Target Net-Zero BDO Indonesia Disetujui SBTi, Perusahaan Targetkan Pengurangan Emisi 90 Persen pada 2050

CEO BDO di Indonesia, Thano Tanubrata. Foto Ist.
CEO BDO di Indonesia, Thano Tanubrata. Foto Ist.

Jakarta, Berita11.com– BDO di Indonesia resmi mendapatkan persetujuan dari Science Based Targets initiative (SBTi) atas target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) berbasis sains untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Persetujuan tersebut menjadi bagian dari komitmen BDO di Indonesia dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pencapaian target net-zero emission pada 2050.

Bacaan Lainnya


Dalam keterangannya, BDO di Indonesia menyebut SBTi telah memvalidasi target pengurangan emisi perusahaan yang mencakup emisi langsung maupun tidak langsung dari aktivitas operasional perusahaan.

Berdasarkan target yang disetujui, BDO di Indonesia berkomitmen mengurangi emisi GRK cakupan 1 dan cakupan 2 sebesar 42 persen pada 2030 dibandingkan tahun dasar 2025. Selain itu, perusahaan juga berkomitmen melakukan pengukuran dan pengurangan emisi cakupan 3.

Untuk target jangka panjang, BDO di Indonesia menargetkan pencapaian net-zero pada 2050 dengan mengurangi emisi cakupan 1, 2, dan 3 hingga 90 persen dari tahun dasar 2025.

BACA JUGA:  Estimasi Timbulan Sampah Kabupaten Dompu 112,92 Ton per Hari, Pemkab Luncurkan Bank Sampah

CEO BDO di Indonesia, Thano Tanubrata, mengatakan persetujuan target iklim oleh SBTi menunjukkan komitmen perusahaan dalam menerapkan praktik bisnis berkelanjutan.

“Sebagai firma profesional, tanggung jawab kami tidak hanya memberikan layanan terbaik bagi klien, tetapi juga memastikan operasional kami selaras dengan upaya global dalam membatasi pemanasan bumi,” ujar Thano.

Ia menambahkan, komitmen tersebut merupakan langkah jangka panjang perusahaan dalam mendukung agenda keberlanjutan global.

 

Dorong Dunia Usaha Percepat Dekarbonisasi

ESG Partner BDO di Indonesia, Johan Sebastian, mengatakan validasi SBTi menjadi bukti komitmen perusahaan untuk menerapkan prinsip keberlanjutan melalui tindakan nyata.

Menurutnya, sebagai perusahaan yang memberikan layanan konsultasi keberlanjutan kepada berbagai sektor usaha, BDO perlu memastikan bahwa praktik internal perusahaan telah berjalan sesuai standar yang kredibel.

“Penting bagi kami untuk mengukur, mengelola, dan mengurangi jejak karbon kami sendiri secara kredibel terlebih dahulu,” kata Johan.

Ia berharap langkah tersebut dapat mendorong lebih banyak perusahaan di Indonesia untuk mempercepat agenda dekarbonisasi secara terstruktur dan terukur.

Sementara itu, ESG Expert BDO di Indonesia, Amandari, menyampaikan bahwa penyelarasan target emisi dengan standar berbasis sains dilakukan untuk memastikan proses dekarbonisasi berjalan dengan pendekatan yang terukur.

BACA JUGA:  Mendorong Transisi Energi Terbarukan di Indonesia

Menurut dia, validasi SBTi menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan perusahaan menuju operasional rendah karbon.

“Meskipun tantangan masih terus berkembang, kami berkomitmen secara konsisten mengembangkan dan menerapkan berbagai inisiatif untuk mendukung pencapaian target pengurangan emisi jangka panjang hingga 2050,” ujarnya.

 

Siapkan Layanan Konsultasi ESG

Selain menjalankan komitmen internal, BDO di Indonesia juga menyatakan akan memperkuat layanan konsultasi terkait Environmental, Social, and Governance (ESG) bagi perusahaan lain yang tengah melakukan transisi menuju bisnis berkelanjutan.

Layanan tersebut mencakup penyusunan peta jalan keberlanjutan, penghitungan inventarisasi emisi gas rumah kaca untuk cakupan 1, cakupan 2, dan cakupan 3, serta pendampingan penyusunan laporan keberlanjutan sesuai standar lokal maupun global.

BDO di Indonesia menilai upaya pengurangan emisi membutuhkan keterlibatan berbagai sektor usaha agar target dekarbonisasi nasional dan global dapat tercapai. [B-26]

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait