Gubernur NTB Berharap Potensi Pasar Muslim dan Industrialisasi Terwujud

Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah saat Mengikuti Sinergi Kawasan Industri Halal di Jayakarta Hotel Senggigi, Rabu (8/9/2021).

Gerung, Berita11.com— Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana membangun Kawasan Industri Halal (KIH) yang diintegrasikan melalui pengelolaan Gerakan Membangun Ekonomi Indonesia (Gerbang Esa).

Merespon hal tersebut, Gubernur NTB Zulkieflimansyah berharap potensi pasar muslim sebagai mayoritas penduduk dan program unggulan industrialisasi NTB benar-benar terwujud.

“Pastikan benar benar berjalan dan berbeda dari kawasan industri yang ada,” ujar Gubernur NTB saat mengikuti kegiatan sinergi KIH di Hotel Jayakarta, Senggigi, Lombok Barat, Rabu (8/9/2021).

Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito mengatakan, menyongsong peluang pasar ekonomi muslim global, NTB juga memiliki industrialisasi yang dapat mendukung wilayah Timur Indonesia.

Dia menjelaskan, KIH akan dibangun di Lemer, Kecamatan Sekotong, Lombok Baat atau di Desa Tumpak, Lombok Tengah dengan anggaran Rp500 miliar. Pembangunan tersebut rencana akan dimulai tahun depan.  

BACA JUGA:  Imbau Warga tak Mudik, ini Penjelasan Pemrov NTB

Kepala Dinas Perindustrian NTB, Nuryanti mengatakan, pendalaman struktur industri untuk menemukan produk dapat didukung oleh industri mesin. “Kemudian kawasan dibangun 2022 sampai 2023,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan MUI KH Nuruzzaman menjelaskan, kawasan industri yang akan dibangun dikelola secara syariah melalui pembiayaan yang bersumber dari lembaga yang mengelola dana masyarakat. Demikan juga sentra industri pendukung berbasis mesjid dibangun dengan skema ekonomi modern seperti penggunaan big data dan platform digital trade.

“Teknologi dan sumberdaya akan disediakan oleh MUI. Ini momentum untuk menyelamatkan ekonomi umat karena pandemi dan praktik kapitalisme global,” ujar Nuruzzaman.

Dijelaskan dia, Gerbang Esa adalah gerakan kebangkitan ekonomi yang menerapkan konsep Islam, yang dapat diterima semua orang karena tidak menindas seperti kapitalisme yang hanya menguntungkan pemilik modal. “Syaratnya kita harus mau berubah dulu dan berkomitmen agar berkah sesuai petunjuk (protokol) syariah yang benar,” pungkasnya. [B-19]

BACA JUGA:  Total Transaksi 421 Juta, Lombok Food Festival akan Lahirkan Banyak Inspirasi