Bima, Berita11.com– Hujan deras dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang menerjang wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, pada Jumat (20/3/2026) siang. Akibatnya, sejumlah desa di tiga kecamatan terendam banjir luapan dan akses jalan lintas provinsi sempat lumpuh akibat pohon tumbang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bima, Ruslan, mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem ini mulai terjadi sekitar pukul 12.00 WITA dan berlangsung hingga sore hari. Tiga kecamatan yang terdampak paling parah adalah Kecamatan Bolo, Palibelo, dan Soromandi.
“Banjir dipicu oleh luapan air dari wilayah pegunungan di Kecamatan Donggo yang mengalir deras ke pemukiman. Kondisi ini diperparah oleh penyempitan drainase dan banyaknya tumpukan sampah yang menyumbat jembatan,” ujar Ruslan dalam keterangannya, Jumat (20/3) malam.
Di Kecamatan Bolo, Desa Rada dan Desa Nggembe menjadi wilayah terdampak banjir paling signifikan. Tercatat sebanyak 63 rumah di Desa Rada dan 177 rumah di Desa Nggembe terendam air dengan ketinggian mencapai 10 hingga 60 sentimeter. Tidak hanya pemukiman, fasilitas pendidikan seperti SDN Rada, TK Al-Ikhlas, dan SDN Inpres Jala juga tergenang lumpur.
Sementara itu, di Kecamatan Palibelo, banjir merendam 12 rumah warga di Desa Bre. Selain banjir, angin kencang juga mengakibatkan pohon tumbang berukuran besar di Desa Timu dan Desa Panda (Dusun Kalaki). Kejadian ini sempat menyebabkan kemacetan panjang di jalur lintas Sumbawa-Bima sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim gabungan.
“Untuk korban jiwa nihil. Namun, sebanyak 287 kepala keluarga atau sekitar 984 jiwa terdampak secara ekonomi dan mobilitas,” tambah Ruslan.
Hingga Jumat malam pukul 21.00 WITA, BPBD melaporkan bahwa kondisi air di sebagian besar lokasi telah berangsur surut. Warga dibantu tim gabungan mulai membersihkan sisa lumpur di rumah-rumah dan fasilitas umum. Meski demikian, pihak BPBD masih melakukan pendataan terhadap potensi kerusakan lahan pertanian warga.
Ruslan menegaskan bahwa saat ini kebutuhan mendesak yang diperlukan warga adalah bantuan logistik dan peralatan pembersihan (logpal). Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi susulan seperti banjir bandang, tanah longsor, hingga angin puting beliung.
“Kami terus berkoordinasi dengan dinas terkait dan pemerintah provinsi untuk penanganan darurat serta perbaikan infrastruktur drainase agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tutupnya.
Follow informasi Berita11.com di Google News

















