Jalan Kaki Ratusan Kilometer, Murid jadi Pejabat Kementrian

Abdurrazak dan rekan-rekannya sesama alumni SPG Bima.
Abdurrazak dan rekan-rekannya sesama alumni SPG Bima.

Rabu, 25 November, seluruh daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Bima, memperingati Hari Guru Nasional. Momentum tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga waktu yang tepat untuk merefleksikan dedikasi para pendidik yang mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan, bahkan hingga pelosok terpencil.

Salah satu sosok itu adalah Abdurrazak Muhammad. Puluhan tahun hidupnya dihabiskan sebagai guru di daerah terpencil Kabupaten Bima. Baginya, penempatan di pelosok bukanlah hukuman, melainkan amanah dan tantangan yang harus dijalani dengan ikhlas.

Bacaan Lainnya

Karirnya dimulai setelah menamatkan pendidikan di SPG Bima tahun 1976. Saat sebagian orang berharap ditempatkan di kota, Abdurrazak justru memulai pengabdian di SD Labuan Kananga, Kecamatan Sanggar—kini Kecamatan Tambora.

Meskipun  ditugaskan jauh dari kampung, baginya tugas merupakan amanah yang harus selalu siap diemban. Terlebih PNS juga terikat janji siap ditugaskan di manapun.

“Setelah tamat SPG langsung tugas di Tambora. Awalnya dulu masih bujang, setelah beberapa bulan setelah itu baru nikah. Bagi teman-teman lain mungkin tugas di daerah terpencil akan sangat berat, tapi bagi saya merupakan kewajiban sekaligus tantangan,” ujarnya mengenang masa muda.

Kala itu, menuju Tambora bukan perkara mudah. Jalan kendaraan belum tersedia. Dari Desa Bajo, Kecamatan Soromandi, ia harus berjalan kaki melewati hutan dan jalan setapak selama berhari-hari untuk mencapai lokasi tugas.

Bahkan ketika mengikuti penataran atau kegiatan dinas di Kota Bima, perjalanan panjang kembali menantinya. Kadang ia memperoleh tumpangan sampan layar dari Labuan Kananga menuju Desa Kore, lalu melanjutkan perjalanan darat dengan berjalan kaki.

“Kalau dari Labuan Kananga sampai Bajo atau Kota Bima dulu bisa tiga hari perjalanan. Satu hari jalan kaki dari Tambora ke Kore, terus nyambung ke Paruga Sante Dompu terus ke Bima,” kenang Ketua OSIS SPG Bima Tahun 1974-1975 ini.

Beberapa bulan setelah diangkat menjadi guru, Abdurrazak menikah dan memboyong istrinya ke Tambora. Sang istri pun ikut merasakan beratnya hidup di daerah terpencil, termasuk berjalan kaki melintasi jalur pegunungan dan hutan. Namun semua itu dijalani tanpa keluhan.

“Kalau mau mengeluh seperti sebagian orang yang menolak tugas di daerah terpencil sekarang, mungkin saya tidak akan bertahan,” katanya sambil tersenyum.

Ada banyak kenangan yang tak pernah ia lupakan selama bertugas di Tambora. Salah satunya ketika harus berenang bersama siswa karena jalur menuju Desa Kore terputus.

“Waktu itu jalan masih setapak. Ada bagian yang buntu, jadi harus berenang untuk melewatinya. Untung siswa-siswa saya pandai berenang,” ceritanya.

Kenangan lain yang masih membekas adalah ketika ia dan keluarganya berlayar menggunakan sampan kecil menuju Kore. Di tengah perjalanan, ia dan keluarganya pernah mengalami peristiwa mistis berupa “teluh api” yang melintas dari arah gunung.

BACA JUGA:  Siswa Kami Merajut Masa Depan di bawah Bayang Maut

“Tapi Alhamdulillah tidak mengenai kami. Semua saya tawakalkan kepada Allah,” ujarnya.

Setelah lebih dari setahun di Tambora, Abdurrazak dipindahkan ke SDN 2 Kore, Kecamatan Sanggar. Beban perjalanan sedikit berkurang, tetapi tantangan hidup di pelosok masih terus dihadapi.

Tahun 1980, ia kembali dipindahkan ke SDN Inpres O’o, Kecamatan Donggo. Setiap hari, ia harus berjalan kaki sekitar 20 kilometer dari Desa Bajo menuju tempat tugas.

Setahun kemudian, ia ditugaskan di SDN Inpres Bajo di Dusun Ndano Ndere. Jarak tempuh memang lebih dekat, tetapi pengabdian panjangnya sebagai guru di wilayah terpencil belum berakhir.

Ketekunan dan dedikasinya kemudian mendapat kepercayaan dari pemerintah. Pada 1984 hingga 1987, ia dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Kepala SDN Inpres Bajo. Tahun 1991 hingga 2003, ia menjabat Kepala SDN Inpres Saba, Desa Sampungu, Kecamatan Soromandi.

Di tempat inilah tantangan hidup benar-benar ia rasakan.

Saat itu, Desa Sampungu nyaris terisolasi. Tidak ada jalan kendaraan, listrik, sinyal televisi, maupun pasar sayur. Transportasi laut hanya tersedia sekali sehari, bahkan terkadang tidak beroperasi selama sepekan ketika gelombang tinggi.

“Kami terpaksa membawa seluruh keluarga tinggal di lokasi tugas karena sulitnya transportasi,” katanya.

Jika ada kegiatan dinas di kecamatan atau kabupaten, ia harus berjalan kaki belasan kilometer karena tidak ada boat yang berani berlayar saat ombak besar.

“Malam-malam saya pernah jalan kaki sekitar 15 sampai 17 kilometer dari Desa Sai ke Desa Sampungu saat pulang mengikuti penataran di kota. Boat hanya berani jalan hingga Desa Sai,” ujarnya.

Meski hidup penuh keterbatasan, Abdurrazak tidak pernah kehilangan semangat belajar. Setelah lulus SPG, ia melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka, kemudian menyelesaikan pendidikan di STIH Bima, S1 Pendidikan di STKIP Bima, hingga akhirnya meraih gelar Magister Pendidikan setelah menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Pulau Jawa.

Baginya, menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi jalan pengabdian.

Selain sukses berkarir sebagai pendidik, Abdurrazak juga aktif di berbagai organisasi sosial dan kepemudaan. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Ranting PGRI, Ketua KNPI Kecamatan Donggo, majelis pembimbing Gerakan Pramuka, Ketua LKMD selama dua periode, hingga Ketua Pengurus Masjid di wilayahnya. Ia juga dipercaya menjadi pengurus KPRI Kabupaten Bima.

Puncaknya, saat memimpin organisasi guru di tingkat wilayah, ia pernah mengikuti Kongres Nasional. Pengalaman itu menjadi salah satu kebanggaan tersendiri dalam perjalanan panjang pengabdiannya sebagai pendidik.

Puluhan tahun menjadi pendidik, ia telah menerima berbagai penghargaan, termasuk Satyalancana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia juga pernah menjadi pengawas berprestasi tingkat Kabupaten Bima dan mewakili daerah pada ajang tingkat Provinsi NTB.

Namun penghargaan terbesar baginya bukanlah piagam atau medali. Kebanggaan sesungguhnya adalah melihat murid-muridnya tumbuh sukses. Ada yang menjadi pejabat, kepala sekolah, anggota TNI dan Polri, hingga pejabat kementerian.

BACA JUGA:  Takdir Matematika dan Janji pada Sang Pahlawan: Kisah Desi Nargis, Wisudawati Terbaik yang Terinspirasi Pengorbanan Kakak

“Saya paling bangga kalau melihat murid atau anak-anak berhasil,” ungkap  jawara kelas SPG Bima tahun 1973-1976 ini.

Kebanggaan serupa juga datang dari keluarganya. Anak-anak dan keponakannya banyak yang menorehkan prestasi akademik hingga tingkat nasional. Salah satu keponakannya bahkan pernah mewakili Indonesia pada Olimpiade Sains di Singapura. Sementara yang lainnya, pernah menjadi duta NTB dalam olimpiade Fisika Nasional, saat duduk di bangku SMAN 1 Raba.

Putra sulung Abdurrazak sering menjadi jawara di SMAN 1 Bima. Hal yang sama juga ditunjukkan anaknya yang lain dengan menjadi jawara kelas dan wisudawan terbaik. Anaknya juga pernah meraih medali perunggu saat Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Universitas Brawijaya, Tahun 2009 silam.

Menurut pria yang hobi catur dan bulutangkis ini, kebanggaan yang hampir tak ada taranya saat melihat prestasi murid, anak dan keponakkannya. Bahkan anak kandung dari kakak iparnya yang sebelumnya sama-sama menempuh pendidikan di SPG Bima, pernah mewakili Indonesia dalam ajang olimpiade sains di Singapura. Kini sejumlah keponakannya itu  menjadi pejabat di Kementrian seperti Kementrian Kelautan dan Perikanan.

“Saya juga cukup bangga dan belajar dari kakak ipar, dulu sama-sama SPG. Bedanya kakak ipar langsung lanjut kuliah di IKIP Jakarta dan karir puncaknya menjadi Wakil Kepala SMKN di Jakarta. Tapi yang bikin salut, anak-anaknya berprestasi luar biasa dan rata-rata kerja di Kementrian. Itu saja pun kami keluarga guru sudah bangga,” ujarnya.

Bagi Abdurrazak, sukses sebagai pendidik bukan saja dilihat dari karir fungsional atau prestasi yang diraih siswa didik. Namun juga diukur dari dalam keluarga dan keterlibatan sosial dalam masyarakat. Apalagi guru tidak hanya memiliki kompetensi pedagogik, tapi sisi sosial.

Meski telah puluhan tahun mengabdi, semangatnya belum padam. Menjelang masa pensiun, Abdurrazak masih aktif membina guru dan kepala sekolah di berbagai kecamatan di Kabupaten Bima. Hampir setiap bulan ia mengikuti pelatihan di Mataram sebagai Korwas Dinas Dikpora Kabupaten Bima sekaligus asesor Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan.

Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap menempuh perjalanan panjang demi pendidikan.

Bagi Abdurrazak, guru bukan hanya mengajar di kelas. Guru juga harus hadir di tengah masyarakat, memberi teladan, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sosial.

Ia masih mengingat bagaimana masyarakat di Dusun Saba begitu memuliakan guru.

“Di sana guru sangat dihormati. Setiap ada acara, guru selalu diutamakan. Bahkan kami sering diminta menjadi khatib Jumat atau khatib hari raya,” kenangnya.

Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan hari ini, kisah Abdurrazak seperti mengingatkan bahwa pengabdian seorang guru tidak selalu lahir dari fasilitas yang lengkap. Kadang justru tumbuh dari jalan-jalan sunyi, perjalanan panjang, dan keteguhan hati yang nyaris tak pernah terlihat.

“Di mana pun bertugas, jangan dianggap beban. Itu amanah,” pesannya (*)

Pos terkait