Tahun telah Berganti tapi Honor belum Dibayar, Guru SMAN 1 Woha Sandera Mobil Bendahara

Imbas belum dibayarkannya honor selama lima bulan, sejumlah guru di SMAN 1 Woha menyandra mobil oknum bendahara sekolah.
Imbas belum dibayarkannya honor selama lima bulan, sejumlah guru di SMAN 1 Woha menyandra mobil oknum bendahara sekolah.

Bima, Berita11.com— Suasana di SMAN 1 Woha, Kabupaten Bima, memanas pada Sabtu (3/1/2026). Puluhan guru honorer dan pembina ekstrakurikuler (Eskul) melakukan aksi nekat dengan menyandera mobil operasional pribadi milik bendahara sekolah setempat, M. Aksi ini dipicu oleh belum dibayarkannya honor puluhan tenaga pengajar selama lima bulan, terhitung sejak Agustus hingga Desember 2025.

Humas SMAN 1 Woha, Haris, mengonfirmasi bahwa penyanderaan mobil pick-up hitam tersebut berlangsung sejak pukul 09.00 WITA hingga 13.00 WITA. Mobil tidak diizinkan meninggalkan halaman sekolah sebagai bentuk protes atas ketidakpastian nasib mereka.

Bacaan Lainnya



“Mobil dilepas setelah ada kesepakatan dan janji dari Bendahara bahwa honor akan segera dibayarkan,” ujar Haris pada Minggu (4/1/2026).

Pelaksana Tugas Kepala SMAN 1 Woha, Fahri membenarkan adanya penyandaraan mobil bendahara sekolah setempa. Diakui dia, persoalan honor guru honorer telah berlangsung cukup lama.

BACA JUGA:  Kejati Tahan Tersangka Baru Kasus Gratifikasi Anggota DPRD NTB

“Benar, honor guru honorer dan tenaga TU belum dibayarkan. Ada yang tertunggak tiga bulan, bahkan sampai lima bulan, karena bendahara dalam beberapa pekan terakhir jarang hadir di sekolah,” ungkap Fahri dikutip dari mediadinamika global.

Fahri menegaskan bahwa dana honor sebenarnya telah tersedia dan berada di tangan bendahara sekolah. Ia mengaku telah berulang kali melayangkan surat panggilan resmi agar bendahara hadir di sekolah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Namun, panggilan tidak pernah diindahkan sang oknum bendahara.

“Saya sudah menegaskan agar honor segera dibayarkan karena dananya ada. Jangan sampai persoalan ini terus berlarut-larut dan merugikan para honorer,” ujarnya.

Terpisah, Bendahara SMAN 1 Woha, M menanggapi aksi tersebut dengan menyatakan bahwa keterlambatan pembayaran terjadi karena belum adanya komunikasi yang jelas sejak pergantian pelakana tugas kepala sekolah.

Ia menyatakan, pembayaran honor setelah ada koordinasi dan komunikasi antara pihak terkait.

“Pasca pergantian PLT baru, belum ada komunikasi dengan PLT lama. Pembayaran akan dilakukan setelah ada kejelasan dan komunikasi,” katanya.

BACA JUGA:  KNRP Kabupaten Bima dan Masyarakat Dompu Aksi Solidaritas untuk Palestina, Legislator Sumbang Rp25 Juta

Sejumlah tenaga honorer di SMAN 1 Woha penjelasan bendahara sekolah bahwa kendala belum dibayarkan honor guru setempat tiga hingga bulan karena belum ada komunikasi pelaksana tugas lama dengan pelaksana tugas baru Kepala SMAN 1 Woha hanyalah merupakan alibi oknum bendahara sekolah setempat.

Diketahui, terdapat lebih dari 40 guru yang terdampak dengan nilai honor berkisar antara Rp300 ribu hingga Rp1 juta per bulan.

Ironisnya, macetnya honor guru ini terjadi di tengah Biaya Operasional Sekolah (BOS) Tahap II tahun 2025 telah cair sejak Agustus 2025. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan guru mengenai alokasi anggaran yang seharusnya menjadi hak mereka.

Seiring dengan mencuatnya kasus penyanderaan ini, muncul dokumen yang membeberkan dugaan praktik belanja fiktif di SMAN 1 Woha pada tahun anggaran 2025. Sejumlah item pekerjaan tercatat dalam Buku Kas Umum (BKU), namun secara fisik tidak pernah ada. [B-22]

Follow informasi Berita11.com di Google News



Pos terkait