Jakarta, Berita11.com — Peluang kerja di luar negeri semakin terbuka bagi generasi muda Indonesia. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) sebelumnya juga mendorong mahasiswa dan lulusan muda memanfaatkan peluang karier global untuk memperluas kesempatan kerja bagi tenaga terdidik Indonesia.
Namun, terbukanya pasar kerja internasional juga menghadirkan tantangan baru, khususnya bagi Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) dalam mempersiapkan calon pekerja dari generasi Z.
Bagi Gen Z, bekerja di luar negeri tidak lagi semata-mata dipandang sebagai cara memperoleh penghasilan lebih tinggi. Pengalaman kerja, kesempatan belajar, pengembangan keterampilan, hingga prospek karier jangka panjang mulai menjadi pertimbangan dalam memilih pekerjaan.
Owner TRUSTINDO Consultant, Wina Novita Dewi, mengatakan perubahan cara pandang tersebut perlu diikuti dengan pola persiapan tenaga kerja yang lebih menyeluruh.
Menurutnya, pekerjaan bagi generasi muda kini tidak hanya berkaitan dengan besaran gaji, tetapi juga kesempatan untuk terus belajar, mengembangkan kapasitas, memperoleh pengalaman, serta membangun karier secara berkelanjutan.
“Pekerjaan bukan lagi semata-mata tentang besaran gaji, tetapi juga tentang kesempatan untuk terus belajar, mengembangkan diri, memperoleh pengalaman, membangun keterampilan, serta memiliki prospek karier yang berkelanjutan,” kata Wina.
Ketika Ekspektasi Berhadapan dengan Realitas
Akses informasi yang semakin luas membuat calon pekerja memiliki ekspektasi yang lebih beragam mengenai pekerjaan, lingkungan kerja, maupun peluang pengembangan karier di negara tujuan.
Di satu sisi, kondisi tersebut membuat pekerja muda semakin sadar terhadap arah karier dan pengembangan dirinya. Namun, perbedaan antara ekspektasi dan realitas pekerjaan dapat menjadi tantangan tersendiri ketika mereka mulai menjalani kehidupan dan pekerjaan di negara tujuan.
Perbedaan budaya kerja, ritme pekerjaan, kedisiplinan, pola komunikasi, hingga kehidupan sehari-hari berpotensi menimbulkan culture shock apabila calon pekerja belum memiliki kesiapan mental yang memadai.
Karena itu, kemampuan beradaptasi, bertahan dalam tekanan, serta mengelola emosi menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan seseorang menjalani kontrak kerja di luar negeri.
Menurut Wina, seleksi yang hanya mengandalkan kemampuan bahasa dan kondisi fisik belum cukup untuk menggambarkan kesiapan seseorang menjalani pekerjaan dalam jangka panjang.
Ketidaksesuaian antara ekspektasi, motivasi, dan kondisi pekerjaan dapat berujung pada menurunnya motivasi hingga keinginan mengakhiri kontrak lebih awal.
Asesmen Psikologis dalam Persiapan Calon Pekerja
Untuk menghadapi tantangan tersebut, proses seleksi calon pekerja dinilai perlu berkembang dari sekadar mengukur kemampuan teknis menjadi pemetaan yang lebih menyeluruh.
TRUSTINDO Consultant menilai asesmen psikologis dapat membantu LPK dan P3MI memahami karakter calon pekerja sejak awal. Aspek yang dapat dipetakan antara lain motivasi kerja, kepribadian, ketelitian, daya juang, hingga stabilitas emosi.
Proses tersebut juga dapat dilengkapi dengan Behavioral Event Interview (BEI), yakni wawancara yang menggali pengalaman nyata kandidat ketika menghadapi konflik, tekanan, maupun situasi sulit.
Pendekatan itu dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana seseorang mengambil keputusan dan merespons persoalan berdasarkan pengalaman yang pernah dihadapinya.
“Asesmen psikologis bukanlah proses untuk menghakimi atau menentukan apakah seorang kandidat baik atau tidak baik. Asesmen justru menjadi alat bagi LPK atau P3MI untuk memahami kesiapan mental, karakter, motivasi, serta kemampuan adaptasi kandidat secara lebih menyeluruh,” ujar Wina.
Menurutnya, pemahaman tersebut dapat membantu proses penempatan dilakukan secara lebih tepat sehingga calon pekerja memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di tempat kerja sekaligus menekan risiko dropout.
Pendampingan tidak Berhenti Sebelum Keberangkatan
Persiapan calon pekerja juga dinilai tidak seharusnya berhenti pada masa pembekalan sebelum keberangkatan.
TRUSTINDO Consultant memberikan pendampingan kepada peserta setelah mulai bekerja di negara penempatan, terutama ketika menghadapi persoalan pribadi, tekanan pekerjaan, maupun tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru.
Melalui TRUSTINDO Mobile, pekerja dapat berkonsultasi dengan psikolog TRUSTINDO selama menggunakan aplikasi tersebut.
Pendampingan berkelanjutan itu ditujukan agar pekerja tidak hanya mendapatkan persiapan sebelum keberangkatan, tetapi juga memiliki akses terhadap dukungan profesional ketika menghadapi berbagai persoalan selama menjalani kontrak kerja.
Kontrak Kerja sebagai Investasi Karier
Perubahan cara generasi muda memandang pekerjaan tidak hanya menjadi tantangan bagi industri penempatan pekerja migran. Kondisi tersebut juga dapat menjadi peluang bagi LPK dan P3MI untuk mempersiapkan tenaga kerja Indonesia yang lebih adaptif, profesional, dan memiliki orientasi karier yang matang.
Dengan proses seleksi yang mempertimbangkan kemampuan teknis sekaligus kesiapan psikologis, calon pekerja dapat memperoleh gambaran yang lebih realistis mengenai pekerjaan yang akan dijalani.
Di sisi lain, LPK dan P3MI dapat memahami kesesuaian antara motivasi, karakter, serta ketahanan calon pekerja dengan tuntutan pekerjaan dan lingkungan di negara tujuan.
Sejak 2017, TRUSTINDO Consultant telah mendampingi LPK dan P3MI dalam proses seleksi serta pemetaan psikologis calon pekerja dan pemagang luar negeri.
Ke depan, kesiapan tenaga kerja Indonesia untuk bersaing di pasar global tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis. Kemampuan beradaptasi, menjaga stabilitas emosi, menghadapi tekanan, serta melihat pekerjaan sebagai bagian dari perjalanan karier juga menjadi faktor penting dalam menciptakan penempatan kerja yang berkelanjutan. [B-19]
Follow informasi Berita11.com di Google News








