Kota Bima, Berita11.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bima mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Juli 2026 sebesar 4,06 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,04. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga di seluruh kelompok pengeluaran rumah tangga dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kota Bima, Tuti Juhaeti, menjelaskan inflasi terjadi karena kenaikan harga pada sebelas kelompok pengeluaran.
Berdasarkan data BPS, kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik 3,91 persen; pakaian dan alas kaki 1,34 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 2,92 persen; perlengkapan rumah tangga 2,08 persen; kesehatan 2,73 persen; transportasi 1,95 persen; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 4,46 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya 5,90 persen; pendidikan 6,86 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 4,72 persen; serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 11,00 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan 11 persen. “Komoditas emas perhiasan memberikan andil terbesar terhadap inflasi kelompok ini,” jelas Tuti, Senin (3/8/2026).
Sejumlah komoditas dominan menyumbang inflasi y-on-y, antara lain emas perhiasan, biaya pendidikan perguruan tinggi, telepon seluler, sigaret kretek mesin, pelumas, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, ayam hidup, air kemasan, ikan asin layang, ikan bakar, apel, pepes, udang basah, bensin, serta ongkos binatu.
Sementara itu, komoditas yang menekan inflasi atau memberikan andil deflasi y-on-y di antaranya tomat, angkutan udara, ikan nila, cabai rawit, angkutan antar kota, kelapa, kerudung/jilbab, telur ayam ras, sabun detergen bubuk, bawang merah, kangkung, bayam, ikan tenggiri, parfum, pakaian bayi, dan pisang.
Inflasi y-on-y Juli 2026 sebesar 4,06 persen lebih tinggi dibanding Juli 2025 yang tercatat 3,20 persen dan Juli 2024 sebesar 1,98 persen. Adapun inflasi year to date (y-to-d) Juli 2026 mencapai 2,41 persen, naik dari 1,31 persen pada Juli 2025 dan 0,45 persen pada Juli 2024.
Meski inflasi tahunan meningkat, pada Juli 2026 terjadi deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,31 persen. Deflasi bulanan dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas seperti tomat, cabai rawit, bawang merah, angkutan udara, asam, cabai merah, tauge, tempe, ayam hidup, pisang, salak, tahu mentah, anggur, kangkung, daun kelor, jeruk, dan kol putih.
Berdasarkan perbandingan antarwilayah, inflasi y-on-y Kota Bima sebesar 4,06 persen tercatat lebih tinggi dibanding Kabupaten Sumbawa yang hanya 2,50 persen. [B-19]
Follow informasi Berita11.com di Google News












