Di Balik Bukit Ntoke, Nabila Menjaga Mimpi di Tengah Keterbatasan

Nabila Alisa Putri berupaya menyelesaikan gambar di tengah keterbatasannya melihat.
Nabila Alisa Putri berupaya menyelesaikan gambar di tengah keterbatasannya melihat.

Kabut perlahan turun menutupi gugusan perbukitan hijau di Desa Ntoke, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, siang itu. Dari halaman SDN Inpres Ntoke, bentang alam pegunungan tampak seperti lukisan raksasa yang membentang di depan ruang-ruang kelas sederhana. Angin sesekali berembus pelan, membawa udara dingin dari lereng bukit yang mengelilingi sebagian wilayah desa terpencil tersebut.

Di dalam ruang kelas, suasana berbeda terlihat. Belasan siswa berseragam cokelat pramuka duduk berkelompok di atas bangku kayu. Di hadapan mereka terbentang buku gambar putih dan kotak crayon warna-warni yang baru saja dibagikan tim YAPPIKA bersama YISA Ambalawi.

Bacaan Lainnya

Tangan-tangan kecil itu mulai bergerak, menorehkan garis demi garis di atas kertas. Ada yang menggambar rumah, gunung, pepohonan, bunga hingga langit biru. Sesekali terdengar tawa kecil dan bisik-bisik antarsiswa yang saling memperlihatkan hasil gambar mereka.

Di antara anak-anak itu, seorang siswi berhijab cokelat tampak lebih pelan dibanding teman-temannya. Ia beberapa kali mendekatkan wajah ke buku gambar, seolah berusaha memastikan garis yang dibuatnya tidak keluar dari bentuk yang ia bayangkan.

Namanya Nabila Alisa Putri.  Siswi 10 tahun itu menggenggam pensil 2B dengan hati-hati menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya sesekali mengusap mata. Dengan susah payah ia memilih crayon satu per satu dari kotak kecil di depannya.

Namun keterbatasan itu tak membuatnya menyerah. Sedikit demi sedikit, Nabila menyelesaikan gambar sebuah rumah sederhana di bawah deretan bukit hijau. Di sekeliling rumah terdapat pepohonan dan bunga-bunga kecil, sementara awan putih tampak menggantung di atas pegunungan.

Gambar itu sederhana. Tetapi di balik garis-garis yang tampak biasa, tersimpan ketekunan seorang anak yang berusaha melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Gambar hasil karya Nabila Alisa Putri.
Gambar hasil karya Nabila Alisa Putri. Foto US/ Berita11.com.

 

Nabila merupakan siswa berkebutuhan khusus di sekolah tersebut. Sejak lahir, penglihatannya tidak normal. Ia kesulitan melihat tulisan di papan tulis maupun membaca tulisan kecil di buku pelajaran.

“Dia dari lahir memang sudah susah penglihatannya. Kami juga tidak tahu kenapa bisa begitu,” ujar ibundanya, Nazma, dengan mata mulai berkaca-kaca.

BACA JUGA:  Kisah Runy Angriani: Dulu Daki Gunung Cari Sinyal dan Dikucilkan, Kini Lulus Terbaik STKIP Taman Siswa Bima dengan IPK 3,98

Siang itu Nazma menunggu putrinya di luar kelas bersama beberapa orang tua siswa lain. Sesekali ia melongok ke dalam ruangan, memperhatikan Nabila yang sibuk menggambar bersama teman-temannya.

Bagi Nazma, melihat putrinya tetap semangat bersekolah di tengah keterbatasan sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.

Nazma mengaku pernah beberapa kali membawa Nabila berkonsultasi ke dokter spesialis mata. Namun setiap pulang berobat, putrinya hanya diberikan obat tetes mata. Ia merasa tidak pernah mendapat penjelasan yang benar-benar membuatnya memahami kondisi kesehatan mata anaknya.

“Saya pernah tanya tindakan apa yang harus dilakukan untuk anak saya, tapi dokter bilang itu urusan dokter,” tuturnya.

Sejak saat itu, ketakutan mulai tumbuh dalam benaknya. Ia membayangkan operasi mata sebagai proses yang menakutkan dan berisiko besar bagi putrinya. Bayangan itulah yang membuat Nazma belum berani mengambil keputusan untuk operasi, meski harapan agar Nabila dapat melihat normal selalu ada.

Bahkan ketika aktor nasional sekaligus Goodwill Ambassador YAPPIKA, Reza Rahadian berkunjung ke SDN Inpres Ntoke pada tahun 2025 lalu dan menawarkan bantuan operasi mata gratis untuk Nabila, Nazma belum mampu menyetujuinya.

“Yang terbayang oleh saya mata anak saya akan dicongkel, sehingga saya tidak berani Nabila menjalani operasi,” ujarnya lirih.

Nazma juga menyimpan kecemasan lain yang terus menghantuinya setiap hari. Beberapa bulan lalu, Nabila dan kakaknya, Aliya, nyaris tertabrak sepeda motor saat berjalan kaki sepulang sekolah menuju rumah mereka di Dusun Wanca Desa Ntoke.

Peristiwa itu membuatnya semakin khawatir melepas kedua anaknya berjalan jauh setiap hari melewati jalan berbatu dan tanjakan di kaki bukit Desa Ntoke. Terlebih kondisi penglihatan Nabila yang terbatas membuatnya sulit melihat kendaraan dari kejauhan.

“Itu yang paling saya takutkan kalau mereka pulang sekolah sendiri,” ujarnya pelan.

Di sisi lain, Nazma dan suaminya, Ilham, tidak selalu bisa mendampingi anak-anak mereka karena harus bekerja mencari nafkah. Pasangan tersebut sama-sama hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah menengah atas (SMA).

Saat musim hujan tiba, mereka menggarap lahan jagung seluas sekitar satu hektar dengan modal satu dus benih jagung. Namun hasil panen yang diperoleh sering kali tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga selama setahun.

Untuk menambah penghasilan, Nazma ikut bekerja sebagai buruh tani di kampungnya. Sementara suaminya sesekali bekerja membantu pemilik mesin treser jagung. Meski bekerja keras hampir setiap hari, penghasilan mereka tetap pas-pasan.

BACA JUGA:  Polsek Soromandi Amankan Pria yang Diduga Cabuli Perempuan dengan Kebutuhan Khusus

Dalam kondisi terdesak, Nazma terkadang terpaksa meminjam uang kepada rentenir untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak-anaknya.

Di tengah segala keterbatasan itu, Nazma masih menyimpan harapan besar untuk putrinya. “Saya ingin dia jadi penghafal Quran,” ucapnya lirih.

Sementara Nabila, meski masih malu-malu, ternyata memiliki cita-cita sendiri. Ia ingin menjadi Polisi Wanita. “Pengen jadi Polwan kalau sudah besar,” katanya pelan sambil tersenyum.

Nazma, ibu kandung Nabila Alisa Putri. Foto US/ Berita11.com.
Nazma, ibu kandung Nabila Alisa Putri. Foto US/ Berita11.com.

Kondisi Desa Ntoke yang jauh dari fasilitas pendidikan khusus membuat Nabila harus bersekolah di sekolah umum. Tidak ada Sekolah Luar Biasa (SLB) di sekitar wilayah itu. Akibatnya, Nabila kerap tertinggal pelajaran dibanding teman-teman seusianya. Meski demikian, ia tidak pernah menyerah datang ke sekolah.

Setiap pagi, Nabila berjalan kaki bersama kakaknya, Aliya Nafitra, menuju sekolah yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah mereka di Dusun Wanca Desa Ntoke. Jalur yang mereka lewati tidak mudah. Jalan menanjak, berbatu, dan harus melewati sungai kecil.

Saat musim hujan tiba, perjalanan menuju sekolah menjadi lebih berat. “Kalau hujan besar dan sungai mulai banjir, biasanya anak-anak dari Dusun Renggang tidak masuk sekolah karena takut tidak bisa pulang,” ujar Kepala SDN Inpres Ntoke, Aynisyar’iyah.

Menurutnya, Nabila adalah satu-satunya siswa berkebutuhan khusus di sekolah tersebut. Namun sekolah berusaha memastikan lingkungan belajar tetap aman dan nyaman bagi seluruh siswa.

Di setiap kelas, guru menempel berbagai pesan bijak tentang pentingnya saling menghormati dan larangan melakukan perundungan. Sekolah ingin memastikan tidak ada diskriminasi terhadap seluruh anak.

“Alhamdulillah teman-temannya menerima Nabila dengan baik. Tidak ada bullying,” katanya.

Program Officer YISA Ambalawi, Hersan Hadi mengatakan YAPPIKA bersama YISA berupaya membantu kebutuhan Nabila agar dapat memperoleh penanganan medis yang lebih baik, termasuk kemungkinan operasi mata.

“Dari dulu sebenarnya sudah ada tawaran bantuan operasi, hanya orang tuanya masih takut,” ujarnya.

Bagi anak-anak di SDN Inpres Ntoke, menggambar siang itu mungkin hanya aktivitas sederhana. Tetapi bagi Nabila, setiap garis yang ia buat di atas kertas putih adalah cara lain untuk menyampaikan mimpi-mimpinya—tentang sekolah, tentang masa depan, dan tentang harapan yang terus tumbuh di kaki perbukitan Desa Ntoke. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait