Sampah Plastik Penuhi Pantai Kalaki, Pengunjung Khawatir Ancam Lingkungan dan Biota Laut

Kondisi sampah plastik yang mengotori salah satu objek wisata andalan Kabupaten Bima, Pantai Kalaki yang terhubung langsung dengan Teluk Bima. Foto US/ Berita11.com.

Bima, Berita11.com — Kondisi Pantai Kalaki di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dikeluhkan warga dan pengunjung. Sampah plastik menutupi pasir di sepanjang garis pantai dan ditemukan hampir setiap hari.

Rahman, salah satu pengunjung Pantai Kalaki, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, sampah yang berserakan membuat kawasan wisata tersebut tidak lagi nyaman untuk dikunjungi.

Bacaan Lainnya


“Pantai ini sebenarnya bagus, tetapi kalau sampah terus menumpuk seperti ini tentu mengganggu kenyamanan. Kami berharap ada perhatian dan penanganan yang rutin,” kata Rahman di Pantai Kalaki, Senin (17/8/2026).

Kekhawatiran serupa disampaikan Rizky, pengunjung dari luar daerah. Ia menilai persoalan sampah di Pantai Kalaki tidak hanya berkaitan dengan kebersihan dan keindahan objek wisata, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan dalam jangka panjang.

Menurut Rizky, sampah plastik yang berada di kawasan pantai berpotensi terbawa air laut dan masuk ke perairan yang terhubung dengan Teluk Bima.

BACA JUGA:  Pos AL Bantu Evakuasi Korban Tenggelam di Teluk Bima

“Kalau sampah plastik terus dibiarkan, lama-lama bisa masuk ke laut. Ini yang harus dipikirkan karena dampaknya bukan hanya sekarang, tetapi untuk lingkungan ke depan,” ujarnya.

Warga lainnya, Rukmini, juga berharap pengelolaan sampah di kawasan tersebut mendapat perhatian serius. Ia meminta adanya pembersihan secara berkala serta fasilitas tempat sampah yang memadai bagi pengunjung.

“Jangan hanya dibersihkan ketika ada kegiatan atau ramai pengunjung. Harus rutin, karena sampah setiap hari ada,” kata Rukmini.

Selain mengganggu pemandangan, sampah plastik yang masuk ke laut dikhawatirkan dapat mengancam biota perairan. Sampah tersebut berpotensi dikonsumsi ikan dan biota laut lainnya.

Ia berharap pengelola Pantai Kalaki maupun pemerintah daerah menyediakan wadah maupun kontainer untuk membuang sampah bagi pengunjung. Tidak saja memikirkan retribusi objek wisata setempat. Apalagi biaya sewa setiap barugak di objek wisata tersebut sampai Rp20 ribu per kelompok. “Mau lama atau sebentar duduk di barugak itu ditarik biaya Rp20 ribu. Tapi sampah di objek wisata ini tidak diperhatikan,” ujar Rukmini.

BACA JUGA:  Lewintana: di antara Lautan Rindu dan Rasa yang Menggoda

Kondisi itu kemudian dapat menjadi bagian dari rantai makanan ketika ikan yang telah mengonsumsi sampah atau partikel plastik tersebut ditangkap dan dikonsumsi manusia.

Karena itu, warga berharap persoalan sampah di Pantai Kalaki tidak dipandang semata sebagai masalah kebersihan kawasan wisata. Penanganan yang berkelanjutan diperlukan untuk mencegah pencemaran lingkungan pesisir dan perairan Teluk Bima.

Selain peran pemerintah, kesadaran pengunjung dan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan juga dinilai penting. Pengunjung diharapkan membawa kembali sampah yang dihasilkan atau membuangnya pada tempat yang telah disediakan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima,Muhammad Akbar yang dikonfirmasi wartawan terkait kondisi sampah di objek wisata Pantai Kalaki hingga berita ini ditulis tidak merespons.

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar Pantai Kalaki kembali bersih, nyaman dikunjungi dan tetap terjaga kelestarian lingkungan pesisirnya. [B-19]

Follow informasi Berita11.com di Google News

 

 

 

Pos terkait