Jembatan Rusak di Waworada, Pengendara dan Guru Berulang Kali Terperosok ke Sungai

Kondisi jembatan Waworada Kecamatan Langgudu yang telah empat tahu rusak semakin suliit dilewati pengendara, termasuk siswa dan guru yang berangkat ke sekolah. Kolase Berita11.com.
Kondisi jembatan Waworada Kecamatan Langgudu yang telah empat tahu rusak semakin suliit dilewati pengendara, termasuk siswa dan guru yang berangkat ke sekolah. Kolase Berita11.com.

Bima, Berita11.com– Kerusakan Jembatan Kanca di Dusun I, Desa Waworada, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus mengancam keselamatan warga. Sejumlah pengendara, termasuk guru, dilaporkan beberapa kali terperosok ke sungai saat melintasi jembatan yang kondisinya semakin rusak tersebut.

Kepala Desa Waworada, Dahlan, mengatakan kerusakan jembatan itu telah berlangsung sekitar empat tahun. Meski telah berulang kali dilaporkan kepada pihak terkait, hingga kini perbaikannya belum juga terealisasi.

Bacaan Lainnya

“Sudah berkali-kali terjadi kecelakaan, namun masyarakat tetap mengambil risiko untuk menggunakan jalan itu karena kebutuhan ekonomi,” kata Dahlan saat dihubungi Selasa (8/9/2026) malam.

Menurutnya, jembatan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat. Setiap hari, jalur itu digunakan warga, termasuk siswa dan guru yang hendak menuju sekolah maupun tempat kerja. Mereka di antaranya siswa dan guru SDN Oi Nari Desa Waworada. Selain itu, sejumlah guru dari Desa Karumbu dan Desa Rupe, Kecamatan Langgudu, juga menggunakan jalur tersebut untuk menuju sekolah di Desa Doro O’o.

BACA JUGA:  Imbau Masyarakat tak Terlibat dalam Peredaran Senpi Ilegal, Wabup Bima: Keamanan Tanggung Jawab Bersama

Kondisi jembatan yang rusak membuat para pengguna jalan harus ekstra hati-hati. Terlebih, jalur tersebut juga masih dilalui kendaraan berukuran besar seperti truk tronton.

Dahlan menyebut, pemerintah desa telah melaporkan kondisi jembatan tersebut kepada sejumlah instansi, termasuk Bina Marga, Pemerintah Provinsi NTB, BPBD, hingga Satuan Lalu Lintas. Laporan kepada Satlantas, kata dia, juga dimaksudkan agar dipasang tanda larangan atau peringatan bagi kendaraan tertentu.

“Kalau hanya mobil kecil mungkin tidak terlalu menjadi masalah. Yang menjadi persoalan adalah mobil-mobil besar seperti tronton yang masih melintas,” ujarnya.

Kerusakan jembatan disebut terjadi setelah bagian konstruksinya patah akibat dihantam banjir. Sejak saat itu, kondisi jembatan belum mendapatkan penanganan permanen.

Dahlan mengatakan, sebelumnya terdapat rencana pengerjaan jembatan pada 2026. Namun, rencana tersebut berubah setelah anggaran dialihkan untuk penanganan Jembatan Doro O’o, Kecamatan Langgudu.

“Untuk Jembatan Waworada, dalam nomenklaturnya pengerjaannya di tahun 2027. Harapannya, tahun 2027 bisa direalisasikan,” katanya.

Ia mengaku telah beberapa kali menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah. Bahkan, rencana kunjungan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB ke lokasi jembatan sempat ada, namun batal karena sejumlah alasan. Kunjungan akhirnya hanya dilakukan ke wilayah Doro O’o, Langgudu.

BACA JUGA:  Paket MBG untuk Siswa di Kabupaten Bima Berisi Telur Mentah 4 Butir, ini Penjelasan SPPG

Dahlan juga mengakui keresahan masyarakat terhadap kondisi jembatan semakin meningkat. Ia bahkan meminta warga agar tidak melakukan aksi blokade jalan maupun demonstrasi yang dapat mengganggu aktivitas pengguna jalan.

Namun, menurutnya, reaksi masyarakat sulit dihindari jika kondisi jembatan tidak segera mendapatkan kepastian penanganan.

“Reaksi masyarakat tidak bisa dihindari. Walaupun saya sudah mengingatkan agar tidak melakukan aksi blokir jalan atau demo teriak-teriak di jalan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat merealisasikan perbaikan jembatan tersebut pada 2027. Sebab, selain menjadi akses ekonomi masyarakat, jembatan itu juga menjadi jalur penting bagi siswa dan guru setiap hari.

“Harapan saya semoga tahun 2027 bisa direalisasikan, karena sudah berkali-kali saya menghadapi pihak terkait persoalan jembatan ini,” kata Dahlan.

Bagi warga Waworada dan pengguna jalan lainnya, perbaikan jembatan bukan sekadar persoalan infrastruktur. Kondisi tersebut menyangkut keselamatan masyarakat yang setiap hari terpaksa menggunakan akses yang sama meski ancaman kecelakaan masih membayangi. [B-22]

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait