Duka Warda Wati, Orang Tua Alfa Firdaus yang Meninggal dalam Perjalanan Rujukan ke RSUP NTB

Warga dan kerabat menyambut jenazah M Alfa Firdaus tiba di rumah duka di Dusun Manggekompo Desa Kala Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, Sabtu sore (11/7/2026). Foto Fitri/ Berita11.com.
Warga dan kerabat menyambut jenazah M Alfa Firdaus tiba di rumah duka di Dusun Manggekompo Desa Kala Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, Sabtu sore (11/7/2026). Foto Fitri/ Berita11.com.

Tangis itu pecah begitu ambulans berhenti di depan rumah sederhana milik Warda Wati di Dusun Manggekompo, Desa Kala, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Sabtu sore (11/7/2026).

Perempuan itu baru saja menempuh perjalanan panjang menuju Pulau Lombok dengan satu harapan: putra keempatnya, M Alfa Firdaus, bisa mendapatkan penanganan medis yang lebih baik di RSUP Provinsi NTB.

Bacaan Lainnya




Namun yang pulang bukanlah kabar kesembuhan. Yang kembali ke rumah adalah jasad bocah kelas III sekolah dasar itu.

Tangisan Warda tak lagi mampu dibendung ketika tubuh anaknya yang mulai kaku diturunkan dari ambulans. Ia memeluk keranda, menangis sejadi-jadinya. Kerabat yang sejak sore menunggu di halaman rumah ikut larut dalam duka. Isak tangis bersahutan, memecah keheningan kampung.

Perjalanan menuju rumah sakit rujukan itu berakhir di tengah laut.

Di atas kapal penyeberangan dari Pelabuhan Poto Tano menuju Pelabuhan Kayangan, Alfa mengalami kejang. Menurut Warda, tabung oksigen yang digunakan untuk membantu pernapasan anaknya tiba-tiba kosong.

“Anak saya kejang-kejang saat perjalanan di kapal. Oksigen tiba-tiba habis. Katanya oksigen mencukupi sampai rumah sakit provinsi, tapi nyatanya habis di tengah jalan,” ucap Warda dengan suara bergetar.

Peristiwa itu membuat suaminya, Munir, panik sekaligus marah. Di dalam ambulans, emosinya meledak kepada petugas medis yang mendampingi perjalanan malam itu.

Bagi Warda, yang paling sulit diterima bukan hanya kenyataan bahwa anaknya telah pergi, tetapi dugaan bahwa kepergian itu terjadi ketika pertolongan yang seharusnya menyelamatkan justru tidak lagi tersedia.

Ia menduga ambulans yang digunakan bukan kendaraan tetap milik RSUD Bima, melainkan ambulans pinjaman dengan tabung oksigen yang sebelumnya telah terpakai sehingga tidak cukup menopang kebutuhan Alfa selama perjalanan menuju Mataram.

BACA JUGA:  Diduga Aniaya Pendemo, Aktivis Mahasiswa dan Pemuda Desa Kala Sorot Kades

Berbagai penjelasan yang disampaikan petugas medis tidak mampu menghapus pertanyaan di benaknya. Suaminya, yang bekerja di tambang rakyat di Pulau Sumbawa, menurutnya memahami cara memperkirakan kapasitas tabung oksigen.

“Katanya oksigen cukup sampai rumah sakit provinsi. Nyatanya habis di tengah jalan,” katanya lirih.

Semua itu bermula sehari sebelumnya.

Kamis, 9 Juli 2026, Alfa mengalami kecelakaan tunggal di wilayah Soromandi ketika dibonceng temannya. Karena mengalami cedera serius, ia dirawat di RSUD Bima sebelum akhirnya diputuskan dirujuk ke RSUP NTB.

Tak seorang pun menyangka perjalanan menuju rumah sakit itulah yang menjadi perjalanan terakhirnya.

“Ia anak saya yang keempat dari lima bersaudara,” kata Warda sambil menundukkan kepala.

Tidak ada firasat apa pun sebelum kecelakaan itu. Namun kini, satu percakapan sederhana bersama Alfa terus terngiang di benaknya.

Beberapa waktu sebelum kecelakaan, sang anak tiba-tiba bertanya.

“Mama, nama lengkap Alfa siapa?” Warda menjawab pelan. “M Alfa Firdaus.”

Anaknya kembali bertanya. “Kenapa ada kata Firdaus?”

Ia lalu menjelaskan bahwa Firdaus adalah nama salah satu surga.

Alfa terdiam sejenak. Lalu dengan kepolosan seorang anak, ia kembali bertanya. “Di surga itu ada apa saja, Mama? Ada paha ayam juga?”

Pertanyaan itu kini menjadi kenangan yang paling sulit dilupakan.

“Banyak di sana. Apa saja ada,” jawab Warda kala itu.

Kini setiap kali mengingat percakapan tersebut, air matanya kembali mengalir.

Alfa bukan anak yang banyak menuntut. Ia justru sering bercerita tentang mimpi-mimpinya. Kadang ia ingin menjadi seorang polisi. Di lain waktu ia bercita-cita menjadi pengusaha besar, seorang CEO yang kelak mampu membeli pesawat.

Semua mimpi itu kini berhenti di usia yang masih begitu belia.

 

Warga dan kerabat menyambut jenazah M Alfa Firdaus tiba di rumah duka di Dusun Manggekompo Desa Kala Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, Sabtu sore (11/7/2026). Foto Fitri/ Berita11.com.
Warga dan kerabat menyambut jenazah M Alfa Firdaus tiba di rumah duka di Dusun Manggekompo Desa Kala Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, Sabtu sore (11/7/2026). Foto Fitri/ Berita11.com.

 

Kesedihan Warda mencapai puncaknya setelah jenazah tiba di kampung halaman. Sabtu sore (11/7/2026), ia bersikeras ingin menguburkan putranya tepat di samping rumah agar tetap dekat dengannya. Ia belum siap berpisah.

BACA JUGA:  Diduga Gasak Tabung LPG, Laptop hingga Terpal, Sang Kakek Diamankan Polsek Pekat

Keinginan itu membuat pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta keluarga besar berkumpul. Mereka bermusyawarah dan membujuk Warda agar jenazah Alfa dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Manggekompo.

Butuh waktu lama hingga akhirnya hati seorang ibu itu luluh. Malam selepas salat Isya, Alfa dimakamkan di TPU Manggekompo.

Di tepi pusara, Warda kembali menangis tanpa mampu menahan kesedihan. Bagi seorang ibu, tanah makam itu bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir anaknya. Di sanalah seluruh mimpi, harapan, dan masa depan yang pernah dibangun bersama Alfa ikut terkubur.

Sementara itu, satu pertanyaan tentang insiden yang disebut keluarga sebagai “kehabisan oksigen” masih terus menyayat hati mereka.

Direktur RSUD Bima, H. Ihsan, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum.

Ia mengatakan rumah sakit telah melakukan penelusuran awal terhadap seluruh proses rujukan, mulai dari persiapan keberangkatan pasien, kesiapan ambulans beserta sarana penunjang, hingga pendampingan selama perjalanan.

Menurutnya, proses evaluasi masih berlangsung sehingga rumah sakit belum dapat menyimpulkan penyebab pasti meninggalnya pasien sebelum seluruh fakta diverifikasi secara menyeluruh.

Ia menegaskan, apabila ditemukan ketidaksesuaian dengan standar operasional prosedur maupun aspek pelayanan lainnya, RSUD Bima akan mengambil langkah sesuai ketentuan, termasuk melakukan pembinaan, evaluasi, dan perbaikan sistem pelayanan agar kejadian serupa tidak terulang.

RSUD Bima, kata Ihsan, tetap berkomitmen menjunjung keselamatan pasien, transparansi, akuntabilitas, serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Namun bagi keluarga Alfa, evaluasi itu datang setelah seorang anak tak lagi bisa dipeluk ibunya.

Dan bagi Warda, yang terus teringat bukanlah penjelasan panjang tentang prosedur.

Melainkan satu pertanyaan polos yang pernah dilontarkan putranya: “Mama… di surga ada paha ayam juga?” (Fitri)

Pos terkait