Lima Terbawah dari 170 Negara, 70 Persen Anak Indonesia Buta Huruf Fungsional

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bima, Berita11.com— Indonesia menempati urutan lima terbawah dari 170 negara pada kategori learning poverty berdasarkan data World Bank. Sebanyak 70 Persen anak Indonesia pada usia10 tahun masuk kategori  buta huruf fungsional (functionally literate).

Kondisi tersebut disorot oleh Aktivis Pendidikan, Indra Charismiadji. “Learning poverty kita level 70, artinya anak usia 10 tahun, 7 dari 10 mereka nggak bisa baca. Para pejabat di bidang pendidikan harus tahu,” kata Indra dikutip dari tayangan dialog Rakyat Bersuara dipandu Aiman Wicaksono, Kamis (9/7/2026).

Bacaan Lainnya




Ia mengingatkan tugas utama para pejabat yang mengurus pendidikan adalah  mencerdaskan kehidupan bangsa. “Bukan bikin aplikasi, bukan nyebar laptop, bukan bikin dan gonta ganti kurikulum, tapi harus nyata membuat bangsa ini cerdas dan ada ukurannya salah satunya adalah PISA,” kata Indra.

BACA JUGA:  Diwarnai Protes Pedagang, Toko Serba 35.000 di Kabupaten Bima Ditutup Sementara

Ia menjelaskan,  hasil Programme for International Student Assessment (PISA) atau studi evaluasi sistem pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh OECD setiap tiga tahun sekali sudah menjadi bagian dari target  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan  target Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).

“Indonesia lima terbawah dari 170 negara. Itu kita sudah 20 tahun lebih pendidikannya terburuk. Dan itu kita, banyak masyarakat nggak menyadari itu karena dianggapnya biasa-biasa saja. Padahal faktanya kita membaca saja nggak bisa. Learning poverty kita itu level 70 persen,” kata Indra.

Dengan potret learning poverty 70 persen, Indra sulit membayangkan bagaimana level numerasi dan bagaimana kemampuan anak Indonesia memahami sains.

Sebelumnya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa berbagai persoalan pendidikan seperti learning loss, learning poverty, hingga capaian skor PISA yang belum optimal menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi.

“Ada banyak sekali permasalahan yang kita hadapi. Problem kita terkait dengan learning loss, learning poverty, dan juga skor PISA yang memang kita belum mencapai target sebagaimana yang diharapkan,” ujar Mu’ti di Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

BACA JUGA:  HUT Bhayangkara, Presiden: 58.3 Persen Responden Menyatakan Tindakan Polri sudah sesuai Visi Presisi

Learning poverty atau kemiskinan belajar adalah kondisi anak usia 10 tahun tidak mampu membaca dan memahami cerita sederhana.

Programme for International Student Assessment (PISA) adalah studi evaluasi sistem pendidikan internasional yang diselenggarakan oleh OECD setiap tiga tahun sekali. PISA mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun untuk memecahkan masalah kehidupan nyata, bukan sekadar hafalan kurikulum.

Tujuan PISA menilai seberapa baik sistem pendidikan di suatu negara mempersiapkan siswa menghadapi tantangan kehidupan nyata dan berpartisipasi dalam masyarakat.

Mu’ti menekankan bahwa berbagai tantangan tersebut justru harus menjadi pendorong untuk melakukan perbaikan sistem pendidikan secara menyeluruh. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

 

Pos terkait