Dompu, Berita11.com — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Dompu mulai menyiapkan generasi pemilih baru agar lebih kritis dalam menggunakan hak pilih dan tidak mudah terpengaruh informasi politik yang menyesatkan.
Ketua Bawaslu Kabupaten Dompu, Drs Irwan, SH mengatakan pemilih pemula menjadi salah satu kelompok penting yang harus mendapatkan pendidikan politik sejak dini.
Menurutnya, mereka merupakan generasi pemilih baru yang pada waktunya akan ikut menentukan kualitas demokrasi.
“Karena mereka adalah generasi pemilih baru sekaligus calon pemilih yang akan menentukan kualitas demokrasi ke depan,” kata Irwan, Kamis (7/10/2026).
Bawaslu Kabupaten Dompu memberikan pendidikan kepada pemilih pemula melalui berbagai kegiatan, salah satunya Pendidikan Pengawasan Partisipatif (P2P) serta program kunjungan ke sekolah yang disebut “Lao Lamba Sekolah”.
Melalui kegiatan tersebut, Bawaslu tidak hanya menjelaskan teori mengenai Pemilu dan Pilkada. Pendekatan juga dilakukan dengan mengaitkan materi demokrasi dengan kehidupan pelajar, termasuk melalui contoh pemilihan ketua OSIS di sekolah.
Irwan mengatakan pemahaman pelajar mengenai demokrasi masih beragam. Karena itu, metode pendidikan harus disesuaikan dengan lingkungan dan pengalaman mereka.
Bawaslu ingin menanamkan kesadaran demokrasi, integritas, tanggung jawab dalam menggunakan hak pilih, serta sikap kritis terhadap informasi.
“Pemilih harus mampu menilai siapa calon itu, seperti rekam jejak, gagasan, program, dan integritasnya, bukan memilih hanya karena hubungan emosional, popularitas, tekanan, atau pemberian sesuatu,” jelasnya.
Menurut Irwan, tantangan lain yang perlu mendapat perhatian adalah derasnya arus informasi melalui media sosial. Pemilih muda dinilai menjadi salah satu kelompok yang sangat mudah bersentuhan dengan berbagai konten politik digital.
Karena itu, Bawaslu mendorong pemilih pemula agar tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan informasi yang diterima.
Mereka didorong untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, memahami konteks, melihat tanggal publikasi, serta menggunakan sumber resmi.
“Prinsipnya: saring sebelum sharing,” katanya.
Bawaslu juga memberikan pemahaman mengenai bahaya politik uang dan politik identitas. Politik uang, kata Irwan, dapat merusak kedaulatan pemilih, sedangkan politik identitas berpotensi memecah masyarakat.
Ia menilai pendidikan politik bagi generasi muda tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana cara memilih. Lebih jauh, pemilih harus memahami bahwa penggunaan hak suara merupakan tanggung jawab sekaligus bagian dari upaya menjaga demokrasi.
“Menjaga demokrasi adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya. [B-22]
Follow informasi Berita11.com di Google News











