Senin kelabu, Bima tenggelam dalam riwayat lama,
Dari Sanggar hingga Bolo, Wawo, dan Soromandi.
Pukul sebelas berlalu, langit pecah tak tertahan,
Air deras dari puncak, memeluk setiap lahan.
Enam ratus lebih rumah terendam, jiwa terkesima,
Di balik lumpur dingin, tersisa duka dan trauma.
Bukan hanya badai, bukan hanya petir yang menyala,
Ada janji yang terkhianati, di tubuh gunung yang terluka.
Di lereng curam, rimba raya kini telah tiada,
Ganti hijaunya kemiri dan sonokeling, tegak barisan jagung yang mendamba.
Demi sebungkah harga, tanah dibiarkan telanjang,
Di mana akar yang memeluk, di mana humus berjuang?
Saat hujan turun, ia tak lagi menemukan kawan setia,
Tak ada hutan yang menahan, tak ada akar yang menunda.
Air lari tergesa, membawa lumpur, batu, dan sejarah,
Menumpuk di desa, di pintu rumah yang tak bersalah.
Debit sungai meronta, tanggul tak sanggup menahan,
Luapan setinggi pinggang, di desa-desa yang kelelahan.
Dari Kore, Nggembe, hingga Lewintana, duka merata,
Menjadi saksi bisu, air mata dari puncak Dana.
Kini, lumpur dibersihkan, atap dicari pengganti,
Namun pertanyaan abadi, harusnya kita mengerti:
Bukan hanya logistik, bukan hanya excavator yang dicari,
Tapi janji kita pada bumi, untuk tak lagi mengkhianati.
Sebab Bima adalah kita, dan gunung adalah hati,
Jika kita cabut nadinya, ia akan membalas pasti.
Bersemilah kembali hutan, di batas kemiringan yang tinggi,
Agar esok tak terulang, tangis di malam hari.










