Optimasi Jaringan Internet Dengan Mikrotik dan FreeRadius

Freeradius

Berita11.com— Fitur Hotspot dari Mikrotik merupakan fitur yang sangat terkenal di seantero Indonesia. Penerapannya menggurita mulai dari internet di kafe, sekolah, kampus, kos-kosan, hotel, hingga bisnis RT/RW Net.

Jika ada yang belum tahu, Secara sederhana fitur ini mirip seperti fitur billing pada warnet, namun implementasinya untuk di jaringan Wifi / Hotspot. Setiap Komputer, laptop & handphone yang ingin terkoneksi ke internet, harus punya akses login menggunakan username dan password terlebih dahulu.

Berikut adalah sedikit tampilan login hotspot jika ada user yang ingin mengakses internet :

Jika Anda pernah mencoba fitur dari Free Wifi.id atau jaringan internet di McDonalds, atau jaringan internet di hotel yang perlu username dan password, itu merupakan contoh nyata implementasi dari fitur Hotspot di Mikrotik.

Selain untuk kebutuhan internal kampus / sekolah / kantor Anda sendiri, Anda juga dapat menggunakan fitur Hotspot Mikrotik ini untuk keperluan bisnis. Bisa untuk memulai bisnis internet di kos-kosan, kafe, atau hotel.

Problem Yang Terjadi

Saking terkenalnya fitur ini dan begitu mudah cara setupnya, akhirnya banyak yang tidak tahu bahwa fitur ini tidak cocok jika digunakan oleh banyak user.

Perlu Anda ketahui bahwa fitur ini hanya cocok digunakan oleh 30-50an user saja. Jika lebih dari itu ? Pasti internetnya menjadi lemot. Walaupun bandwidth internet yang Anda sewa sudah besar.

Fitur Hotspot Mikrotik memang cukup menguras resource dari Router Mikrotik. Semakin banyak user yang terkoneksi, maka kinerja dari Mikrotik anda semakin berat.

Ujung-ujungnya internet menjadi lemot dan Mikrotik Anda bisa hang. Jika dibiarkan terus menerus bisa jadi Mikrotik Anda akan cepat rusak. Ciri-ciri dari Mikrotik yang sudah akan hang adalah ketika CPU Loadnya tinggi seperti ini :

BACA JUGA:  Iklan Video Naik 65%, Didorong Konsumsi Seluler yang Meningkat Selama Pandemi

Kenapa fitur ini bisa menguras resource begitu besar ? Fitur Hotspot Mikrotik memiliki proses yang cukup kompleks di dalamnya. Yang paling berat adalah proses autentikasi untuk mencocokkan apakah username dan password yang di input sudah sesuai dengan database yang ada.

Bayangkan ini seperti proses pengecekan tiket pada pintu masuk stadion saat ada pertandingan sepakbola. Petugas tiket akan mencocokkan apakah tiket tersebut sesuai dengan data yang ada, jika cocok maka boleh masuk, jika tidak maka ditolak.

Fitur Hotspot pun sama. Mikrotik akan mencocokkan username dan password yang di input apakah sudah sesuai dengan yang ada di database atau tidak. Jika sesuai maka diperbolehkan mengakses internet dengan konfigurasi yang diinginkan ( misalnya kecepatannya sekian, waktu akses internetnya hanya 2 jam, dll ).

Nah, saat Anda menerapkan fitur Hotspot Mikrotik di sekolah atau kampus yang jumlah usernya bisa 1000-2000an, dan Anda cuma menggunakan 1 buah Mikrotik saja, tentu tidak akan kuat. Resource Mikrotik akan termakan habis untuk pemrosesan autentikasi dan penyimpanan database yang begitu banyak.

Belum lagi masalah penyimpanan data-data user yang ribuan tersebut pasti tidak dapat dikelola dengan baik. Mikrotik tidak punya kemampuan yang lebih dalam pengelolaan database dalam jumlah yang besar. Misalnya untuk export dan import database, tidak punya antar muka web untuk manajemennya dan juga.

Integrasi Mikrotik dengan Freeradius

Mikrotik sejatinya hanyalah sebuah Router. Sehingga fungsinya lebih cocok untuk pengaturan traffic, security, dan manajemen bandwidth terkait Networking saja.

Tidak untuk kebutuhan penyimpanan data-data user, proses autentikasi, dan pemrosesan database yang besar dalam fitur Hotspot, yang sejatinya lebih cocok untuk Server. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah layanan terpisah untuk menangani hal terkait autentikasi dan penyimpanan database ini.

BACA JUGA:  WhatsApp Hadapi Rententan Keluhan soal Pembaruan Kebijakan Privasi

Freeradius adalah sebuah layanan server yang dapat menggantikan peran Mikrotik untuk kebutuhan autentikasi user dan password berdasarkan database. Freeradius juga didesain spesifik untuk menangani database skala besar. Sehingga pasti performa dan fitur-fiturnya jauh lebih baik.

Analoginya antara Mikrotik yang menangani kebutuhan autentikasi dan database nya sendiri dibanding dengan di serahkan ke Freeradius itu seperti membandingkan antara lulusan Fresh Graduate S1 Keuangan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam mengelola keuangan Negara. Anda tentu bisa menilai mana yang hasilnya lebih baik.

Ilustrasi Skema Freeradius.

Freeradius dapat di integrasikan dengan fitur Hotspot Mikrotik. Freeradius akan menghandle proses autentikasi dan penyimpanan database, dan Mikrotik tinggal mengurusi pemrosesan traffic networknya saja. Efeknya beban kerja Mikrotik akan jauh menurun, dan tidak akan membuat fitur Hotspot menjadi lemot dan hang lagi.

Benefit Implementasi Mikrotik dan Freeradius

Efek utamanya tentu user-user Anda menjadi puas karena internet di jaringan Hotspot Anda yang besar tersebut tidak akan lemot lagi.

User yang puas membuat Anda tidak perlu banyak melakukan maintenance ini itu, tidak perlu menerima keluhan user yang macam-macam, juga bisa meningkatkan pendapatan Anda ( jika Anda bisnis Wifi atau RT/RW Net ).

Benefit-benefit lainnya yang juga dapat Anda rasakan adalah :

  1. Jaringan Lebih aman.
  2. Mikrotik lebih awet. Tidak cepat rusak.
  3. Jaringan internet lebih stabil dan lebih cepat.
  4. Mudah dalam mengelola database user dan password yang banyak.

Jika Anda memang ada rencana untuk berbisnis Wifi seperti Wifi.id atau RT/RW Net di daerah Anda, atau Anda adalah teknisi IT yang mengelola internet untuk banyak user, tentunya akan sangat cocok untuk implementasi Mikrotik dengan Freeradius.

Sumber: blog.cilsy.id