Pagi itu angin laut berembus pelan di Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima. Suara anak-anak mulai memenuhi halaman SDN Sowa, sekolah dasar yang berdiri tak jauh dari pesisir.
Di luar sudut perpustakaan sekolah yang baru direnovasi, seorang siswi duduk dengan buku cerita bergambar di tangannya. Namanya Ega Nurfania, 12 tahun, siswa kelas VI.
Ia membuka halaman demi halaman dengan hati-hati, lalu mulai membaca dengan suara pelan.
Bagi sebagian orang, membaca buku cerita mungkin hal biasa. Namun bagi Ega, setiap kalimat yang berhasil ia baca adalah kemenangan kecil—perjalanan panjang dari masa ketika ia bahkan belum mengenal huruf.
Kehilangan Ibu dan Masa Kecil yang Sunyi
Ega adalah anak pertama dari Agus Salim dan almarhumah Faturahman, warga asli Kecamatan Soromandi.
Lima tahun lalu, ibunya meninggal dunia. Tak lama setelah itu, ayahnya menikah lagi. Sejak saat itu perhatian terhadap Ega perlahan berkurang. Ia kemudian tinggal bersama kakek dan neneknya dari pihak ibu, Mahfud dan Nurhayati, di Desa Kananta.
Di rumah sederhana mereka, kehidupan berjalan apa adanya. Mahfud hanya mengandalkan hasil bertani jagung untuk menghidupi keluarga, termasuk Ega dan adiknya. Penghasilan yang tidak menentu membuat kehidupan mereka serba terbatas.
“Kalau di rumah kami selalu dorong Ega supaya rajin belajar. Tapi anaknya sering murung dan sedih,” kata Mahfud.
Kehilangan sosok ibu pada usia kecil meninggalkan luka yang tidak mudah bagi Ega. Kesedihan itu juga memengaruhi kehidupan sekolahnya.
Menurut wali kelasnya, Syamsuri, Ega memiliki kesulitan serius dalam membaca sejak kelas-kelas awal.
Bahkan hingga duduk di kelas IV, ia masih belum mampu mengenal huruf dengan baik.
“Dia memang punya masalah dengan literasi. Sampai kelas empat belum bisa membaca,” kata Syamsuri.
Selain kesulitan akademik, kondisi mental Ega juga menjadi tantangan tersendiri. Setiap kali ditegur atau diminta membaca di depan kelas, ia sering menangis. Ia merasa minder dibandingkan teman-temannya.
“Kalau di sekolah Ega kadang menangis karena merasa tertinggal dari siswa lain,” ujar Syamsuri.
Meski demikian, guru-guru di sekolah terus berusaha membimbingnya.
SDN Sowa adalah sekolah sederhana di Desa Kananta Kecamatan Soromandi. Sekolah ini memiliki sekitar 22 guru, terdiri dari 3 guru PNS dan 5 guru PPPK, sementara lainnya masih berstatus tenaga honorer.
Sebagian besar siswa berasal dari keluarga petani dan nelayan dengan kondisi ekonomi terbatas.
Sebelumnya, fasilitas sekolah juga sangat minim, termasuk perpustakaan yang rusak dan tidak terawat. Namun kondisi tersebut mulai berubah setelah hadirnya program Sekolah Aman yang dijalankan oleh Yayasan YISA bersama YAPPIKA ActionAid.
Melalui program tersebut, perpustakaan sekolah direhabilitasi dengan anggaran ratusan juta rupiah dan dilengkapi dengan berbagai buku bacaan baru.
Perpustakaan Baru, Semangat Baru
Kehadiran perpustakaan yang diperbaiki membawa perubahan besar bagi siswa.
Rak-rak buku kini dipenuhi cerita bergambar yang menarik. Anak-anak mulai sering datang untuk membaca.
Ega termasuk salah satu siswa yang paling senang dengan perubahan itu.
“Anak-anak sekarang senang melihat perubahan perpustakaan sekolah yang telah diperbaiki,” kata Syamsuri.
Bagi Ega, perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga tempat menemukan kepercayaan diri yang selama ini hilang.
Perlahan-lahan ia mulai mampu merangkai kata. Perkembangan Ega memang tidak secepat teman-temannya. Namun perubahan itu nyata.
Kini ia sudah mulai bisa membaca kalimat sederhana. Di kelas, ia tidak lagi selalu menunduk ketika guru bertanya.

Meski kemampuan akademiknya masih tertinggal—Ega berada di sekitar peringkat belasan di kelasnya—guru melihat perkembangan yang cukup signifikan.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada perubahan, apalagi dengan adanya pendampingan dari YISA dan Yappika,” ujar Syamsuri.
Program tersebut tidak hanya memperbaiki fasilitas sekolah, tetapi juga mendorong keterlibatan orang tua melalui komunitas sekolah serta membantu guru mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif.
Di rumah, Ega juga sering membantu kakek dan neneknya di kebun jagung. Namun di balik kehidupan sederhana itu, ia memiliki mimpi besar.
Setelah lulus SD, Ega berencana melanjutkan sekolah di SMPN 5 Soromandi, yang lokasinya tidak jauh dari rumah kakek neneknya.
Sebenarnya ia ingin melanjutkan sekolah ke Kota Bima. Namun kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan. “Sebenarnya mau sekolah di kota, tapi kakek nenek tidak mampu,” katanya pelan.
Mahfud memiliki harapan besar untuk cucunya itu. Ia ingin Ega kelak menjadi seorang guru.
“Harapannya dia bisa jadi guru atau pegawai. Biar bisa membanggakan almarhum mamanya,” ujar Mahfud.
Kepala SDN Sowa, Muhtar, mengaku program Sekolah Aman membawa perubahan nyata di sekolahnya.
Selain memperbaiki perpustakaan, program tersebut juga meningkatkan partisipasi orang tua dan kehadiran siswa.

“Alhamdulillah sudah banyak perubahan ke arah positif,” kata Muhtar.
Jika tidak ada aral melintang, perpustakaan yang telah direhabilitasi akan diresmikan oleh Bupati atau Wakil Bupati Bima pada 11 Mei 2026.
Muhtar berharap program pendampingan tersebut dapat terus berlanjut agar semangat literasi di sekolah tetap terjaga.
Sore hari, Ega kembali duduk di perpustakaan sekolah.
Di tangannya, sebuah buku cerita terbuka. Ia membaca perlahan, berhenti sejenak pada kata-kata yang masih terasa sulit, lalu melanjutkan lagi.
Di Desa Kananta, sebelum ujung pesisir Soromandi, seorang anak sedang berjuang menaklukkan huruf demi huruf.
Bagi Ega, membaca bukan sekadar pelajaran sekolah. Membaca adalah cara untuk membuka masa depan—satu kalimat demi satu kalimat (*)



