Nurjanah: Fogging tidak Efektif, Kabupaten Bima perlu Tuntaskan Pilar 4 dan 5 STBM

Petugas Puskesmas Bolo Kabupaten Bima bersama lintas organisasi Profesi membersihkan got sebagai bagian dari kegiatan pemberantasan saran nyamuk.
Petugas Puskesmas Bolo Kabupaten Bima bersama lintas organisasi Profesi membersihkan got sebagai bagian dari kegiatan pemberantasan saran nyamuk.

Bima,Berita11.com— Masalah sampah yang hampir ada setiap sudut jalan dan pemukiman menjadi “bom waktu” bagi masyarakat Kabupaten Bima. Sampah juga memberi andil terhadap kasus demam berdarah dengue (DBD) sempat meroket tajam di wilayah Kabupaten Bima.

Hal itu diakui Kepala Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Kecamatan Bolo, Nurjanah S.Kep. Menurutnya program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Kabupaten Bima perlu dilanjutkan hingga pilar 4 dan pilar 5, karena salah satu masalah utama kesehatan berbasis lingkungan di Kabupaten Bima berkaitan dengan sampah, sehingga perlu penanganan dan perhatian serius.

Bacaan Lainnya

“Untuk STBM kita baru masuk pilar 1 dan pilar 2, sehingga perlu dilanjutkan hingga tuntas hingga pilar 4 dan pilar 5 untuk pengelolaan sampah dan air limbah yang belum maksimal. DBD juga datangnya dari sampah plastik,” ujarnya di BLUD Kecamatan Bolo, Senin (6/2/2023).

BACA JUGA:  Antisipasi Sub-Varian Omicron BA.4 dan BA.5, BIN Gencarkan Vaksinasi Massal

Implementasi STBM hingga pilar 4 dan pilar 5 juga termasuk melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSM) dapat memengaruhi prevalensi. Misalnya mencegah diare, penyakit tipes dan hepatitis berbagai tingkatan. “Menumbuhkan kesadaran akan sanitasi ini yang sangat penting. Perlu dilanjutkan untuk pilar pengelolaan sampah dan air limbah,” ujarnya.

Nurjanah bersyukur, kasus diare (kolera) di Kecamatan Bolo Kabupaten Bima tidak seperti kasus DBD. Demikian juga malaria nol kasus. “Kalau dulu saat kasus kolera muncul harus menyiapkan tempat tidur yang banyak (bagi pasien). Solusi masalah sampah dan kebersihan lingkungan perlu sekali solusi dari pemangku kebijakan,” ujarnya.

Menurut dia, pencegahan kasus demam berdarah dengue (DBD) melalui kegiatan pengasapan (fogging) tidak efektif dan memiliki risiko atau dampak terhadap lingkungan. Selain itu, biaya yang dikeluarkan lebih besar.  Untuk sekali kegiatan fogging satu titik atau dalam radius sasaran 100 kepala keluarga (KK) harus mengeluarkan biaya hingga paling tidak Rp5 juta.

BACA JUGA:  Provinsi Pertama Deklarasi Tiga Pilar STBM, NTB Raih Penghargaan MURI

“Pada sisi lain juga ada efeknya. Maka langka yang tepat mencegah melalui kegiatan PSM. Memang tidak bisa semata oleh pemerintah, harus ada kesadaran dari masyarakat itu sendiri,” ujar dia.

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Program STBM memiliki indikator outcome dan output. Indikatoroutcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Lima STBM, antara lain stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengolahan air minum dan makanan dengan benar,  pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga agar tidak mencemari lingkungan.[B-17]

Pos terkait