FUI Bima Gelar Dialog Kebangsaan, Soroti Kerusakan Moral Pemuda hingga Maraknya Judi Online

Suasana Dialog Kebangsaan di Gedung Sinar AS Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Minggu (30/8/2026).
Suasana Dialog Kebangsaan di Gedung Sinar AS Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Minggu (30/8/2026).

Bima, Berita11.com— Forum Umat Islam (FUI) Bima menggelar Forum Dialog Kebangsaan di Gedung Sinar AR, Desa Rato, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Minggu (30/8/2026). Kegiatan yang dihadiri oleh 70 lintas tokoh agama, ulama, akademisi, dan praktisi pendidikan ini secara khusus menyoroti ancaman kemerosotan moral generasi muda serta maraknya fenomena sosial buruk seperti judi online dan narkoba.

Ketua FUI Bima, Ustadz Asikin bin Mansyur, menyampaikan keprihatinannya atas fenomena melesatnya dekadensi moral pemuda di wilayah Bima. Ia mengkritisi banyaknya kelompok mahasiswa Islam yang giat berkegiatan namun mengabaikan syariat dasar seperti salat subuh.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Aspal Kasar di Desa Sondosia Rusak Parah, GMNI Bima Soroti Kualitas Proyek

“Sangat kasihan pemuda kita hari ini yang menjadi calon pemimpin masa depan. Dalam Surah Maryam ayat 59, Allah sudah tegaskan akan datang generasi yang jelek, yaitu generasi yang meninggalkan salat lalu mengikut hawa nafsu. Ini yang harus kita putus rantainya,” ujar Ustadz Asikin.

Hal senada dipaparkan Ustadz M. Syukurillah. Ia menilai wajah bangsa saat ini sedang memprihatinkan akibat maraknya maraknya kasus korupsi, judi online, hingga penyalahgunaan narkoba yang didominasi oleh masyarakat muslim.

“Berdasarkan penjelasan Ibnu Taimiyah, baik buruknya suatu bangsa ditentukan dua golongan, yaitu ulama dan umara (pemimpin). Kerusakan yang terjadi di sekitar adalah sinyal agar para ulama mawas diri dan semakin mempertegas gerakan amar ma’ruf nahi munkar,” tegas Syukurillah.

BACA JUGA:  Akademisi Sorot Target Gubernur NTB PDRD Per Kapita Hingga Rp81 Juta, Pertumbuhan Ekonomi 10 Persen tak Realistis?

Dari sudut pandang akademisi, Akademisi Universitas Muhammadiyah Bima, Ihlas Hasan, menekankan perlunya evaluasi mendasar pada pola pendidikan. Menurutnya, umat Islam tidak cukup hanya mengandalkan semangat dan doa, tetapi harus membangun kecerdasan yang terencana melalui integrasi ilmu agama dan sains.

“Anak muda kita rentan karena keilmuannya instan, hanya bersumber dari gawai tanpa daya analitis. Jika kita tidak mereformulasi sistem pendidikan Islam dengan SDM yang unggul dan berdaya saing sains, kita akan terus tertinggal,” tandas Dr. Ihlas. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait