Kota Bima, Berita11.com— Kantor Imigrasi Kelas II Bima menggelar media briefing dan diseminasi informasi kebijakan keimigrasian bersama puluhan awak media serta organisasi pers konstituen Dewan Pers di Rumah Makan Dining Kota Bima, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar sebagai langkah memperkuat kolaborasi antara Kantor Imigrasi Bima dan media, mengoptimalkan penyebarluasan informasi keimigrasian, merespons dinamika isu publik, sekaligus mencegah penyebaran berita bohong atau hoaks.
Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian (Tikim) Kantor Imigrasi Kelas II Bima, Andi Hafid, dalam kesempatan itu menyampaikan evaluasi terkait pola penyampaian informasi pelayanan publik yang selama ini dinilai terlalu mengandalkan satu platform media sosial.
Menurutnya, informasi pelayanan paspor sebelumnya lebih banyak disampaikan melalui Instagram. Namun, pola tersebut dinilai belum cukup menjangkau seluruh lapisan masyarakat karena setiap platform memiliki segmen pengguna yang berbeda.
“Beberapa waktu lalu Kantor Imigrasi Bima membuat kegiatan untuk mengakomodir pelayanan paspor dan fasilitas. Terkait yang kemarin juga sempat dikeluhkan, kegiatan paspor itu jujur memang kami mengandalkan Instagram. Kami cuma posting di Instagram dengan pikiran mungkin sudah bisa mencakup seluruh masyarakat. Tetapi ternyata salah, karena segmennya juga berbeda,” ujar Andi Hafid.
Sebagai bentuk keterbukaan informasi dan upaya memperbaiki layanan kehumasan, Kantor Imigrasi Bima kini menghadirkan ruang komunikasi terbuka yang diberi nama YAN KOMAS (Layanan Komunikasi Masyarakat).
Andi menjelaskan, YAN KOMAS ditujukan bagi seluruh masyarakat Bima dan tidak terbatas untuk kalangan media.
Ruang tersebut disiapkan sebagai wadah masyarakat untuk berkomunikasi, berdiskusi, maupun menyampaikan berbagai hal kepada pihak Imigrasi Bima secara lebih terbuka.
“YAN KOMAS itu Layanan Komunikasi Masyarakat yang ditujukan kepada seluruh masyarakat Bima, tidak terbatas pada teman-teman media. Itu gunanya wadah kita untuk tempat berpikir, santai, ngopi bareng, ngobrol di ruang khusus,” katanya.
Ia mengatakan, ruang YAN KOMAS ditempatkan di bagian depan pintu masuk Kantor Imigrasi Bima sehingga masyarakat dapat datang tanpa harus melalui protokol kedatangan ataupun membuat janji terlebih dahulu.
“Saya buat di depan pintu masuk Kantor, jadi tidak perlu istilahnya harus lewat protokol kedatangan, harus janjian bagaimana. Bebas. Jam kerja silakan datang, pasti teman-teman yang standby akan melayani,” ujarnya.
Andi juga menyampaikan komitmen pihaknya untuk menindaklanjuti kebutuhan pelayanan paspor masyarakat secara lebih luas.
Menurutnya, kebutuhan kuota paspor menjadi salah satu catatan yang perlu diperhatikan dan akan kembali diupayakan agar pelayanan dapat difasilitasi secara lebih baik.
“Dan menjadi catatan memang itu, kuota paspor perlu. Mudah-mudahan setelah kami membuat kuota paspor dan mencoba, saya akan mencoba lagi setelah itu. Coba kita fasilitasi bareng-bareng,” katanya.
Ia berharap, komunikasi awal dan informasi mengenai pelayanan paspor dapat tersebar lebih luas kepada masyarakat Bima yang membutuhkan.
“Biar komunikasi awalnya itu, informasi awalnya bisa tersebar luas ke teman-teman di Bima yang membutuhkan pelayanan,” ujarnya.
Strategi Komunikasi Publik dan Hubungan Media
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Kota Bima, Muhammad Hasyim, turut memaparkan strategi pengelolaan komunikasi publik dan tata kelola hubungan media.
Hasyim mengapresiasi pertemuan antara jajaran Imigrasi Bima dan insan pers. Menurutnya, momentum tersebut penting untuk memperkuat hubungan antara lembaga pemerintah dan media.
“Ini momentum yang sungguh sangat luar biasa dan ini menjadi momen yang sangat bagus untuk menjalin ikatan hati antara kita dengan teman-teman insan pers,” ujar Hasyim.
Dalam pemaparannya, Hasyim menekankan pentingnya kemampuan mengelola informasi dan komunikasi di tengah cepatnya arus informasi.
Ia menyebut setidaknya terdapat tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan komunikasi lembaga, yakni attitude, skill komunikasi massa, dan integrity.
Menurut Hasyim, sikap atau attitude menjadi salah satu hal penting dalam pengelolaan informasi. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, orang yang memiliki kemampuan intelektual banyak, tetapi perilaku yang beretika menjadi sesuatu yang penting.

Komponen kedua adalah kemampuan komunikasi massa. Menurutnya, pengetahuan dan keterampilan dalam komunikasi publik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan lembaga mengelola informasi.
“Karena itu sekarang ini pemerintah menetapkan bahwa di satu instansi itu hanya ada satu juru bicara. Salah satunya alasannya itu. Karena tidak semua orang paham terkait dengan bagaimana mengemukakan informasi-informasi yang humble, yang baik, kemudian diterima oleh banyak orang,” jelasnya.
Sedangkan komponen ketiga adalah integritas. Hasyim menilai ketiga hal tersebut penting dalam membangun komunikasi antara instansi pemerintah dengan media.
Ia juga menekankan bahwa setiap personel dalam sebuah instansi merupakan cerminan dari lembaga tersebut. Dengan demikian, perilaku dan cara berkomunikasi setiap pegawai turut memengaruhi bagaimana publik melihat kinerja sebuah organisasi.
Tiga Prinsip Kolaborasi
Hasyim kemudian menyampaikan tiga prinsip dasar dalam membangun kolaborasi antara instansi dan media, yakni principal engagement, self-motivation, dan capacity for joint action.
Principal engagement atau keterlibatan berprinsip, menurutnya, berarti setiap komponen dalam instansi maupun media memahami tugas dan fungsi masing-masing.
Dengan pemahaman tersebut, penyampaian informasi publik dapat dilakukan sesuai kapasitas dan kewenangan masing-masing.
“Artinya, penempatan-penempatan orang juru bicara itu orang yang paham terkait dengan data, kemudian bagaimana mengelola data itu menjadi bahasa-bahasa publik,” terang mantan Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Bima ini.
Prinsip kedua adalah self-motivation. Hasyim mengatakan, seluruh unsur dalam instansi harus memiliki motivasi bersama untuk membangun citra dan kinerja organisasi yang baik.
Setiap personel, kata dia, harus memahami visi dan misi organisasi, tugas pokok, hal yang harus dilakukan, serta hal-hal yang harus dihindari.
Sementara prinsip ketiga adalah capacity for joint action atau peningkatan kapasitas diri untuk bergerak bersama.
Menurut Hasyim, prinsip tersebut penting karena arus informasi saat ini bergerak sangat cepat. Informasi yang baik dapat berubah menjadi tidak baik apabila tidak direspons dengan cepat dan tepat.
“Hal-hal yang terjadi yang terkait dengan organisasi kita harus kita respons dengan baik,” jelasnya.
Dalam membangun hubungan dengan media, Hasyim menekankan pentingnya keterbukaan, kecepatan merespons isu, serta membangun kepercayaan secara berkesinambungan.
Ia meminta instansi pemerintah tidak menjadikan media sebagai sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Prinsip dasarnya transparansi. Kita harus terbuka dengan teman-teman insan media,” kata mantan Kepala Badan Kesbangpol Kota Bima ini.
Selain transparansi, ia menekankan pentingnya respons cepat ketika muncul persoalan di lingkungan instansi.
Menurutnya, persoalan yang muncul tidak seharusnya dibiarkan dengan harapan akan selesai dengan sendirinya. Instansi perlu memberikan respons dan menyampaikan data yang akurat terkait persoalan tersebut.
Hasyim juga menyoroti tantangan literasi informasi masyarakat di tengah derasnya arus media sosial. Ia menyebut masyarakat memiliki minat membaca yang tinggi, tetapi tingkat literasi yang disebutnya masih rendah.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat masyarakat terkadang hanya membaca informasi secara sekilas, kemudian membagikannya tanpa memahami keseluruhan isi informasi. Hal itu dapat memunculkan tafsir berbeda dan membuat sebuah isu menjadi ramai atau viral.
Karena itu, ia menilai hubungan media dan instansi harus dibangun atas dasar kepercayaan dalam jangka panjang.
“Hubungan kepercayaan yang dibangun itu jangka panjang. Artinya, kita membangun komunikasi kemudian kolaborasi dengan media tidak pada saat kita butuh mereka saja,” tegasnya.
Ia menilai insan pers memiliki posisi penting dalam mendukung pembangunan dan membantu menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Humas Dituntut Tidak Baper
Hasyim juga menyadari bahwa pengelolaan informasi di era media sosial memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah munculnya sentimen negatif terhadap lembaga maupun pejabat ketika sebuah isu berkembang di ruang publik.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan ketahanan mental dari para pengelola kehumasan.
“Tantangan-tantangan ke depan memang tantangan kita ini mengelola informasi, apalagi yang sekarang di dunia media sosial belum ada aturan yang pasti bagaimana seharusnya berita itu diikat,” ujarnya.
Ia mengatakan, pengelola humas harus mampu menghadapi kritik maupun sentimen negatif secara cerdas dan tidak terbawa perasaan.
“Orang-orang yang kerja di Humas itu tidak boleh baperan. Artinya mentalnya harus mental yang suka diuji,” imbaunya.
Hasyim kembali menegaskan pentingnya membangun kemitraan yang kuat dengan media.
Menurutnya, komunikasi dan kolaborasi yang terjalin secara baik antara Imigrasi Bima dan insan pers diharapkan dapat mendukung peningkatan performa serta kinerja Kantor Imigrasi Bima.
Dalam sesi diskusi, Hasyim juga menyinggung mekanisme penyelesaian persoalan melalui klarifikasi dan hak jawab, sekaligus pentingnya membangun hubungan kemitraan secara berkelanjutan.
Ia menilai hubungan antara media dan instansi tidak semestinya dibangun hanya ketika lembaga membutuhkan pemberitaan.
Menurutnya, kemitraan harus dilandasi hubungan yang baik dan saling memahami kebutuhan masing-masing.
“Tidak menganggap mereka sebagai alat yang kita butuhkan pada saat itu, tetapi kemitraan ini harus kita bangun sepanjang masa,” pungkasnya.
Rangkaian media briefing tersebut kemudian diakhiri dengan diskusi interaktif antara jajaran Humas Kantor Imigrasi Kelas II Bima, narasumber, dan para awak media mengenai strategi komunikasi publik serta upaya mencegah disinformasi di masyarakat. Kemudian ditutup dengan foto bersama. [B-19]
Follow informasi Berita11.com di Google News












