BPD Bajo Kecamatan Soromandi.
Perabotan milik Maryati yang terseret banjir bersama rumah panggungnya ditemukan nelayan sekitar Pulau Kambing di Teluk Bima. Meski sempat dimintai tebusan, Maryati berhasil mendapatkan kembali kulkas miliknya yang sempat hanyut setelah dimediasi anggota BPD Bajo Kecamatan Soromandi.

Siang itu langit yang awalnya mencarak tiba-tiba menggelegar. Tak lama hujan lebat disertai angin kencang dan petir melanda perkampungan pesisir di wilayah Kabupaten Bima bagian barat itu. Guyuran hujan lebat siang itu menjadi awal nestapa bagi Maryati (40 tahun) warga Dusun Bajo Selatan, Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Dia tak menyangka air bah yang meluap dari aliran sungai akan menyapu isi rumah dan ternak miliknya. Padahal selama ini luapan banjir tidak pernah menggenangi rumah warga di kampungnya. Banjir Minggu (31/12/2023) siang juga menyeret rumah panggung enam tiang miliknya.

Bacaan Lainnya

“Saya tidak pernah sangka bakal terjadi sebesar ini sampai hanyutkan isi rumah dan kambing saya,” cerita Maryati saat ditemui Minggu (31/12/2023).

Akibat kejadian itu, harta milik Maryati banyak yang hanyut disapu banjir. Tidak terkecuali emas 56 gram dan uang tunai Rp4 juta serta sejumlah barang elektronik miliknya. Tiga ekor kambing miliknya juga diseret banjir.

BACA JUGA: Disapu Air Bah, Mobil Pengangkut Jagung Terseret 1 Kilometer

Meski demikian, dua dari tiga ekor kambingnya yang sempat hanyut terseret banjir dapat diselamatkan warga. Warga juga menemukan sebagian kecil perabotan milik Maryati di antaranya kulkas yang hanyut oleh banjir saat mengapung di laut. Ironis, setelah kulkas miliknya ditemukan di sekitar Pulau Kambing, dia malah diminta untuk menebus dengan biaya Rp300 ribu. Namun permintaan tebusan kepada dia batal setelah berhasil dimediasi oleh anggota Badan Permusyawaratan Desa Bajo Kecamatan Soromandi, Herman.

Maryati. Foto Safitri/ Berita11.com.

“Saya masih bingung setelah kejadian ini bagaimana,” katanya.

Maryati mengaku, hingga Minggu (31/12/2023) kerugian maupun kondisi yang dialaminya belum terdata oleh petugas pemerintah. Bahkan belum ada petugas pemerintah yang mengunjungi maupun menanyakan kondisi dirinya pasca rumah dan perabotan rumahnya hanyut terseret banjir.

Maryati memiliki dua orang anak. Anak pertamanya yang lahir tahun 2000 silam mengadu nasib dan bekerja di perusahaan penyedia internet, sedangkan anak keduanya merantau di Kalimatan. Luapan banjir Minggu sore juga merendam dan menyeret bagian dapur dan WC rumah kedua orang tuanya, Jaladin (65 tahun) dan Siti Nurbaya (55 tahun) yang merupakan pensiunan Tata Usaha Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Soromandi Kabupaten Bima.

BACA JUGA: Tapak Tilas Anak Petani, Dulu pernah jadi Buruh, kini Sukses Duduk di Kursi Legislatif

“Banjir datang tiba-tiba sehingga tidak ada yang bisa diselamatkan,” ujar Maryati menahan sedih.

Lantara tak lagi memiliki tempat tinggal setelah terseret banjir, Maryati terpaksa menginap di rumah kedua orang tuanya yang tak jauh dari rumah panggung miliknya yang telah terseret banjir. Dia bersyukur rumah kedua orang tuanya tidak ikut terseret banjir walaupun bagian dapur dan WC rumah kedua orang tuanya juga terimbas luapan banjir.

Selain menghanyutkan rumah panggung milik Maryati serta isinya, luapan banjir di wilayah Kecamatan Soromandi juga menggenangi ruas jalan di Desa Lewintana Kecamatan Soromandi dan sebagian ruas jalan di Desa Bajo Kecamatan Soromandi. Banjir juga menggenangi tanaman padi milik warga. Beruntung hujan lebat tidak berlangsung lama, sehingga dampaknya tidak meluas. [Safitri]

Pos terkait