Warga di Bima Mengelus Dada, Harga Ikan Meroket Tajam, ini Daftar Bapok yang Naik

Aktivitas Pedagang Ikan di Pasar Tradisional Sila, Kabupaten Bima. Foto US/ Berita11.com.

Bima, Berita11.com— Berbagai pembatasan mobilitas masyarakat saat pandemic Covid-19, seperti operasi vaksinasi membuat ekonomi sebagian masyarakat terpukul. Pada sisi lain, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih sebagai konsekuensi harga bahan pokok (Bapok) yang mulai melambung.

Kebutuhan pokok yang paling mencolok meningkat di antaranya harga ikan seperti yang dijual di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebulan terakhir harga ikan bandeng ukuran sedang misalnya, naik drastis dari Rp15.000/ ekor menjadi Rp25.000 per ekor. Kondisi ini dikeluhkan sejumlah warga.

Salah satu warga Kabupaten Bima, Siti Suharni menuturkan, harga ikan seperti jenis bandeng naik tajam karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat dengan nelayan, sementara pada sisi lain permintaan masyarakat masih meningkat, sehingga supply and demand memegang peranan harga Bapok.

Tidak hanya harga ikan, harga bahan pokok lain seperti minyak goreng yang dijual pada sejumlah pasar tradisional di Bima juga melambung, yang juga kemungkinan dipengaruhi gangguan transportasi atau distribusi. Dia menduga hal itu juga terjadi karena berbagai pembatasan sosial, sementara pada sisi lain permintaan dalam masyarakat tetap stabil bahkan meningkat.  Saat operasi vaksinasi, sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas sehingga berpengaruh terhadap kemampuan ekonomi masyarakat.

“Harga bandeng sekarang itu rata-rata Rp25.000 per ekor. Itu masih ukuran sedang, belum ukuran besar atau jumbo. Bahkan ada yang dijual di atas harga tersebut,” ujar Suharni di Bima, Kamis (30/9/2021).

Aktivitas Pedagang Daging Merah di Pasar Sila Kabupten Bima. Foto US/ Berita11.com

Salah satu pedagang makanan ini mengaku, karena bahan dasar makanan yang dijual di pasar melambung, dia terpaksa memutar otak untuk menjual nasi dan bebagai jenis makanan jadi. “Beberapa jenis barang naik, seperti minyak goreng juga naik harganya. Bawang merah juga naik sudah sebulanan. Untung-untung harga daging dan telur serta ayam pedaging masih stabil,” ujarnya.

Dikatakan dia, harga beras kualitas premium seperti beras 64 di wilayah Kabupaten Bima masih stabil karena masih dipengaruhi produksi petani meningkat, di mana sejak lama Bima dikenal sebagai salahsatu sentra produksi beras, dalam menjaga swasembada pangan di Nusa Tenggara Barat.

Pada tingkat heler dan pengepul, harga beras jenis 64 yang belum bersih, masih dijual dalam kisaran Rp8.000- Rp8.500/ Kg, sedangkan di pasar Rp9.000. Sebagian pedagang seperti di Pasar Sila Kabupaten Bima ada juga yang menjual beras hingga Rp11.000/ Kg.

BACA JUGA:  Resort di Gili Terawangan Dilahap Jago Merah

“Syukur-syukur harga beras masih stabil. Bahkan di pengepul masih dijual Rp8.500 yang belum dibersihkan. Kalau sudah bersih paling murah Rp9.000/ Kg,” ujarnya.

Warga lainnya, Nurmi mengungkapkan, akibat harga jual ikan yang mahal di wilayah Kabuapten Bima, sejumlah warga seperti kerabatnya terpaksa membatasi mengunsumsi ikan. Tidak hanya jenis bandeng, harga ikan tongkol dan berbagai jenis lain juga naik.

“Harga tongkol di wilayah pesisir saja dijual hingga Rp10.000 per ekor kalau untuk ukuran yang sedang, apalagi harga cumi dan jenis kakap, lebih mahal,” ujarnya.

Dia berharap, pemerintah daerah melalui OPD teknis terkait meggelar operasi pasar secara berkala sebagai intervensi agar harga Bapok seperti minyak goreng tetap stabil. “Harga gula pasir juga kadang di atas Rp14 ribu atau sampai Rp15.000/ Kg,” ujarnya.

Pedagang Sembako di pasar pagi Sila Kabupaten Bima, Siti Rahma menyebutkan, umumnya harga komiditi lokal seperti sayur di pasar setempat masih stabil. Namun beberapa bahan pokok lain seperti minyak goreng curah dan minyak goreng pabrikan meningkat sejak dua pekan terakhir.

Dikatakan dia, harga minyak goreng curah Rp28 ribu/ botol, naik dari sebelumnya biasanya Rp20 ribu, minyak gorek merek Bimoli naik Rp1.000 per liter dari sebelumnya Rp16.000/ liter. “Jenis lain yang naik harga kacang tanah naik dari Rp18 ribu per kilogram menjadi Rp23 ribu per kilogram,” ujar dia.

Transaksi Pedagang dan Pembeli di Pasar Tradisional Sila Kabupaten Bima. Foto US/ Berita11.com.

Sementara pedagang lain di Pasar Sila, Fitriati mengungkapkan, umumnya harga berbagai jenis sayur di pasar setempat masih stabil atau sama, sebagaian fluktuatif. Hanya beberapa komoditi impor yang mengalami kenaikan harga seperti wortel impor semula Rp25.000/ Kg, naik menjadi Rp30 ribu/ Kg.

“Harga bawang putih juga naik dari sebelumnya Rp25.000 per kilogram menjadi Rp25 ribu, sedangkan kalau wortel lokal turun menjadi Rp15 ribu/ Kg dari sebelumnya Rp20 ribu,”ujarnya.

Sementara itu cabai keriting dijual Rp15 Ribu hingga Rp20 ribu/ Kg, kentang Rp22 ribu/ Kg, kol Rp10 ribu/ Kg.

BACA JUGA:  Hati-hati buat yang Koleksi Sepeda Motor Curian, Dua Pria ini Ditangkap Tim Puma

Pada bagian lain, pedagang daging di pasar setempat, Rosmah mengungkap, harga daging yang dijual dirinya masih berkisar Rp120 ribu per kilogram dan belum ada rencana menaikan harga daging tersebut.

Menurut Rosmah, harga daging hanya pernah naik hingga Rp130 ribu pada bulan suci Ramadan saat permintaan dan kebutuhan masyarakat meningkat. Setelah itu permintaan kembali lusuh, karena juga dipengaruhi kemampuan ekonomi masyarakat.

“Tidak ada rencana naik, untuk harga sekarang saja pembeli berkurang. Mungkin karena saat ini rata-rata masyarakat lagi susah karena (pandemic) Covid-19,” ujar Rosmah.

Pedagang ikan di Pasar Sila Kabupaten Bima, Asni mengungkapkan, harga bandeng beberapa pekan terakhir naik tajam karena tangkapan nelayan berkurang setelah gangguan cuaca buruk, sehingga praktis permintaan terhadap bandeng meningkat.

“Semuanya apa-apa naik sekarang, sehingga mau tidak mau harga bandeng juga naik. Sekarang nelayan jarang dapat ikan saat musim cuaca buruk gelombang tinggi,” ujarnya.

Sebagaimana hasil pencatatan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bima yang juga merupakan acuan inflasi di Kabupaten Bima, tercatat inflasi 0,02 persen, dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 106,11 pada Juli 2021 menjadi 106,13 pada Agustus 2021.

Infografik Harga Sembako yang Naik.

Inflasi tersebut sejalan dengan inflasi nasional 0,03 persen pada Agustus 2021. Laju inflasi Kota Bima tahun kalender Agustus 2021 sebesar 1,23 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun kalender Agustus 2020 sebesar 0,16 persen. Adapun laju inflasi “tahun ke tahun” (YoY) Agustus 2021 sebesar 1,72 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi YoY  Agustus 2020 sebesar 0,99persen.harga berbagai komoditas yang memiliki bobot besar secara umum menunjukkan kenaikan harga.

Tujuh kelompok komoditas tercatat mengalami inflasi, yaitu rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,22 persen, kesehatan sebesar 0,21 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,18 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 0,17 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,11 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,03 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,03 persen. Sementara deflasi terjadi pada kelompok komoditas transportasi sebesar 0,21 persen. [B-19]