Ingin Dorong Potensi Daerah, Tokoh Masyarakat Donggo Terpanggil untuk Memimpin Bima

Ustadz Syamsuddin.

Bima, Berita11.com— Kendati dikenal sebagai daerah yang memiliki suhu lebih tinggi dari sejumlah daerah di Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Bima memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan sebagai pendapatan Masyarakat, sekaligus menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Menurut tokoh masyarakat Donggo Kabupaten Bima, Ustadz Syamsuddin S.Pd.I, salah satu potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber PAD dan pendapatan bagi masyarakat di Kabupaten Bima di antaranya peternakan unggas. Dirinya pun telah merasakan sendiri bagaimana potensi pendapatan dari sektor peternakan tersebut, di mana dari hasil mengembangkan ternak ayam broiler dalam sekali panen mampu meraih Rp200 juta -Rp300 juta dari hasil panen 13.000 ekor ayam broiler.

“Dalam satu bulan uang orang Bima dibawa keluar Bima sampai Rp200 juta dari hasil membeli ayam dari luar,” ujar Ustadz Syamsuddin yang juga pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas Desa Doridungga Kecamatan Donggo Kabupaten Bima ini, Sabtu (4/11/2023) lalu.

Kebutuhan terhadap ayam pedaging (broiler) di wilayah Bima cukup tinggi sehingga menjadi peluang usaha bagi Masyarakat, termasuk bagi perusahaan daerah di Kabupaten Bima. Misalnya pemerintah daerah tertarik mengembangkan usaha ternak ayam broiler seperti melalui PD Wawo, maka prospek PAD yang dapat dihasilkan dari kegiatan usaha ini dapat mencapai miliaran rupiah. Belum lagi keuntungan yang dihitung dari hasil pengelolaan pakan.

“PD Wawo milsanya dapat bekerja sama dengan pabrik pakan di Surabaya.  Standar minimal 50 ribu/ sak. Minimal 100 kandang di Bima. Karena selama ini dalam satu bulan uang orang Bima dibawa keluar Bima sampai Rp200 juta (hasil membeli ayam dari luar daerah),” ujar Ustadz Syamsuddin yang juga alumnus SMAN 1 Bima Tahun 1993 ini.

Melihat prospeknya, Ustadz Syamsuddin berharap, pemerintah daerah melirik peternakan unggas sebagai salah sektor yang digarap Perusahaan daerah. Pemerintah Kabupaten Bima melalui Perusahaan daerah (PD Wawo) juga dapat membuka kerja sama dengan pabrik pakan di Surabaya, Jawa Timur. Misalnya dengan PT DMC.

Selain potensi keuntungan dari hasil penjualan ayam broiler, Perusahaan daerah dapat memperoleh keuntungan dari pakan dan keuntungan dari obat pendukung. Namun dari aspek pendukung, pemerintah daerah perlu membuat regulasi khusus selain menyuntik modal untuk usaha peternakan unggas. Karena sampai saat ini terdapat peredaran daging illegal di wilayah Kabupaten Bima.

“Kegiatan (niaga) penjualan garam juga nggak apa-apa tetap jalan. Tapi harapannya potensi peternakan ayam ini juga dilirik pemerintah daerah melalui Perusahaan daerah. Karena dapat menghasilkan PAD hingga miliaran rupiah. PD Wawo dapat bekerja sama dengan Perusahaan pabrik pakan di Surabaya misalnya,” ujarnya.

Menurut Ustadz Syamsuddin, sampai saat ini jumlah kadang ayam broiler di wilayah Kabupaten Bima baru 100 kadang dan khusus di Kecamatan Donggo baru terdapat 10 kandang, sementara kebutuhan Masyarakat terhadap ayam pedagang masih tinggi, sehingga prospek usahanya masih tinggi. Para pengusaha ayam broiler di Bima berencana membentuk asosiasi peternak ayam.

 “Coba PD Wawo Perusahaan daerah di Kabupaten Bima bisa investasi kendang ayam, Insya Allah prospeknya bagus.  Dari aspek tenaga kerja, setiap kendang bisa serap 1-2 tenaga kerja. Untuk pemasaran nggak ada masalah. Kalau panen dua hari selesai,” ujarnya.

Dari hasil usaha peternakan ayam,  Ustadz Syamsuddin mengaku selalu menyisipkan keuntungan setiap kali panen untuk Pembangunan dan pemeliharaan masjid di Kecamatan Donggo dan Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima.

Menurutnya, usaha ternak kambing juga tidak kalah dan memiliki potensi.  “Pemasaran kambing juga nggak susah, coba pemda merintis kerja sama dengan Kerajaan Arab,” ujarnya.

Ustadz Syamsuddin. Foto Safitri/ Berita11.com.

Ihtiar memimpin Kabupaten Bima

Melihat sejumlah “pekerjaan rumah” yang belum tuntas di Kabupaten Bima, Ustadz Syamsuddin berniat maju dalam suksesi Pilkada Kabupaten Bima tahun 2024 mendatang. Ia ingin berbuat untuk banyak orang dan mendorong Kabupaten Bima semakin lebih baik.

“Insya Allah saya punya niat. Kalau Allah sudah meridhoi, kita berusaha memperbaiki. Biasanya orang baru akui kita hebat ketika punya duit banyak. Tapi saya ingin ubah pandangan itu,” ujarnya.

Menurutnya program Bima Ramah yang menjadi visi-misi Bupati Bima, Hj Indah Dhamayanti Putri dan Wakil Bupati Bima, H Dahlan M Noer merupakan program bagus. Namun perlu akselerasi dan implementasi secara konsisten demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat Kabuapten Bima.

“Saya tidak mau menafikan Ferry (masa mantan Bupati Bima H Ferry Zulkarnain) dan saat  Dinda (Hj Indah Dhamayanti Putri) sudah bagus, cuma orang-orang sekitar. Visi Bima Ramah bagus, cuma dijabarkan kadis hingga kades yang belum maksimal,” ujarnya.

Ustadz Syamsuddin mengatakan, kekuasaan bukanlah satu-satunya targetnya. Namun melalui posisi sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah dirinya hendak mewujudkan kesejahteraan yang adil bagi masyarakat Kabupaten Bima. Mewujudkan Kabupaten Bima sebagai rumah bersama dan masyarakat berdaya melaui program-program Pembangunan yang digulirkan pemerintah daerah. Misalnya memudahkan pelayanan dan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat melalui BPJS Kesehatan, sehingga masyarakat mendapatkan hak sosial secara adil.

Dikatakannya, trah Kesultanan Bima memiliki pertalian yang kuat dengan masyarakat Donggo. Jika pun takdir membawanya berpasangan dengan Putra Mahkota atau Jenateke, dirinya pun siap bersama-sama mewujudkan pembangunan yang lebih baik untuk Kabupaten Bima.

Dirinya berharap putra Donggo diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin di wilayah Bima, sebagai Bupati Bima atau Wakil Bupati Bima. Karena sebelumnya sudah ada pernyataan dari almarhum Sultan Bima, almarhum H Ferry Zulkarnaen ST. Sebelum maju dalam suksesi Pilkada Kabupaten Bima beberapa tahun silam, Sultan Bima tersebut pernah berdiskusi dengan sejumlah tokoh Masyarakat Donggo, termasuk di antaranya Letkol Hamid, sehingga melanjutkan kesepakatan dalam diskusi itu, Ustadz Syamsuddin berharap agar tokoh dari Donggo juga diberi kesempatan secara politis untuk maju dalam suksesi Pilkada Kabupaten Bima.  

Harapannya dengan maju dalam suksesi Pilkada Kabupaten Bima, dirinya dapat menjaga Marwah Kesultanan Bima.   Sebelumnya Ustadz Syamsuddin juga sudah mendapatkan dukungan dari sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama, dan pimpinan Parpol di Kecamatan Donggo dan Kecamatan Soromandi, termasuk dari kalangan akademisi, Dr Alfi Syahrin.

“Nggak harus saya. Kalaupun Allah berkehendak saya siap,” ujar pria yang pernah mengislamkan 54 orang di Kecamatan Donggo ini.

Jika pada saat nanti Allah SWT menakdirkan sebagai pemimpin di Kabupaten Bima, Ustadz berkeinginan menguatkan pembangunan spiritual melalui pendidikan agama. Salah satunya membangun pondok pesantren modern, melanjutkan visi agama sebagaimana yang tertuang dalam visi-misi Bima Ramah.


Profill Ustadz Syamsuddin

Ustadz Syamsuddin lahir di Kecamatan Donggo pada 30 Desember 1974 silam. Pendidikan formal tingkat sekolah dasar ditempuhnya di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, kemudian dilanjutkan di SMPN 1 Donggo di Desa Bajo Kecamatan Soromandi pada tahun 1990. Kemudian pada tahun 1993, pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas Donggo Kabupaten Bima berhasil menyelesaikan Pendidikan tingkat sekolah menengah atas di SMAN 1 Bima. Tak lama setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi dengan menempuh program studi Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Mataram. Setelah itu, pendidikan S-1 diselesaikannya di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima pada tahun 2019.

Ustadz Syamsuddin juga tercatat sebagai staf Kantor Urusan Agama (KUA) Donggo dan saat ini ia menjabat sebgai Ketua Majelis Pengawasan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bima dan Pengelola Zakat Kecamatan Donggo. Selain bekerja sebagai staf di instansi pemerintah, Ustadz Syamsuddin juga pernah berkecimpung di dunia politik. Ia tercatat pernah bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai kader.

 Kemudian pada tahun 1999, bapak empat anak ini merintis Pondok Pesantren Al Ikhlas di Desa Dorindungga Kecamatan Donggo Kabupaten Bima pada era Bupati Bima, Drs H Zainul Arifin. Dua anaknya saat ini sedang menempuh pendidikan di Unikom Bandung, sedangkan anak keduanya menempuh pendidikan di Universitas Pasundan. Sementara anak ketiga dan keempatnya masih menempuh pendidikan di SMK dan di MTs. (*)