Sempat Ditunjuk sebagai Wakasek dengan Honor Rp200 Ribu, Pria ini Malah Sukses Gaji Pekerjanya Jauh di atas UMR

Sejumlah pembeli mengantri di depan lapak salome goreng milik Kartono di Kota Bima. Foto US/ Berita11.com.
Sejumlah pembeli mengantri di depan lapak salome goreng milik Kartono di Kota Bima. Foto US/ Berita11.com.

Pepatah sebagian besar orang bahwa roda hidup selalu berputar bukanlah pernyataan yang salah. Setidaknya itulah yang tergambar dari perjalanan hidup dan usaha yang dilakoni pria 39 tahun itu. Sempat diplot sebagai wakil kepala sekolah sebuah yayasan pondok pesantren di Kota Bima, bapak lima anak itu kini sukses menggeluti usaha kuliner dan menggaji sejumlah karyawannnya hingga Rp4 juta per bulan.

Pria 39 tahun itu adalah Kartono. Dia adalah owner usaha salome goreng, sosis goreng dan telur gulung yang mangkal di sekitar KFC Kota Bima dan di depan PKU Muhammadiyah di Jalan Gajah Mada Kota Bima

Bacaan Lainnya

Sebelum sukses seperti sekarang ini, warga perumahan Tolotongga Kelurahan Jatiwangi Kecamatan Asakota Kota Bima itu, merintis usaha dari kecil. Dia sempat merantau di Sumba Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melamar pekerjaan sebagai guru setelah menikah dengan warga Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima. Namun nasib belum menuntunnya menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dia pun kembali ke kampung istrinya di Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima.

Dalam masa pencarian jatidiri dan mencoba sejumlah peluang usaha, Kartono terus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Saat masa transisi setelah wisuda, alumnus Program Studi Bahasa Inggris Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hamzawadi yang kini berubah status menjadi Universitas Hamzanwadi Lombok Timur itu kemudian hijrah ke Kota Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat. Dia juga memboyong keluarga kecilnya. Istrinya yang sempat menjadi tenaga pengajar pada salah satu yayasan (Ponpes) di Kabupaten Bima dan anak pertamanya langsung ikut hijrah bersamanya.

Saat itu, Kartono sadar peluang usaha di Bima belum terbuka untuknya. Honor istrinya yang menjadi tenaga pengajar pada salah satu yayasan pendidikan pondok pesantren di Kabupaten Bima yang mengandalkan pencairan bantuan operasional sekolah (BOS) per triwulan, hanya Rp300 ribu tak pernah mampu menutupi kebutuhan keluarga kecilnya. Apalagi untuk satu bulan.

Setelah hijrah di Kota Taliwang, Sumbawa Barat, Kartono berjualan somay dan sosis goreng keliling. Dalam sehari dia mampu meraih omzet antara Rp600 ribu hingga Rp700 ribu. Modal itu sebagian dia tabung selain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selama hijrah di Taliwang, dia juga mendapatkan sejumlah ide usaha yang menjadi modalnya untuk membuka usaha di Bima.

Setahun lebih hijrah di Kota Taliwang dan pasca istrinya melahirkan anak kedua, Kartono kemudian memutuskan kembali Kota Bima. Baginya Kota Bima tidak bisa dilepaskan dalam napas hidupnya. Dia besar dan bersekolah di Kota Bima hingga melanjutkan pendidikan pada jenjang strata satu hingga bertemu dengan istrinya Neneng Nurhasanah, teman satu kampusnya di program studi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua orang tuanya merupakan warga Sasak Tulen adalah penjual gado-gado dan penganan khas Lombok di Pasar Raya Bima di Lingkungan Bina Baru Kelurahan Tanjung Kota Bima. Hal itu jualah yang mendorongnya membuka usaha di Kota Bima.

Bermodal odong-odong kereta api bekas yang dibelinya di Taliwang Rp15 juta lebih, pada tahun 2014 Kartono kemudian membuka usaha odong-odong di Lapangan Serasuba Kota Bima dan terkadang di Lapangan Pahlawa Raba Kota Bima. Dia kemudian memboyong keluarga kecilnya di Kota Bima dengan mengontrak rumah di Lingkungan Irigasi Kelurahan Mande Kota Bima.

BACA JUGA: 12 Rumah Warga Kota Bima dan Kabupaten Bima Hangus Terbakar, ini “Manifestnya”

Hasil usaha itu cukup menjanjikan baginya, dalam sehari odong-odong miliknya mampu meraup ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Hasil usaha itu kemudian dia gunakan untuk kebutuhan keluarga dan sebagian dia gunakan untuk membeli odong-odong baru seharga Rp30 juta. Setelah memiliki dua unit odong-odong, Kartono juga memperjakan kerabat istrinya menjaga odong-odong miliknya yang dia simpan di Lapangan Serasuba dan Lapangan Pahlawan Raba. Hasil usaha tersebut dia mampu membeli sepeda motor baru secara tunai.

Saat menggeluti usaha odong-odong di Kota Bima, Kartono tidak lupa dengan usaha kuliner. Dia membantu kenalannya dari Kelurahan Melayu Kota Bima berjualan sosis goreng dan berbagai jenis makanan dari daging seharga Rp2.000 per tusuk yang disukai oleh anak-anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Saat itu, berbagai olahan daging itu dia pesan di Mataram dan sekali pesan Rp1,5 juta. Usaha yang dilakoni kenalannya itu pun semula sempat berkembang mencapai omzet Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari. Namun kenalannya itu tidak konsisten berkeliling di bawah terik. Setelah itu Kartono fokus dengan usaha odong-odong di Lapangan Serasuba Kota Bima.

Setahun lebih membuka usaha odong-odong di Lapangan Serasuba, Kartono juga memberikan ide bagi rekan satu angkatannya yang juga guru di MTs Padolo Kota Bima untuk membuka usaha yang sama di Kota Bima dengan model alat yang berbeda. Hingga kini usaha rekannya itu bertahan, di antaranya usaha istana balon di Lapangan Serasuba.

Kartono juga ikut memberdayakan bapak mertuanya dengan memberikan ide untuk membuka usaha yang sama di Lapangan Serasuba dan mengembangkan dengan varian baru, mainan kolam pancingan ikan. Hasil usaha satu unint odong-odong paling maksimal dia dapatkan Rp1,2 juta dalam satu malam terutama malam minggu dan saat ada acara keramaian di Lapangan Serasuba maupun di Amahami.

Seiring waktu, setelah usaha hiburan anak-anak seperti hiburan odong-odong di Lapangan Serasuba Kota Bima terus berkembang dan direplikasi oleh warga lain dengan berbagai jenis varian baru seperti penyewaan sepeda motor dan skooter untuk anak-anak. Kartono kemudian mencoba peruntungan pada bulan tertentu dengan membawa alat odong-odongnya di Labuan Bajo hingga Kota Bajawa Provinsi NTT. Jadwal pasar malam sudah dia dapatkan dari kenalannya di daerah sana. Upayanya tersebut sempat membuatnya menghasilkan banyak cuan, namun tak lama alat odong-odong miliknya hilang saat dititipkan kepada kenalannya di sana. Kartono kemudian kembali ke Kota Bima dan kembali mencoba peruntungan usaha kuliner.

Awalnya dia sempat kembali berjualan sosis goreng dan telur gulung keliling di Kota Bima. Namun beberapa bulan kemudian dia mendapatkan lokasi strategis tempat berjualan sekitar KFC di Kota Bima. Pada saat acara malam seperti pertandingan bola voli malam hari di Paruga Nae Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, dia membawa rombong dan jualannya hingga wilayah tersebut. Dia pun mampu meraup hingga jutaan rupiah setiap malam.

Seiring waktu, usahanya terus berkembang. Kartono pun mempekerjakan sejumlah orang, termasuk yang membantu menjaga rombong dan melayani pembeli. Harga jual sosis goreng dan salome satu plastik mika yang dia jual rata-rata Rp10 ribu, sedangkan tahu goreng salome Rp5 ribu dan telur goreng Rp5 ribu.

Dia juga merekrut pekerja yang membantu membuat adonan bakso goreng, salome goreng hingga telur gulung, sehingga praktis setiap hari tugasnya hanya memastikan mengurus mengantar dan mengambil daging penggilingan dan memastikan seluruh karyawannnya bekerja membuat adonan sesuai cita raya sebagaimana yang disukai para pelanggannya selama ini.

BACA JUGA: Didukung Kepala Daerah dan Kemhan, RSAD Dibangun di Kota Bima

Kartono juga memberdayakan sejumlah iparnya membantunya membuat adonan dan memberdayakan mahasiswa untuk menjaga rombong salome gorengnya. Salah satu pekerjanya berasal dari Mataram dan merupakan pensiunan PNS. Setiap pekerjanya dia gaji Rp3 juta hingga Rp4 juta. Usahanya laris manis dan salome goreng pelan tapi pasti dikenal luas oleh warga Kota Bima dan Kabupaten Bima, sehingga dia memiliki pembeli setia.

Sebelum Idul Fitri 1444 Hijriah/ 2023, dia harus mengeluarkan uang Rp20 juta lebih untuk gaji karyawannya. Hal itu juga seiring tingginya pembelian saat malam hari pada bulan Ramadan dan menjelang lebaran. Bahkan Kartono sampai membuka penjualan di Pasar Amahami saat ramainya pasar malam menjelang lebaran di Amahami Kota Bima. Keriuhan pasar malam menjadi ladang cuan baginya.

Dari hasil kuliner tersebut, Kartono mampu membeli beberapa petak tanah di perumahan Tolotangga Kota Bima, tak jauh dari perumahan kontrakannya. Hasil tabungannya sebagian dia gunakan untuk membangun rumah dan membeli sejumlah sepeda motor bekas untuk mendukung kegiatan usahanya dan membeli mobil minibus.

“Saya sempat ditunjuk sebagai wakil kepala sekolah di pondok. Gajinya Rp200 ribu, tapi oleh ipar yang juga kerja di sini, dia menyuruh saya agar keluar agar fokus dengan usaha. Saya yang gaji per orang Rp3 juta sampai lebih diberikan gaji Rp200 ribu,” ujar Kartono seraya berkelakar.

Setelah sempat menjadi tenaga pengajar dan wakil kepala sekolah, Kartono pun fokus mengontrol usaha kuliner miliknya. Seiring berkembangnya usaha, dia berencana membuka cabang baru di Desa Tente Kecamatan Woha Kabupaten Bima dan cabang usaha di Kabupaten Dompu dengan menyewa tempat kecil jika didukung tenaga kerja yang memadai.

“Rencana ingin juga buka di Tente, tapi tenaga yang kerja bantu proses produksi belum memadai,” ujar pria asli Lombok itu.

Saat suasana ramai pembeli, omzet harian yang diraih dari penjualan dua lapak usaha soleme gorengnya di Kota Bima mampu meraup hingga Rp8 juta per malam.

Jiwa wirausaha telah tertanam dalam diri Kartono sejak bangku sekolah mengikuti jejak kedua orang tuanya yang merantau di Kota Bima dan menjadi pedagang kuliner. Saat masa kuliah di Lombok Timur, Kartono setempat menjadi penjual tiket hingga menjadi pemandu wisata (guide) sambil membantu usaha saudara kandungnya yang membuka usaha warung di Gili Terawangan Lombok Utara. Dia bertemu dengan istrinya Neneng Nurhasanah yang juga fasih berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Meski sibuk dengan usaha kuliner, skill berkomunikasi dengan Bahasa Inggris tetap dijaganya.

Kesuksesan Kartono jatuh bangun merintis usaha hingga mampu memperkerjakan sejumlah sarjana hingga pensiunan PNS tak hanya membuat kagum kerabat dan sejumlah rekannya, tetangganya pun ikut kagum dengan upaya pria asli Lombok ini merintis usaha.

“Kalau hitungan saya dapat Rp1,5 juta satu malam saja itu sebulan paling tidak ada Rp50 juta yang didapatkan,” ujar Syarifuddin, salah satu tetangga Kartono di perumahan Tolotongga yang juga PNS di Bagian Humas DPRD Kabupaten Bima.

Kuliner adalah salah satu usaha yang berkembang di Kota Bima selain penjualan martabak dan sejumlah kafe. (US)

Pos terkait