Kecam Pembantaian Jemaah Masjid Al Aqso dan Muslim Palestina, Ketua FUI Bima Serukan Qunut Nazilah

A member of Israeli police aims a weapon during clashes with Palestinians at the compound that houses Al-Aqsa Mosque, known to Muslims as Noble Sanctuary and to Jews as Temple Mount, in Jerusalem's Old City, May 10, 2021. REUTERS/Ammar Awa

Kota Bima, Berita11.com— Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bima, Ustadz Asikin bin Mansyur mengutuk pembantaian jemaan Masjid Al Aqso dan Muslim Palestina oleh pasukan Israil. Untuk itu, FUI menyerukan para imam masjid dan musala untuk melakukan qunut nazilah di setiap rakaat terakhir salat fardu.

“Kami mengutuk keras tindakan biadab pasukan Israel yang membantai kaum muslimin di Masjidil Aqso Palestina,” ujar Ustadz Asikin saat dihubungi Berita11.com, Senin (10/5/2021) malam.

Terkait kejadian berdarah di Al Aqso, FUI Bima mengeluarkan lima pernyataan, di antaranya menyerukan umat Islam se-dunia memboikot produk -produk Israel. “Saatnya kita umat islam meluruskan shaf, merapatkan barisan dan bangkit bersama bersatu untuk ijjah dienul Islam,” ucap Ustadz Asikin.

Pada bagian lain, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengutuk tindakan penggusuran paksa warga Palestina dari Sheikh Jarrah, timur Yerusalem, oleh Israel, pada Senin (10/5).

Hal itu disampaikan Jokowi melalui akun Twitter miliknya. Ia juga mengatakan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil Palestina, di Masjid Al-Aqsa tak boleh dibiarkan.

BACA JUGA:  Israel Tunda Sidang Penggusuran Paksa Warga Palestina

“Indonesia mengutuk tindakan tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan atas pelanggaran berulang yang dilakukan oleh Israel,” kata Jokowi.

Indonesia, lanjutnya, akan terus berpihak pada rakyat Palestina.

Sejumlah pemimpin negara dan pihak komunitas internasional juga mengecam tindakan Israel terhadap warga Palestina.

Misalnya Yordania, mereka menyebut tindakan Israel sebagai serangan barbar.

Senada, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat prihatin dengan apa yang menimpa warga Palestina.

Ketua Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, meminta Israel agar menahan diri dan menghormati kebebasan berkumpul. Hal itu disampaikan Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric dalam pernyataan resminya pada.

“Sekretaris Jenderal mengungkapkan keprihatinan yang mendalam atas berlanjutnya kekerasan di Yerusalem Timur, serta kemungkinan penggusuran keluarga Palestina dari rumah mereka,” ujar Dujarric, mengutip Reuters.

Diketahui sengketa lahan bermula sebelum pembentukan negara Israel. Saat itu, kelompok kecil komunitas Yahudi tinggal di Sheikh Jarrah. Lalu pada 1967, Israel mencaplok wilayah Yerusalem Timur dan menganeksasinya.

BACA JUGA:  Amerika Ulangi Peringatan kepada China soal Serangan ke Pasukan Filipina

Awal 2021, sebuah pengadilan distrik Yerusalem menjatuhkan putusan yang menguntungkan para pemukim Yahudi yang mengklaim tanah-tanah di Sheikh Jarrah.

Dalam gugatannya, pemukim Yahudi mengklaim keluarga mereka kehilangan tanah itu saat perang yang berujung pembentukan Israel tahun 1948 silam.

Pada pekan lalu, pengadilan Israel menyatakan akan mendengar banding dari pihak keluarga Palestina mengenai penggusuran yang menimpa di Yerusalem Timur. Namun sidang itu ditunda.

Sebuah organisasi pro-pemukiman, Nahalat Shimon menggunakan undang-undang tahun 1970 untuk menyatakan bahwa pemilik tanah Palestina saat ini harus digusur, dan menyerahkan properti kepada orang Yahudi Israel.

Warga Palestina mengatakan undang-undang restitusi di Israel itu tak adil lantaran tidak memiliki sarana hukum untuk mengklaim kembali properti mereka yang hilang dari keluarga Israel pada akhir 1940-an.

Potensi penggusuran itu diketahui memicu protes warga Palestina yang berujung bentrokan berdarah dengan polisi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa baru-baru ini. [B-12]