Oleh: Feriyadin
Kota Bima sesungguhnya berada pada posisi strategis dalam peta pariwisata nasional. Ia bukan sekadar kota persinggahan, melainkan simpul pergerakan wisatawan yang menghubungkan Bali, Lombok, Sumbawa, hingga Labuan Bajo—destinasi super prioritas Indonesia.
Dalam perspektif ilmu pariwisata, posisi ini dikenal sebagai passing-through destination, yakni wilayah yang dilalui arus wisatawan. Sayangnya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kota Bima masih lebih sering berperan sebagai daerah transit, bukan tujuan utama wisata.
Padahal, kota transit bukanlah takdir. Dengan strategi yang tepat, ia bisa bertransformasi menjadi destinasi yang tidak hanya dilewati, tetapi juga dipilih dan dinikmati.
Masalahnya bukan pada “apa yang dimiliki”, melainkan “bagaimana dikemas”.
Kota Bima sejatinya memiliki modal kuat: pesona pesisir seperti Lawata dan Amahami, kekayaan budaya lokal, serta aksesibilitas yang baik. Namun, potensi tersebut belum dikemas menjadi pengalaman wisata yang utuh.
Dalam konsep manajemen destinasi, keberhasilan pariwisata tidak hanya bergantung pada daya tarik (attraction), tetapi juga pada kemampuan menciptakan pengalaman menyeluruh. Wisatawan modern tidak lagi sekadar mencari tempat, melainkan pengalaman.
Di sinilah Kota Bima perlu melakukan lompatan paradigma: dari objek wisata menuju experiential tourism.
Bayangkan wisatawan yang awalnya hanya singgah untuk makan, kemudian diajak menikmati paket wisata singkat—menyaksikan matahari terbenam di Lawata, belajar menenun kain khas Bima, hingga menikmati kuliner lokal dengan cerita budaya yang kuat. Inilah yang disebut value creation: menciptakan alasan agar wisatawan tinggal lebih lama.
Transformasi ini semakin penting di era digital. Hari ini, perjalanan wisata dimulai dari layar ponsel. Wisatawan mencari inspirasi di media sosial, membaca ulasan, hingga memesan layanan secara online.
Artinya, jika Kota Bima tidak hadir secara kuat di ruang digital, maka ia praktis “tidak ada” dalam pilihan wisatawan.
Banyak destinasi kecil mampu viral bukan karena sumber daya besar, tetapi karena narasi yang kuat. Kota Bima pun memiliki cerita yang tak kalah menarik: filosofi Maja Labo Dahu, kehidupan masyarakat pesisir, hingga keindahan alam yang autentik.
Semua itu perlu dikemas dalam storytelling digital yang konsisten—melalui video pendek, fotografi, dan konten kreatif. Inilah inti dari destination branding: membangun identitas yang melekat di benak wisatawan.
Namun, pariwisata tidak bisa dibangun sendiri oleh pemerintah. Ia membutuhkan kolaborasi.
Masyarakat, pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga generasi muda harus dilibatkan. UMKM dapat menjadi tulang punggung kuliner lokal, komunitas menghidupkan event budaya, sementara anak muda menjadi motor promosi digital.
Dengan demikian, pariwisata bukan hanya sektor ekonomi, tetapi juga ruang pemberdayaan.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Penataan kawasan yang belum optimal, persoalan sampah, hingga minimnya keterlibatan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah. Padahal, wisatawan saat ini sangat sensitif terhadap kebersihan, kenyamanan, dan keamanan.
Jika hal-hal mendasar ini tidak dibenahi, maka pengalaman wisata akan terganggu.
Mengubah Kota Bima dari kota transit menjadi destinasi tujuan memang bukan proses instan. Dibutuhkan visi, strategi, dan konsistensi.
Kuncinya sederhana namun krusial: ciptakan alasan bagi wisatawan untuk tinggal. Hadirkan pengalaman autentik, bangun narasi yang kuat, dan perkuat kehadiran digital.
Kota Bima tidak kekurangan potensi. Ia hanya perlu mengemas dirinya dengan lebih cerdas dan relevan.
Jika arus wisata yang selama ini hanya “melewati” dapat diubah menjadi “menetap”, maka pariwisata tidak hanya menjadi penggerak ekonomi, tetapi juga jalan untuk memperkuat identitas dan kesejahteraan masyarakat.
Pada titik itu, Kota Bima tidak lagi sekadar persinggahan—melainkan sebuah cerita yang ingin dialami (*)

















