Bima, Berita11.com— Harga garam di tingkat petani di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, menurun signifikan di tengah musim panen. Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu aksi blokir jalan apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga dan meningkatkan penyerapan garam petani.
Petani garam di Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Gufran, mengatakan harga garam saat ini hanya sekitar Rp50 ribu per karung ketika dijual di pinggir jalan atau setelah diangkut keluar dari tambak.
Menurut Gufran, harga tersebut jauh menurun dibandingkan musim panen pada tahun-tahun sebelumnya yang dapat mencapai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per karung.
“Sebulan terakhir petani tambak garam di Kabupaten Bima sedang memasuki masa panen sehingga stok mulai melimpah. Tetapi harga garam saat ini turun signifikan,” kata Gufran saat ditemui di Sanolo Kecamatan Bolo, kemarin.
Ia berharap pemerintah turun tangan membantu menstabilkan harga sekaligus mengoptimalkan penyerapan garam dari petani.
Gufran mengatakan, jika harga terus mengalami penurunan, petani di Dusun Muku, Desa Sanolo, tidak menutup kemungkinan kembali melakukan aksi blokir jalan sebagai bentuk protes dan tuntutan agar harga garam dinaikkan.
Harga Hanya Rp25 Ribu-Rp50 Ribu
Petani tambak garam lain di Desa Sanolo, Abdul Hamid, mengatakan kondisi harga saat ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut dia, garam di tingkat petani rata-rata hanya mampu dijual Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per karung. Padahal, pada tahun sebelumnya harga garam dapat mencapai lebih dari Rp100 ribu per karung.
“Menurunnya harga garam membuat petani tidak bisa mendapatkan keuntungan maksimal. Padahal produksi garam tidak bisa dilakukan sepanjang tahun karena saat musim hujan produksi terhenti,” ujarnya.
Abdul Hamid berharap pemerintah melalui lembaga terkait membantu petani dalam meningkatkan penyerapan dan memperluas pemasaran hasil produksi garam.
Menurutnya, persoalan pemasaran menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian agar hasil panen petani tidak menumpuk ketika produksi sedang tinggi.
Produksi Terganggu Angin Kencang
Selain persoalan harga, petani juga menghadapi kendala produksi akibat kondisi cuaca.
Gufran mengatakan meskipun saat ini memasuki puncak musim kemarau, produksi garam di Desa Sanolo belum maksimal karena angin kencang mengganggu proses produksi.
Di sisi lain, melimpahnya stok saat musim panen turut memberikan tekanan terhadap harga di tingkat petani.
Ia berharap pemerintah tidak hanya membantu dari sisi penyerapan dan pemasaran, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas serta teknologi produksi garam.
Menurut Gufran, petani garam di Bima belum optimal memanfaatkan teknologi seperti geo-isolator yang dapat digunakan untuk menghasilkan garam dengan kualitas sesuai kebutuhan industri.
Keterbatasan modal dan pengetahuan mengenai penggunaan teknologi disebut menjadi salah satu kendala yang dihadapi petani. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani garam Bima untuk memperluas pasar.
Secara umum, garam produksi Bima belum sepenuhnya memenuhi standar yang dibutuhkan industri dan pasar modern. Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah kualitas visual garam yang dinilai belum seputih produk dari sejumlah sentra garam di Pulau Jawa.
Kondisi itu membuat penyerapan garam petani melalui pasar retail modern masih terbatas.
Gufran berharap pemerintah membantu petani meningkatkan kualitas produksi sehingga garam Bima dapat memiliki daya saing lebih tinggi dan memenuhi kebutuhan industri. [B-30]
Follow informasi Berita11.com di Google News











