Profil Ketua PKN NTB, bukan Kaleng-kaleng, Ternyata Dulu Gabung di Pasukan Elit hingga jadi Pelatih Raider TNI AD

Ustadz Taufik M Nor. Foto Ist.

Sosok periang dan kharismatik itu ternyata putra Donggo asli.  Nama lengkapnya Taufik M Nor dan akrab disapa Ustadz Taufik. Donggo adalah suku tertua di tanah Bima dan Dompu. Populasi suku itu paling banyak mendiami wilayah dataran tinggi di sekitar Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima, bahkan kabupaten lain di Pulau Sumbawa seperti Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Jumlah populasi Suku Donggo di Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima lebih kurang 350.000 jiwa, belum lagi Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Maka selain sebagai suku tertua, etnis Donggo juga merupakan populasi terbanyak di Pulau Sumbawa, sedangkan suku lainya Suku Melayu, Bugis dan suku timur dan Samawa.

Gaya khas dan cara berjalan yang tegap, berbicara lantang tanpa kompromi, Taufik M Nor adalah salah satu pendakwah yang tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) Kabupaten Dompu Provinsi NTB. Selain itu, juga bergabung sebagai anggota Jemaah Tabligh (JT) Kabupaten Dompu, sehingga teman-temannya sering menyapa dengan panggilan ustadz.

Salah satu kebiasaan Ustadz Taufik, di mana-mana selalu berdakwah setiap ada kesempatan, meski acara tidak formal. Kebiasaan itu juga kerap diselipkannya setiap nongkrong bersama teman-temannya. Saat obrolan canda, Ustadz Taufik memberikan nasihat-nasihat spiritual kepada rekan maupun orang yang diajaknya berdiskusi.  Ada saja dalil dari Alquran dan Hadist yang diutarakan yang selaras dengan tema pembahasan pada saat mengobrol.

Ustadz Taufik adalah pribadi yang humble,  santun namun sangat tegas membedakan yang haq dan yang bathil.

Ketua Pimda PKN Provinsi NTB, Taufik M Nor.

Pria paruh baya yang murah senyum itu ternyata mantan anggota pasukan elite 1 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang pernah tergabung sebagai anggota pasukan Batalyon Infanteri Para Raider 501/Bajra Yudha Brigade Infanteri 18/Trisula, Divisi Infanteri 2/ KOSTRAD selama 25 tahun. Setelah dirasa cukup mengabdi dalam dunia militer, Taufik menarik diri dari dunia militer sejak 2015 dan pangkat terakhirnya saat berdinas di TNI AD Sersan Mayor (Serma). Beberapa tahun kemudian setelah kembali ke Dompu, ia aktif dalam hikuk pikuk dunia politik dan dakwah.

“Politik itu dunia baru bagi saya,” ujarnya.

Sekelumit kisahnya saat aktif berdinas di militer, Taufik M Nor mengawali karir di TNI AD dengan menempuh pendidikan militer di Kodam IX/ Udayana pada September 1991 silam. Ketika itu ia langsung bertugas di Batalyon Infanteri Para Raider 501/BY-KOSTRAD  hingga tahun 2005, kemudian pindah ke satuan Jasmani Militer Kodam (Jasdam IX/ Udayana).

Selama bergabung di Jasdam IX/ Udayana, Taufik bergabung sebagai panitia penerimaan (recruitment) calon-calon tentara dari berbagai level, mulai Tamtama yaitu sekolah calon tamtama (Secata), sekolah calon bintara (Secaba) Umum (putra dan putri), Secaba Reguler, sekolah calon perwira (Secapa) Reguler, sekolah perwira jalur khusus sarjana (Sepa), Akademi Militer, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan institusi lain.  

BACA JUGA:  Hasilkan hingga Rp8 Juta per Malam dari Menjual Sosis dan Salome Goreng

Sampai saat ini kebiasaan ketika aktif dalam dunia militer masih melekat dalam pribadi pria yang dikenal sebagai salah satu pengusaha di Kabupaten Dompu itu. Misalnya respeknya saat berkomunikasi dengan siapa saja, sering dibumbui dengan kata-kata “Siap” yang lazim menjadi kebiasaan komunikasi di dalam dunia militer. Karena sepak terjangnya yang lama saat berkarir di dunia militer, sampai saat ini Taufik M Nor melekat dikenal dengan background sebagai tentara dan terkadang dipanggil komandan.  Taufik juga merupakan sosok yang tidak asing di mata pemuda dari Bima-Dompu yang pernah mengikuti seleksi TNI AD.

Setelah tidak lagi berdinas aktif di pasukan tempur militer sejak tahun 2015, Taufik kembali ke tanah kelahirannya di Dompu dan kemudian tertarik untuk mengarungi dunia politik praktis, meksipun saat itu politik merupakan ikhwal baru bagi dirinya karena saat berdinas aktif di TNI AD harus selalu menjaga sumpah setia prajurit yang salah satunya tidak terlibat politik praktis.  Usai kembali ke Dompu, dia langsung bergabung dengan tim pemenangan salah satu pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu periode 2015-2020 H Abubakar Ahmad SH alias Ompu Beko dan Kisman Pangeran SH (Ompu-Kisman/ OK) yang diusung  Partai Bulan Bintang (PBB) Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Meski ketika itu pasangan tersebut yang didukungnya kalah saat pesta rakyat Pilkada Kabupaten Dompu,  namun Taufik tetap bersyukur mendapatkan pelajaran politik yang luar biasa, karena pada momentum tersebut berkesempatan bertemu dengan para ‘dedengkot’ politisi di Kabupaten Dompu. “Di situlah asyiknya berpolitik,” selorohnya.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Manggeasi Kecamatan Dompu Kabupaten Dompu itu juga menceritakan, pertama kali terjun dalam partai politik (Parpol) setelah diajak oleh salah satu politisi senior yang juga mantan anggota legislator di Kabupaten Dompu, Ilham Yahyu S.Pd SH pada tahun 2017.  Ketika itu Taufik bergabung dengan Parpol baru untuk Pemilu 2019, Partai Berkarya. Meskipun baru berkecimpung di dunia politik,  pihak pimpinan Parpol yang didirikan oleh Tommy Soeharto itu memberinya jabatan yang tidak main-main, sebagai Wakil Ketua IV Partai Berkarya di NTB.

“Kamipun berjuang bersama-sama, berusaha keras agar mampu meloloskan partai tersebut agar lolos menjadi partai peserta Pemilihan Umum tahun 2019 dan alhamdulillah berhasil lolos mengikuti Pemilu, namun sayang gagal melewati parlementery threshold 4%,” cerita Taufik.

Saat terjadi dinamika Partai Berkarya antara Tommy Soeharto dengan Muchdi PR di Jakarta, Ustadz Taufik memilih setia berdiri di belakang pendiri Parpol tersebut.

BACA JUGA:  Hadapi Pemilu 2024, Aktivis Lintas Generasi di NTB Rapatkan Barisan, Siapa yang Didukung?

“Sampai berakhir di MK (Mahkamah Konstitusi), saya bersama ketua waktu itu (Ilham Yahyu) bertahan di kepengurusan Tommy Soeharto (TS). Tapi sayang TS Kalah di MK,” ceritanya.

Berbekal pengalaman memperjuangkan Parpol baru lolos sebagai peserta saat Pemilu 2019, Ustadz Taufik sangat menyadari beratnya perjuangan agar Parpol yang diurus lolos sebagai peserta Pemilu. “Meloloskan partai menjadi peserta Pemilu saja sudah luar biasa berat dan sengitnya bersaing dengan sesama partai. Lalu tiba-tiba diguncang  kan sedih juga,” ungkapnya.

Dengan pengalamannya yang gigih memperjuangkan Parpol baru lolos sebagai peserta Pemilu tahun 2019 lalu, Taufik dilirik pimpinan pusat Partai Kebangkitan Nusantaran (PKN). Dia didapuk sebagai Ketua Pimpinan Daerah PKN Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tugasnya tidak mudah, di tengah kembali banyaknya muncul Parpol baru non parlemen yang bersaing untuk lolos sebagai peserta Pemilu 2024.

Ustadz Taufik bersyukur karena Parpol yang dipimpinnya itu lolos tahapan verifikasi administrasi dan verifikasi faktual sehingga ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) sebagai salah satu Parpol peserta Pemilu 2024 beberapa hari lalu, setelah melewati berbagai rintangan dan peluh dalam melengkapi berbagai proses administrasi, kelengkapan pengurus dan berbagai syarat dari penyelenggara Pemilu sebagaimana yang diamanatkan regulasi turunan dan Undang-Undang tentang Pemilu.

“Alhamdulillahnya dengan pertolongan Allah Azawajal lagi-lagi partai baru ini lolos menjadi peserta Pemilu yang Insha Allah perhelatannya tahun 2024. Ini semua atas izin Allah SWT,” ujarnya.

Diakui Taufik, memimpin sebuah partai baru tidak mudah. Terlebih dia menjadi pemimpin Parpol baru pada tingkat provinsi, dengan kondisinya yang masih minim pengalaman. Namun Taufik banyak terbantu  lantaran memiliki mental baja, karena selama aktif dalam pasukan tempur terbiasa dan terlatih menghadapi situasi ekstrim.

Taufik M Nor saat Mengikuti Rapat dengan Para Pimpinan Daerah PKN.

“Itu yang sangat membantu saya dalam beradaptasi dengan tantangan- tantangan baru dan melewati Verfak dengan sangat luar biasa bersama rekan-rekan saya pimpinan-pimpinan cabang  10 kabupaten-kota dan 116 kecamatan se-Provinsi Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.

“Sekarang saya sedang menahkodai sebuah partai dan lagi-lagi partai baru. Kali ini tantangannya jauh lebih berat, karena menjadi ketua partai di tingkat provinsi ini nggak mudah menurut saya, mengurusi 10 kabupaten kota dan 116 kecamatan. Kan (seperti) tugas gubernur, ini saya yang harus mengurus, yang bukan siapa-siapa. Tapi skenario Allah Itu sungguh Maha Sempurna,” katanya.

Taufik berharap kehadiran Parpol baru PKN khususnya di Provinsi NTB memberi warna baru dalam ‘dunia perpolitikan’ di daerah serta memberi kontribusi positif sebagai andil nyata dalam pembangunan di NTB dan Nasional. “Insha Allah kami akan berbuat maksimal dengan dukungan seluruh masyarakat NTB,” isyaratnya. [US]