Di Ruang Kelas yang Nyaris Sunyi

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Di negeri yang saban tahun

merayakan pendidikan dengan spanduk dan pidato,

Bacaan Lainnya

anak-anak masih mengeja masa depan

dengan buku lusuh dan papan tulis retak.

 

Kabupaten ini menyimpan ironi panjang,

di antara bukit, sawah, dan jalan berdebu,

angka-angka literasi dan numerasi

masih tercecer di sudut ruang kelas

yang kehilangan cahaya.

 

Guru datang dan pergi

membawa kurikulum baru,

membawa istilah-istilah hebat:

transformasi, digitalisasi, inovasi pembelajaran.

Namun di bangku belakang,

seorang anak masih terbata membaca kalimat sederhana,

masih gemetar menghitung pecahan.

BACA JUGA:  Palak Truk Pengangkut Pasir, Pemuda di Kempo Diamankan Polisi

 

Katanya pendidikan adalah jalan kemajuan,

tetapi mengapa banyak sekolah

berjalan tanpa arah?

 

Rasio guru dan murid

nyaris seimbang di beberapa sekolah;

kelas tak lagi sesak,

nama-nama hadir tercatat rapi.

Namun hasil belajar tetap tertatih,

nilai numerasi jatuh berulang kali,

literasi seperti perahu bocor

yang karam sebelum sampai pelabuhan.

 

Ada guru yang mengabdi bertahun-tahun

tanpa sertifikasi,

tanpa pelatihan yang memadai,

tanpa ruang tumbuh untuk meningkatkan kapasitas.

Sebagian mengajar sekadar menggugurkan jam,

sebagian lain kelelahan

melawan sistem yang berjalan lamban.

 

Inovasi hanya hidup di atas kertas laporan,

di seminar-seminar berpendingin udara,

sementara di desa-desa

anak-anak masih berebut buku paket

yang jumlahnya tak cukup untuk satu kelas.

BACA JUGA:  STKIP Harapan Bima Jalin Kerja Sama dengan Undiksha Bali, Sosialisasikan Program Doktoral

 

Dan kita kembali bertanya:

mengapa Indeks Pembangunan Manusia

Kabupaten Bima

terus tertinggal di Pulau Sumbawa?

 

Jawabannya mungkin tersembunyi

di ruang kelas yang terlalu lama diabaikan,

di kualitas pembelajaran yang berjalan seadanya,

di mimpi anak-anak

yang perlahan mengecil

karena negara terlalu sering sibuk menghitung anggaran

daripada menghitung masa depan.

 

Padahal pendidikan bukan sekadar angka statistik,

bukan seremoni tiap bulan Mei,

bukan pidato yang selesai sebelum siang.

 

Pendidikan adalah keberanian

menyelamatkan generasi

dari gelapnya ketertinggalan.

 

Dan bila hari ini

literasi masih rendah,

numerasi masih rapuh,

dan mutu pendidikan masih terseok,

maka sesungguhnya yang gagal

bukan anak-anak itu.

 

Melainkan kita semua

yang terlalu lama membiarkan mereka

belajar dalam ketidakadilan.

 

Pos terkait