Bima, Berita11.com— Pasokan semen di wilayah Kecamatan Woha dan Palibelo, Kabupaten Bima, mulai mengalami gangguan sejak awal Oktober 2026. Kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan semen di tingkat toko bangunan dan memengaruhi harga jual kepada konsumen.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bima, Juraidin, mengatakan berdasarkan informasi yang dihimpun dari pemilik toko, kelangkaan semen di sejumlah lokasi telah berlangsung selama satu hingga dua pekan.
Meski demikian, beberapa toko masih sempat menerima pasokan dalam beberapa hari terakhir. Namun, semen yang masuk tersebut langsung habis terjual.
“Untuk kondisi di Woha dan Palibelo, berdasarkan informasi dari pemilik toko, kelangkaan ada yang sudah satu minggu dan dua minggu. Tapi ada juga yang masih menerima pasokan tiga hari lalu, tetapi langsung habis,” kata Juraidin kepada Berita11.com, Senin (19/10/2026).
Ia menjelaskan, stok semen sebanyak 50 sak yang sempat tersedia di salah satu toko bahkan telah dipesan dan diambil pembeli pada hari yang sama.
Di tengah terbatasnya pasokan, harga jual semen di tingkat toko berkisar Rp75.000 hingga Rp85.000 per sak, bergantung pada merek.
Menurut Juraidin, selama ini toko bangunan di Woha dan Palibelo memperoleh pasokan dari distributor atau toko yang berada di Kota Bima. Dalam kondisi normal, pengiriman biasanya mencapai sekitar 200 sak untuk satu kali pengiriman, dengan frekuensi dua kali dalam sepekan.
Namun, sejak awal Oktober, pola distribusi tersebut tidak lagi berjalan secara menentu.
Pasokan Semen Tiga Roda Berkurang
Disperindag Kabupaten Bima juga telah berkoordinasi dengan sejumlah distributor untuk menelusuri penyebab berkurangnya pasokan semen.
Juraidin mengatakan pihaknya telah bertemu dengan kepala cabang Semen Tiga Roda. Sementara itu, pertemuan dengan perwakilan distributor merek Tonasa, Bosowa, dan Conch masih menunggu kesempatan karena kepala cabang yang bersangkutan sedang berada di luar.
“Kita baru bertemu dengan kepala cabang Tiga Roda. Untuk Tonasa, Bosowa, dan Conch, kepala cabangnya sedang di luar. Insya Allah besok kita ke sana lagi,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan kepala cabang Semen Tiga Roda yang diterima Disperindag, berkurangnya pasokan berkaitan dengan penurunan alokasi dari produsen atau pabrik di Kalimantan Selatan. Penurunan produksi tersebut disebut terjadi akibat keterbatasan bahan baku batu bara.
Selain persoalan produksi, distribusi semen ke Bima juga menghadapi kendala transportasi laut. Kapal berkapasitas besar yang masuk ke Bima disebut relatif jarang, sedangkan kapal yang tersedia saat ini memiliki kapasitas sekitar 2.000 ton.
Juraidin menyebut, sejak awal September, pengiriman Semen Tiga Roda yang sebelumnya mencapai empat kali dalam sebulan kini berkurang menjadi dua kali dalam sebulan, dengan kapasitas sekitar 2.000 ton untuk setiap pengangkutan.
Adapun penyebab berkurangnya pasokan dari distributor merek lain masih belum terkonfirmasi karena Disperindag Kabupaten Bima belum menyelesaikan koordinasi dengan seluruh pihak terkait.
Disperindag Kabupaten Bima masih melakukan penelusuran untuk memastikan persoalan pasokan dan distribusi semen di wilayah tersebut. Koordinasi dengan distributor diperlukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai ketersediaan stok, alokasi dari produsen, serta kendala pengiriman. [B-22]
Follow informasi Berita11.com di Google News










