Polwan Polres Lotar Ajak Santriwati Cerdas dan Aman Menggunakan Medsos

Polwan goes to school di Pondok Pesantren Al Istiqomah,Tanjung KLU, Senin (8/8/2022).

Tanjung, Berita11.com— Polisi Wanita (Polwan) Kepolisian Resor Lombok Utara (Polres Lotar) mengajak para santriwati utnuk cerdas dan aman menggunakan media sosial (Medsos).

Ajakan tersebut disampaikan Polwan Polres Lotar saat melaksanakan Polwan masuk sekolah (goes to school) di Pondok Pesantren Al Istiqomah, Dusun Kapu, Desa Sama Guna, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Senin (8/8/2022).

Kegiatan bagian dari rangkaian menyambut hari jadi ke-74 tahun Polwan.

Perwira Polres Lombok Utara, Ipda Kadek Ayu Ervina menjelaskan, melalui kegiatan Polwan goes to school  bertajuk kekerasan terhadap perempuan dan anak serta etika bermedia sosial, pihak meningkatkan pemahaman santri dan santriwati  berkaitan kekerasan terhadap perempuan dan anak serta penyebab utama kekerasan pada perempuan dan anak.

“Selain itu mengimbau kepada santri  dan santriwati untuk menggunakan media sosial secara bijak,” ujarnya.

Menurutnya, penyebab kekerasan pada perempuan dan anak yang paling sering, di antaranya faktor ekonomi lemah, sehingga menimbulkan risiko tinggi kekerasan fisik. Misalnya kekerasan yang dialami seorang istri karena dipukul oleh suaminya.

BACA JUGA:  Gubernur NTB Minta OPD Manfaatkan Medsos untuk Jawab Aduan Masyarakat dengan Cepat

“Kekerasan seksual, perkosaan terhadap anak kandung,” ujar dia.

Selain itu, lanjut dia, platform media sosial, kekerasan seksual era digital, mudahnya  akses situs porno, juga menjadi pemicu banyak kasus kekerasan seksual terhadap remaja.

“Bermula dari perkenalan di jejaring media sosial, remaja berkenalan bertemu dan diperkosa,” ujar Kadek.  

Ia juga menjelaskan, faktor pernikahan dini atau pengaruh psikologi usia pasangan usia relatif masih yang usianya tidak terpaut jauh, jugam memicu kekerasan. Karena emosi pasangan muda masih labil.

“Kepribadian dan kondisi psikologis yang tidak stabil, lingkungan (family stress) atau stres dalam keluarga bisa berasal dari anak orang tua suami maupun istri,” ujarnya.

Dikatakannya, kesetaraan gender merupakan sebuah pandangan bahwa semua orang harus diperlakukan setara dan tidak diskriminasi.

BACA JUGA:  Wujudkan Indonesia Sehat-Hebat, BINDA NTB Gelar Vaksinasi Massal

“Persepsi mengenai kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga sering kali ditutupi karena  merupakan masalah keluarga, bukan masalah sosial. Kekerasan dalam rumah tangga cenderung ditutup untuk mempertahankan rumah tangga dan sering kali menjadi alasan untuk tidak melaporkan tindakan KDRT,” jelas Kadek.

Ipda Kadek Ayu Ervina menyampaikan bahwa santri dan santriwati Ponpes Al- Istiqomah adalah harapan bangsa.  Untuk itu, dia mendorong agar santri dan santriwati setempat untuk terus meraih cita-cita. Karena keberhasilan dan kesuksesan tidak bisa diraih secara instan.

“Agar terhindar dari korban Medsos, maka jangan mudah percaya. Ingatlah siapapun dapat berpura-pura menjadi seseorang saat di dunia maya. Jangan pernah membuka link atau lampiran dari siapapun yang tidak dikenal, jangan kirim gambar diri yang disimpan secara pribadi kepada siapapun ,” pesannya.  [B-12]