Harga Beras di Pasar Sila kini Tembus Rp13.000 per Kg, Penjual Nasi Bingung

Beras ketan yang dijual pedagang di Pasar Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Foto US/ Berita11.com.

Bima, Berita11.com— Harga beras premium (64) yang dijual pedagang di pasar tradisional Pasar Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, kembali naik. Jika pekan lalu harga beras masih dijual Rp12.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp13.000 per kilogram.

Pedagang beras di Pasar Sila, Junari menuturkan, harga beras premium dan beras medium yang dijual pedagang di pasar setempat rata-rata naik. Beras premium umumnya dijual hingga Rp13.000.

Bacaan Lainnya

“Rata-rata sudah naik karena di tempat ambil beras juga sudah naik,” ujar Junari di Pasar Sila, Selasa (5/9/2023).

Pedagang nasi kuning di Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima, Suharni mengatakan, kenaikan harga beras merugikan sejumlah pedagang kecil seperti dirinya, karena tidak mungkin para pedagang bisa menaikan harga nasi bungkus yang dijual.

“Kaget ternyata harga beras sudah naik jadi Rp13.000 per kilogram. Kalau kita naikan nasi bungkus serba dilema, nanti nggak ada yang beli,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah menyiapkan upaya strategis untuk mengstabilkan harga beras premium dan harga beras medium. “Kalau pakai beras medium itu kurang bisa diterima oleh para pembeli nasi. Lagi juga harga beras medium juga ikut naik,” ujarnya.

Pedagang nasi lainnya di Kabupaten Bima, Aminah menungkapkan hal yang sama. Dia berharap pemerintah segera menyiapkan upaya cepat untuk menstabilisasi harga beras. Jika tidak daya beli masyarakat akan terus tergerus sehingga mempengaruhi ekonomi di daerah.

Menurutnya, masyarakat kecil di daerah sebagaimana di Kabupaten Bima dan daerah sekitar sangat terdampak dengan kondisi ekonomi bangsa yang saat ini serba sulit. Selain harga beras yang naik jadi Rp13 ribu per kilogram, harga bahan pokok dan barang strategis lain juga naik seperti elpiji yang umumnya masih dijual di atas harga eceran tertinggi.

“Sekarang ini kan serba mahal, serba naik. Kemarin minyak pertamax naik, tahun lalu bensin (pertalite) yang naik, kemudian harga minyak goreng pernah naik sampai Rp25 ribu per liter. Turunnya sekarang Cuma Rp20 ribu per liter, padahal sebelumnya hanya Rp17 ribu,” ujar Aminah di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.

Dia berharap pemerintah melakukan kajian mendalam dan memerhatikan kondisi masyarakat sebelum menaikan harga barang subisidi maupun nonsubsidi yang dibutuhkan masyarakat. Demikian juga harga bahan pokok dan barang strategis serta berbagai layanan umum.

BACA JUGA: Digulung Ombak di Pantai Lere Parado, Warga Sumba Tewas

Selain harga beras yang dijual Rp13.000 per kilogram, harga telur ayam ras di Pasar Sila juga masih dijual Rp65.000 – Rp70.000 per tray atau Rp2.500 per butir, kacang tanah Rp28 ribu/ kg, harga kemiri Rp60 ribu per kilogram, minyak goreng subsidi Minyak Kita Rp16.000 per liter, gula pasir Rp15 ribu per kg.

Sementara itu, harga bawang putih Rp40 ribu/ kg, kopi biji lokal Rp45 ribu per kg, bawang merah Rp20 ribu per kg. Harga tomat Rp5.000 per kg, wortel super dan kentang impor rata-rata masih dijual oleh pedagang dengan harga Rp30 ribu per kg, sedangkan wortel lokal dijual Rp20 ribu per kg. Harga merica biji Rp90 ribu per kilogram.

Harga ayam broiler berkisar Rp60 ribu hingga Rp75 ribu per ekor, dan harga daging Rp120 ribu per kg.

Rata-Rata Harga Beras Medium dan Premium secara Nasional Naik

Mengutip Panel Harga Badan Pangan Nasional, rata-rata harga beras medium di DKI Jakarta pada Selasa (5/9/2023) sudah tembus hingga Rp11.480 per kilogram atau sekitar 5,3 persen lebih tinggi dari HET beras Zona I Rp10.900 per kg.

Pergerakan harga beras medium yang menjadi konsentrasi pemerintah dalam mengintervensi harga memang terus mengalami kenaikan beberapa waktu terakhir, di mana, musim kemarau ekstrem El Nino menjadi salah satu penyebab utama lantaran berdampak pada penurunan produksi.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan kekhawatiran akan potensi terjadinya krisis beras. Ia meminta agar dilakukan percepatan penguatan pasokan demi menghindari terjadinya kepanikan di tengah masyarakat.

“Potensi ke arah sana (krisis beras) ada. Pekan lalu kami sudah mengingatkan pemerintah,” kata Reynaldi dikutip dari Republika.co.id, Selasa (5/9/2023).

Seperti diketahui, Bulog mengeklaim memiliki stok beras nasional sebanyak 1,6 juta ton. Pasokan cadangan itu diyakini mampu menjadi penyangga pasokan hingga akhir tahun ini sementara proses importasi beras terus berjalan.

Namun, Reynaldi menilai stok beras yang dimiliki secara nasional masih belum cukup dalam waktu empat bulan ke depan. Meski Indonesia belum masuk pada fase darurat beras, namun tak menutup kemungkinan akan terjadi.

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR, Senin (4/9/2023), menyampaikan, kenaikan harga beras juga tidak lepas dari meningkatnya harga gabah dari tingkat petani.

Ia menyampaikan, harga Gabah Kering Panen (GKP) pada bulan Agustus mengalami kenaikan menjadi Rp5.833 per kg sementara harga Gabah Kering Giling (GKG) mencapai Rp6.760 per kg.

“Sebagai update ada yang sudah di atas Rp7.000 per kg untuk GKP,” ujar dia.

BACA JUGA: Suami Istri di Mataram Ditangkap karena jadi Pengedar Narkoba

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat andil inflasi dari beras selama Agustus 2023 sebesar 0,05 persen. Secara kumulatif sepanjang Januari-Agustus 2023 beras telah mengalami inflasi sebesar 7,99 persen.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengungkap saat ini harga gabah dan beras naik signifikan. Harga Gabah Kering Panen (GKP) naik menjadi lebih dari Rp 7.000 per kilogram (kg).

“Perkembangan harga gabah menurut data BPS kenaikan GKP Rp5.833 per kg, Rp6.760 per kg, dan pada bulan Agustus lebih tinggi lagi dari Juli GKP Rp5.829 per kg. Hari ini sebagai update ada yang sudah di atas Rp7.000 per kg,” kata dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (4/9/2023).

Untuk kenaikan harga beras, berdasarkan paparannya harga komoditas tersebut di kelas penggilingan sudah naik menjadi Rp11.519 per kg dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 9.577 per kg. Kemudian harga di kelas grosir kini telah mencapai Rp12.266 per kg.

Harga beras di pasar atau pedagang eceran kini telah mencapai Rp13.058 per kg. Padahal berdasarkan aturan pemerintah harga eceran tertinggi (HET) beras Rp10.900 per kg untuk beras medium.

“Bulan Agustus 2023, beras mengalami inflasi sebesar 7,99% secara year to date,” ungkapnya.

Aturan terkait HET beras tertuang dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 7 Tahun 2023 tentang Harga Eceran Tertinggi Beras. Dalam Perbadan tersebut, pemerintah mengatur HET beras berdasarkan zonasi.

Untuk Zona 1 meliputi Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi, HET beras medium senilai Rp10.900 per kg sedangkan beras premium Rp13.900 per kg.

Sementara untuk Zona 2 meliputi Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan, HET beras medium sebesar Rp11.500/kg dan beras premium Rp14.400 per kg. Sedangkan zona 3 meliputi Maluku dan Papua, HET beras medium sebesar Rp11.800 per kg, dan untuk beras premium sebesar Rp14.800 per kg.

Arief pernah juga mengungkap bahwa harga beras medium saat ini sudah naik jauh di atas HET Rp10.900 per kilogram (kg). Ia mengatakan saat ini harga beras medium sudah naik ke level Rp12.000 per kg.

“Hari ini harga beras medium sulit turun karena GKP udah Rp6.700/kg jadi harga medium Rp10.900/kg itu agak susah. Sekarang beras medium angkanya di Rp12.000/kg,” katanya di Gedung DPR RI, Rabu (30/8/2023). [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait