Kebakaran, Banjir, dan Longsor Landa Sejumlah Wilayah di Kabupaten Bima

Kondisi luapan banjir di Dusun Jala Desa Nggembe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Rabu (25/2/2026) sore.
Kondisi luapan banjir di Dusun Jala Desa Nggembe Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Rabu (25/2/2026) sore.

Bima, Berita11.com– Hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang melanda wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (25/2/2026) pukul 16.00 hingga 18.00 Wita. Kondisi cuaca ekstrem tersebut memicu sejumlah bencana hidrometeorologi, banjir, dan tanah longsor di beberapa kecamatan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, M. Nurul Huda, mengatakan tidak ada korban jiwa dalam seluruh peristiwa tersebut. Namun, ratusan kepala keluarga terdampak dan sejumlah rumah mengalami kerusakan serta terendam banjir.

Bacaan Lainnya



“Kami telah melakukan koordinasi dengan camat, aparat TNI-Polri, dan pemerintah desa setempat untuk melakukan pendataan serta penanganan darurat di lokasi terdampak,” ujar Nurul Huda dalam laporan situasi harian yang dirilis pukul 23.00 Wita, Rabu (25/2/2026).

Peristiwa kebakaran terjadi lebih dahulu pada Rabu dini hari sekra pukul 01.00 Wita di RT 09 Dusun Ompu Tala, Desa Waworada, Kecamatan Langgudu. Satu unit rumah milik Dedi (35), seorang petani, hangus terbakar.

Berdasarkan dugaan sementara, kebakaran dipicu hubungan arus pendek listrik. Api dengan cepat membesar akibat angin kencang sehingga sulit dipadamkan meskipun warga berupaya melakukan pemadaman secara manual.

BACA JUGA:  Banjir Meluap di Pemukiman Warga Kabupaten Bima, ini Daftar Kerugiannya

Akibat kejadian tersebut, satu kepala keluarga yang terdiri atas empat jiwa terdampak dan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Kerugian materiil ditaksir mencapai Rp800 juta.

Masih di Kecamatan Langgudu, sekira pukul 16.20 Wita, terjadi tanah longsor di Jalan Lintas Tente–Karumbu, Desa Waworada. Longsor disebabkan tanah yang labil akibat curah hujan tinggi. Material tanah dan pohon tumbang sempat menutup badan jalan dan menghambat arus lalu lintas. Warga kemudian membersihkan material longsor sehingga lalu lintas kembali normal.

Banjir juga melanda Kecamatan Bolo. Di Desa Nggembe, luapan sungai akibat derasnya aliran air dari gunung menyebabkan genangan setinggi 10 hingga 40 sentimeter. Sebanyak 204 kepala keluarga terdampak dengan 177 unit rumah terendam.

Rinciannya, 94 kepala keluarga dengan 80 rumah terdampak di Dusun Jala, serta 110 kepala keluarga dengan 97 rumah terdampak di Dusun Wa’itawoa. Banjir telah surut dan warga melakukan pembersihan lumpur. Tidak ada pengungsian dalam peristiwa tersebut.

Di Desa Rato, banjir setinggi 10 hingga 30 sentimeter merendam 15 unit rumah di RT 13 dan berdampak pada 12 kepala keluarga atau 40 jiwa. Luapan air dipicu drainase yang tidak mampu menampung debit air serta tersumbat sampah. Banjir sempat mengganggu akses jalan lingkungan sebelum akhirnya berangsur surut.

BACA JUGA:  Dilanda Hujan Deras, Jembatan di Desa Sekitar Gunung Tambora Putus

Di Kecamatan Madapangga, banjir terjadi di tiga desa. Di Desa Rade, genangan setinggi 10 hingga 20 sentimeter sempat mengganggu arus lalu lintas di ruas jalan lintas Bolo–Dena akibat luapan drainase. Kondisi kini telah normal.

Sementara itu, di Desa Monggo, banjir setinggi 10 hingga 30 sentimeter merendam 34 unit rumah dan berdampak pada 34 kepala keluarga atau 105 jiwa. Akses jalan di perbatasan Desa Ncandi dan Monggo juga sempat terganggu.

Di Desa Ncandi, banjir dengan ketinggian serupa merendam tujuh rumah dan berdampak pada tujuh kepala keluarga atau 23 jiwa. Luapan sungai akibat tingginya debit air dari wilayah Donggo menjadi penyebab utama banjir di dua desa tersebut.

“Secara umum air sudah berangsur surut dan warga melakukan pembersihan lumpur. Kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur masih dalam proses pendataan,” kata Nurul Huda.

BPBD Kabupaten Bima mencatat kebutuhan mendesak berupa bantuan tanggap darurat serta dukungan logistik dan peralatan.

Nurul Huda mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi, termasuk banjir bandang, angin puting beliung, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta potensi wabah penyakit.

Masyarakat diminta segera melapor kepada BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Babinsa, maupun Bhabinkamtibmas apabila terjadi situasi darurat. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News



Pos terkait