IRT di Bima Curhat Anaknya Meninggal karena Telat Ditangani RSUD

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Bima. Foto MR/ Berita11.com.
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Bima. Foto MR/ Berita11.com.

Kota Bima, Berita11.com— Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Desa Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Hesti, menumpahkan curahan hatinya di kanvas maya facebook pengalaman getirnya saat bayinya, Arshaka Virendra Shafwan yang sedang sakit dirujuk di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima.

Menurutnya, bayi malangnya yang baru berusia 41 hari itu perlahan merenggang nyawa hingga meninggal dunia di atas ambulance Puskesmas Monta Kabupaten Bima setelah tiba di halaman RSUD Bima, Jumat (19/1/2023) lalu.

Bacaan Lainnya

Dia mengaku, saat tiba di RSUD Bima, bidan yang ikut mendampinginya telah menunjukan surat rujukan pasien kepada petugas RSUD Bima. Namun pihak RSUD setempat menjawab tidak dapat menerima pasien baru karena stok oksigen dan ranjang bagi pasien di rumah sakit setempat sedang kosong. Hesti pun mengaku heran stok oksigen di rumah sakit setempat kosong, sehingga anaknya yang sedang kritis tidak bisa dirawat di RSUD setempat.

Pengalamannya itu dia tumpahkan melalui kanvas maya di beranda account facebooknya Hesti Rbn, menggunakan bahasa Bima, Selasa (7/2/2023) lalu. Kemudian viral dan dibanjiri puluhan komentar. Hingga Jumat (10/2/2023) telah ditanggapi dengan tanda emo sedih dan like (suka) 1.073 account. Curhat IRT tersebut juga dibagikan berkali kali termasuk melalui layanan pesan whatshapp.

BACA JUGA: Nestapa Hesti, Ibu dari Bayi yang Meninggal di Halaman RSUD Bima

Hesti mengaku, sebelum dirujuk ke RSUD Bima, anak keduanya itu mengalami sakit karena beberapa hari tidak buang air besar (BAB). Dia kemudian berinisiatif membaya bayinya itu ke Puskesmas Monta Kabupaten Bima, kemudian dirujuk ke RSUD Bima.

Dia mengungkapkan, setelah menunggu konfirmasi dari pihak RSUD Bima yang berlangsung pelik, bidan dari Puskesmas Monta Kabupaten Bima yang mendampinginya menyuruh dia membawa bayi malangnya itu kembali mobil ambulan yang digunakan saat proses rujukan dari Puskemas Monta ke RSUD Bima.

Saat oksigen ambulan akan kembali dipasang pada bayinya, Hesti mengaku harus menerima kenyataan getir. Karena saat itu menjadi detik-detik akhir bayinya mengembuskan napas terakhir. Seketika hatinya pun remuk, karena pertolongan pertama yang diharapkan untuk anaknya sirna seketika.

“Duniaku gelap dan hatiku hancur, keluarga yang hadir saat itu merasa sedih, termasuk juga suamiku. Saya berteriak dan marah juga kecewa dengan pelayanan pihak rumah sakit,” katanya, Jumat (10/2/2023).

Hesti pun menyinggung bahwa dia dan anggota keluarganya merupakan peserta BPJS Kesehatan gratis (penerima bantuan iuran/PBI) dari pemerintah, yang biasanya tidak mendapat prioritas pelayanan.

BACA JUGA: Perbuatan Zina dapat Mengundang Bala Bencana Gempa Bumi dan Banjir Bandang

Tokoh masyarakat Desa Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima, Suharlin membenarkan peristiwa yang dialami IRT di desa setempat tersebut. Ibu itu harus merelakan anaknya meregang nyawa hingga meninggal dunia karena terlambat mendapatkan pelayanan pihak rumah sakit. Peristiwa itu terjadi Januari 2023 lalu.

“Sebenarnya kasus seperti ini sudah klise terjadi di RSUD Bima, karena masalah stok oksigen dan daya tampung rumah sakit yang terbatas, terutama saat terjadi lonjakan pasien DBD,” kata pria yang juga politisi dan Bacaleg Partai Gerindra Kabupaten Bima itu.

Suharlin mengaku prihatin dengan kasus kematian pasien yang dirujuk ke RSUD Bima, setelah ditolak karena masalah keterbatasan oksigen dan ranjang. Karena kasus seperti itu sudah sering terjadi di RSUD Bima.

“Mestinya masalah oksigen dan masalah ranjang atau fasilitas perawatan yang terbatas itu segera diatasi,” katanya.

Suharlin juga menyorot standar prosedur penanganan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bima, karena keterbatasan fasilitas oksigen dan jumlah ranjang untuk pasien, pihak Puskesmas atau PKM yang mengeluarkan surat rujukan pasien ke RSUD Bima harus berkoordinasi terlebih dahulu melalui telepon dengan RSUD Bima. Padahal kata dia, pelayanan kesehatan harus memadai.

Pihak RSUD Bima sedang dikonfirmasi berkaitan curhat IRT yang anaknya meninggal setelah tidak mendapatkan pelayanan IGD rumah sakit setempat. [B-22/B-19]

Pos terkait