Di negeri yang saban tahun
merayakan pendidikan dengan spanduk dan pidato,
anak-anak masih mengeja masa depan
dengan buku lusuh dan papan tulis retak.
Kabupaten ini menyimpan ironi panjang,
di antara bukit, sawah, dan jalan berdebu,
angka-angka literasi dan numerasi
masih tercecer di sudut ruang kelas
yang kehilangan cahaya.
Guru datang dan pergi
membawa kurikulum baru,
membawa istilah-istilah hebat:
transformasi, digitalisasi, inovasi pembelajaran.
Namun di bangku belakang,
seorang anak masih terbata membaca kalimat sederhana,
masih gemetar menghitung pecahan.
Katanya pendidikan adalah jalan kemajuan,
tetapi mengapa banyak sekolah
berjalan tanpa arah?
Rasio guru dan murid
nyaris seimbang di beberapa sekolah;
kelas tak lagi sesak,
nama-nama hadir tercatat rapi.
Namun hasil belajar tetap tertatih,
nilai numerasi jatuh berulang kali,
literasi seperti perahu bocor
yang karam sebelum sampai pelabuhan.
Ada guru yang mengabdi bertahun-tahun
tanpa sertifikasi,
tanpa pelatihan yang memadai,
tanpa ruang tumbuh untuk meningkatkan kapasitas.
Sebagian mengajar sekadar menggugurkan jam,
sebagian lain kelelahan
melawan sistem yang berjalan lamban.
Inovasi hanya hidup di atas kertas laporan,
di seminar-seminar berpendingin udara,
sementara di desa-desa
anak-anak masih berebut buku paket
yang jumlahnya tak cukup untuk satu kelas.
Dan kita kembali bertanya:
mengapa Indeks Pembangunan Manusia
Kabupaten Bima
terus tertinggal di Pulau Sumbawa?
Jawabannya mungkin tersembunyi
di ruang kelas yang terlalu lama diabaikan,
di kualitas pembelajaran yang berjalan seadanya,
di mimpi anak-anak
yang perlahan mengecil
karena negara terlalu sering sibuk menghitung anggaran
daripada menghitung masa depan.
Padahal pendidikan bukan sekadar angka statistik,
bukan seremoni tiap bulan Mei,
bukan pidato yang selesai sebelum siang.
Pendidikan adalah keberanian
menyelamatkan generasi
dari gelapnya ketertinggalan.
Dan bila hari ini
literasi masih rendah,
numerasi masih rapuh,
dan mutu pendidikan masih terseok,
maka sesungguhnya yang gagal
bukan anak-anak itu.
Melainkan kita semua
yang terlalu lama membiarkan mereka
belajar dalam ketidakadilan.












