Washington, Berita11.com– Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada usia 86 tahun setelah serangan udara gabungan yang diluncurkan oleh militer Israel dan Amerika Serikat menghantam kediamannya di pusat Teheran, Sabtu (28/2/2026).
Kematian tokoh yang telah berkuasa selama 36 tahun ini mengakhiri era kepemimpinan garis keras yang membentuk Iran menjadi kekuatan anti-Barat di Timur Tengah. Serangan tersebut terjadi menyusul kegagalan diplomasi berkepanjangan terkait program nuklir Iran yang memicu eskalasi militer terbuka sejak Juni 2025.
Ketegangan mencapai puncaknya setelah upaya negosiasi terakhir antara pejabat AS dan Iran pada Kamis lalu menemui jalan buntu. Pihak Washington menyatakan Teheran enggan menghentikan pengayaan uranium, sementara Iran bersikeras program tersebut demi tujuan energi damai.
Serangan Sabtu malam ini merupakan operasi militer paling ambisius terhadap target Iran dalam beberapa dekade terakhir. Operasi ini menyusul perang terbuka yang pecah sejak tahun 2025, di mana jet tempur Israel dan AS secara intensif menyerang fasilitas nuklir serta infrastruktur militer strategis di wilayah Iran.
Warisan Kekuasaan dan Isolasi
Menjabat sejak 1989 menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Khamenei dikenal sebagai sosok yang memegang kendali mutlak atas militer, peradilan, dan media negara. Di bawah arahannya, Iran memperluas pengaruh regional melalui “Poros Perlawanan” yang melibatkan kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi.
Namun, pengamat menilai tahun-tahun terakhir kepemimpinannya sebagai masa tersulit bagi Iran:
Melemahnya Pengaruh Regional:
Kehilangan sekutu strategis dan serangkaian kekalahan militer kelompok pro-Iran di Lebanon dan Gaza.
Krisis Dalam Negeri:
Protes besar-besaran sejak kematian Mahsa Amini tahun 2022 yang diikuti oleh tindakan keras dari aparat keamanan.
Sanksi Ekonomi:
Isolasi internasional yang kian mendalam setelah penarikan AS dari perjanjian nuklir pada masa pemerintahan Donald Trump.
Ketidakpastian Pasca-Khamenei
Meskipun Khamenei telah mengeluarkan fatwa yang melarang produksi senjata nuklir sejak pertengahan 1990-an, kecurigaan Barat terhadap ambisi atom Teheran tetap menjadi motor utama konflik.
Kini, Republik Islam Iran menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Di tengah ancaman serangan lanjutan dari Israel dan AS, rezim di Teheran juga harus menghadapi tekanan internal dari generasi muda yang semakin vokal menuntut perubahan kebijakan dan normalisasi hubungan dengan dunia internasional. [B-19]
Follow informasi Berita11.com di Google News











