RSUD Bima belum Ramah Disabilitas

Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Bima. Foto MR/ Berita11.com.
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Bima. Foto MR/ Berita11.com.

Bima, Berita11.com— Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima atau yang telah berganti nomenklatur Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Bima dinilai oleh sejumlah warga, pasien dan kerabat pasien belum ramah disabilitas. Salah satunya masalahnya minimnya jumlah kursi roda bagi pasien berkebutuhan khusus yang mengakses layanan di rumah sakit setempat.

Salah satu kerabat mantan pasien sal perawatan penyakit dalam RSUD Bima, Rosdiana mengaku kecewa dengan pelayanan RSUD Bima. Masalahnya orang tuanya saat masuk dirawat di RSUD setempat sulit mendapatkan kursi roda setelah tiba dari rujukan maupun saat pindah ke ruang perawatan. Demikian juga saat keluar atau selesai menjalani perawatan. Padahal menurutnya seharusnya kursi roda harus tersedia bukan hanya dua di Instalasi Gawat Darurat (IGD), namun lebih dari satu.

Bacaan Lainnya

“Tidak ada kursi Roda di depan RSUD Bima, bahkan kursi roda untuk IGD saja cuma dua. Itupun terkadang dipakai oleh yang sangat membutuhkan dan giliran, entah jalur mana pasien yang pakai kursi roda, sehingga kursi roda itu tidak ada,” ujarnya.

Dikatakannya, kursi roda di poli penyakit dalam hanya satu satu dan jika pasien ingin menggunakan kursi roda tersebut harus menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) sebagai jaminan. Kualitas pelayanan tersebut disesali oleh dirinya. Apalagi sebagian besar pasien yang dirawat dan menjalani perawatan jalan didominasi pasien penyakit berat seperti stroke, jantung maupun komplikasi sehingga sulit berjalan sendiri tanpa bantuan kursi roda.

“Seharusnya semakin tinggi statusnya kualitas layanan semakin dibenahi. Kursi roda ini sebuah hal yang krusial seharusnya diperhatikan oleh manajemen rumah sakit, sehingga kami menganggap rumah sakit ini belum ramah disablitas atau pasien berkebutuhan khusus,” ujar wanita yang juga salah satu tenaga pengajar salah satu SMK di Kabupaten Bima itu.

BACA JUGA: Ini Kesiapan Pengamanan Pemilu 2024 di Kabupaten Bima

Sorotan yang sama juga disampaikan kerabat mantan pasien lain dari Kabupaten Bima, Rahma. Dia kecewa dengan pelayanan RSUD Bima bagi pasien berkebutuhan khusus karena minimnya jumlah kursi roda di rumah sakit setempat.

Menurutnya RSUD Bima belum ramah pasien berkebutuhan khusus (disabilitas). Misalnya saja, loket pendaftaran bagi pasien umum maupun yang menjalani perawatan jalan berada di lantai 2. Pasien berkutuhan khusus seperti suaminya harus tertatih-tatih menaiki anak tangga demi anak tangga di RSUD Bima, tanpa dilengkapi akses kursi roda dan tanpa dilengkapi akses lift. Hal tersebut sangat menyulitkan bagi pasien berkebutuhan khusus seperti suaminya yang sulit berjalan karena dua kali diserang stroke.

“Padahal kami perhatikan itu banyak pasien stroke yang pakai tongkat dan sulit berjalan itu harus dipapah oleh keluarganya untuk naiki tangga menuju lantai 2 tempat loket pendaftaran maupun tempat dokter layanan poli (dokter) syaraf. Itu pasien yang berkebutuhan khusus yang hendak mendapatkan layanan ndak sedikit,” ujarnya.

Rahma menceritakan pengalaman buruk suaminya saat menjalani perawatan jalan di RSUD Bima. Meskipun merupakan pasien storeke yang sedang menjalani perawatan jalan setelah sempat dua kali opname, suaminya terpaksa jalan dengan tertatih-tatih di area RSUD Bima saat mengakses layanan fisioteraphy dan beberapa bulan lalu kondisi fatal nyaris menimpa suaminya setelah terjatuh di lantai rumah sakit setempat dan sempat tidak sadarkan diri setelah terjatuh karena tidak tersedianya kursi roda. “Setelah jatuh dan pingsan hampir dibawa ke ICCU karena terpaksa jalan keluar dari ruang fisioterahpy tanpa bantuan kursi roda. Tapi untung cepat sadarkan diri,” katanya.

Dia berharap agar pihak manajemen RSUD Bima memerhatikan kualitas layanan. Salah satu yang perlu dibenahi harus ramah pasien berkebutuhan khusus (disabilitas). Apalagi dewasa ini banyak pasien penyakit berat seperti jantung, penyakit syaraf yang membutuhkan layanan perawatan jalan di rumah sakit setempat.

BACA JUGA: Soal Pustu Desa Tumpu Dibangun di Tanah Sekolah, Pemkab Bima Pastikan tak Masalah

Sementara itu, Bagian Hubungan Masyarakat RSUD (BLUD) Bima, dr H Muhammad Akbar tidak membantah bahwa jumlah kursi roda di rumah sakit setempat terbatas.

“Terkait keterbatasan jumlah kursi roda sebenarnya sudah diadakan pengadaan atau penambahan jumlahnya. Saat ini keadaan kursi roda banyak yg dalam keadaan kurang layak digunakan sehingga jumlah yg dapat dipakai oleh pasien terbatas,” ujarnya saat dikonfirmasi Berita11.com melalui layanan pesan media sosial whatshapp, Minggu (9/7/2023).

Dikatakannya, sejumlah kursi roda yang rusak sedang diperbaiki, sedangkan kursi roda yang rusak total sedang diajukan penggantian. “Di setiap ruangan perawatan tetap ada kursi roda yg tersedia. Untuk yang di Poli saat ini kursi roda nya memang lagi banyak yg tidak layak digunakan,” ujarnya.

Akbar juga menyatakan bahwa RSUD (BLUD) Bima terbuka menerima masukan dan saran, termasuk berkaitan layanan terhadap pasien berkebutuhan khusus atau soal jumlah kursi roda di RSUD Bima yang terbatas.

Diakuinya, dengan status RSUD Bima yang sudah berubah nomenklatur menjadi BLUD saat ini sudah bisa mengajukan anggaran untuk pengadaan kursi roda.

Sementara itu, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kabupaten Bima, Suryadin tidak menjawab dengan gamblang saat dikonfirmasi Berita11.com terkait antisipasi maupun upaya Pemda merespon kondisi layanan RSUD (BLUD) Bima yang belum ramah pasien berkebutuhan khusus.

Mantan Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Desiminasi Informasi, Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kabupaten Bima itu hanya menanyakan kembali kepada wartawan, apakah status pasien yang mengeluhkan kursi roda yang terbatas di RSUD Bima dalam kondisi meminta akses kursi roda atau dalam kondisi pasif menunggu layanan kursi roda. [B-19/B-22]

Pos terkait