Kota Bima, Berita11.com— Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bima mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Februari 2026 sebesar 6,40 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,06. Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2025 yang sebesar 105,32.
Selain inflasi tahunan, Kota Bima juga mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,91 persen dan inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,52 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Bima, Tuti Juhaeti, mengatakan inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga pada seluruh sebelas kelompok pengeluaran.
“Inflasi terjadi karena seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar,” ujar Tuti.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi tertinggi sebesar 24,92 persen dengan andil 1,97 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh tarif listrik yang memberikan sumbangan sebesar 1,98 persen.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 21,69 persen dengan andil 1,55 persen. Komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang dominan dengan andil 1,37 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi sebesar 4,83 persen dengan kontribusi 1,74 persen terhadap inflasi tahunan. Beberapa komoditas yang dominan mendorong inflasi di antaranya sigaret kretek mesin (SKM), ikan bandeng, ayam hidup, daging ayam ras, dan cabai rawit.
Di sisi lain, sejumlah komoditas tercatat menahan laju inflasi atau mengalami deflasi secara tahunan, seperti cumi-cumi, bawang putih, cabai merah, telur ayam ras, dan bensin.
Secara bulanan (m-to-m), inflasi 0,91 persen pada Februari 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan, cabai rawit, angkutan udara, udang basah, serta beberapa komoditas makanan jadi seperti ikan bakar dan pepes.
Pada kelompok transportasi, inflasi y-on-y tercatat sebesar 2,00 persen dengan andil 0,26 persen. Kenaikan tarif angkutan udara menjadi penyumbang utama pada kelompok ini.
Sementara itu, kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 5,93 persen dengan andil 0,28 persen, terutama berasal dari kenaikan biaya akademi atau perguruan tinggi.
Dibandingkan tahun sebelumnya, tingkat inflasi y-on-y Kota Bima pada Februari 2026 lebih tinggi. Pada Februari 2024 inflasi tercatat sebesar 2,39 persen dan Februari 2025 sebesar 0,15 persen. Adapun inflasi y-to-d Februari 2024 sebesar 0,35 persen, sedangkan Februari 2025 mengalami deflasi sebesar 1,78 persen.
Tuti menegaskan pihaknya akan terus memantau perkembangan harga di Kota Bima sebagai dasar pengambilan kebijakan pengendalian inflasi di daerah. [B-22]
Follow informasi Berita11.com di Google News











