Eropa Panas! Krisis Makin Ngeri, Putin Disebut ‘Biang Kerok

Foto: Vladimir Putin AP/Alexei Nikolsky

Berita11.com— Krisis energy kini menyerang Eropa. Hal ini ditandai oleh defisit suplai gas alam ke benua itu yang juga ikut mengerek harga gas global hingga level tertinggi.

Beberapa negara pun sudah mulai membunyikan alarm peringatan akibat hal ini. Apalagi sebentar lagi kawasan akan memasuki musim dingin di mana kebutuhan energi meningkat pesat.

Prancis dan Spanyol menyebut kenaikan ini akan berdampak pada naiknya tarif dasar listrik yang berujung inflasi. Keduanya meminta Uni Eropa (UE) bertindak.

“Krisis ini tidak adil, tidak efisien dan mahal bagi warga dan bisnis. Sudah waktunya mendapat tanggapan Eropa. Sudah waktunya melihat pasar energi,” tegas Menteri Keuangan Prancis, Bruno Le Maire, dikutip dari Financial Times, Rabu (6/10/2021).

Sisi lain pun muncul soal krisis ini. Benua Biru mulai menyalahkan Rusia.

Pasalnya suplai dari Negeri Beruang Merah itu menurun tajam. Rusia merupakan supplier gas alam terbesar ke Eropa dengan persentasenya mencapai 43,4%.

Parlemen Eropa telah menulis surat yang “menuduh” perusahaan Rusia, Gazprom, memanipulasi harga gas. Dalam surat tuduhan itu, para anggota parlemen itu menyebut bahwa berkurangnya aliran gas merupakan upaya Moskow untuk menekan Eropa agar mau mengaktifkan pipa gas Nord Stream 2.

BACA JUGA:  Festival Sinema Australia Indonesia dalam Format Virtual, ini Jadwalnya

Pipa gas Nord Stream 2 yang menjalar dari Rusia ke Jerman melalui Laut Baltik itu merupakan salah satu proyek antara kedua negara yang telah diselesaikan. Namun Jerman menolak aktivasinya akibat adanya sanksi dari mitra strategis UE, Amerika Serikat (AS), terhadap Rusia.

Hal ini membuat Rusia bicara. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia tidak memiliki peran dalam lonjakan harga gas Eropa. Ia menyebut pemulihan ekonomi pasca Covid-19 adalah alasan mengapa kenaikan permintaan terjadi.

Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya juga angkat suara. Ia menuding balik Eropa, yang disebutnya membuat kesalahan dengan mengurangi kesepakatan jangka panjang terkait perdagangan gas alam dan memilih membelinya di pasar spot.

Harga gas di pasar spot kini melonjak ke rekot tertinggi. Benchmark Eropa di Belanda untuk November naik delapan kali lipat sejak awal tahun, diperdagangkan di level tertinggi sepanjang masa di atas 150 euro per megawatt hour (MWh), Rabu dini hari waktu setempat

BACA JUGA:  Inggris Patah Hati setelah Drama Pinalti

Mitra Eropa kita pada prakteknya telah menegaskan sekali lagi bahwa mereka membuat kesalahan,” kata Putin dikutip Reuters, Kamis (7/10/2021).

“Kami berbicara dengan jajaran Komisi Eropa sebelumnya, dan semua aktivitasnya ditujukan untuk menghapus apa yang disebut kontrak jangka panjang secara bertahap,” jelasnya lagi.

“Itu bertujuan untuk transisi ke perdagangan gas spot. Dan ternyata, menjadi jelas hari ini, bahwa praktik ini adalah sebuah kesalahan.”

Gazprom sebelumnya menolak pindah ke perdagangan spot. Perusahaan memang kerap memilih kesepakatan bersifat long term, bahkan hingga 25 tahun.

Di Eropa gas menjadi pilihan utama energi saat ini, dibanding komoditas lain seperti batu bara. Gas dianggap “lebih bersih” di mana emisi yang dihasilkan tak sebesar PLTU batu bara.

Eropa memang memiliki energi terbarukan, seperti angin dan matahari, sebagai sumber energi lainnya, di mana berdasarkan data tahun 2020 menghasilkan 38% listrik benua itu. Namun musim dingin dikabarkan beberapa media mengganggu pasokan dari sumber energi ini.

Sumber: CNBCIndonesia