Inflasi Kota Bima 2,22 YoY, Kelompok Informasi dan Pendidikan Stabil

Cabai Merah Termasuk Kelompok Volatile Food yang Sering Menyumbang Inflasi di NTB. Foto US/ Berita11.com.

Kota Bima, Berita11.com— Hasil pencatatan inflasi di Kota Bima yang juga jadi acuan Kabupaten Bima pada kelender Februari 2022 hanya 0,60, sedangkan laju inflasi year on year (YoY) pada Februari 2022 sebesar 2,22 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bima mencatat deflasi pada Februari 2022 sebesar 0,25 atau terjadi penurunan  Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,40 pada Janauri 2022 menjadi 107,13 pada Februari 2022,  searah dengan angka deflasi nasional yang tercatat 0,02 persen.

Kepala BPS Kota Bima, Ir Peter Willem melalui BRS menjelaskan, deflasi pada Februari 2022 sebesar 0,25 persen terjadi karena penurunan harga yang ditunjukkan penurunan pada kelompok dengan penyumbang terbesar yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,07 persen dan kelompok komoditas perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Dia menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan, perkembangan harga berbagai komoditas secara umum menunjukkan penurunan pada kelompok komoditas dengan bobot tinggi. Pada Februari 2022, Kota Bima mengalami deflasi 0,25 persen atau terjadi penurunan IHK  dari 107,40 pada Januari 2022 menjadi 107,13 pada Februari 2022. Dengan angka inflasi tersebut, laju inflasi tahun kalender Februari 2022 terhadap Januari 2022 sebesar 0,60 persen dan laju inflasi  YoY 2,22 persen.

Transportasi dan kesehatan sumbang Inflasi

Lebih jauh dijelaskan, deflasi pada Februari 2022 sebesar 0,25 persen terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan dengan penurunan pada kelompok penyumbang terbesar yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,07 persen dan kelompok komoditas perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,01 persen.  Kendati demikian, beberapa kelompok komoditas terpantau mengalami inflasi atau peningkatan harga pada periode pemantauan Februari, yaitu kelompok transportasi sebesar 0,7 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,13 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,1 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,06 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,05 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,03 persen. Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, kelompok pendidikan, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman,restoran terpantau stabil selama periode pemantauan.

Dikatakannya, lima komoditas yang mengalami penurunan harga terendah pada Februari 2022,  yaitu telur ayam ras, ikan bandeng,ikan bolu, daging ayam ras, cumi-cumi, dan cabai rawit, sedangkan lima komoditas yang mengalami kenaikan harga tertinggi, yaitu mobil, beras, bawang merah, ikan layang,ikan benggol, dan ikan tongkol,ikan ambu-ambu.

Pada Februari 2022, kelompok komoditas yang memberikan andil  deflasi, yaitu  kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,3687 persen dan kelompok komoditas perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,0012 persen. Sementara itu, kelompok komoditas yang memberikan andil inflasi antara lain kelompok transportasi 0,0913 persen, kelompok kesehatan 0,0044 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,0074 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,0036 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,0008 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,0021 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau Februari 2022 mengalami deflasi 1,07 persen dengan IHK sebesar 108,51 atau turun dibanding IHK bulan sebelumnya yaitu 109,68. Dari tiga subkelompok dalam kelompok ini, dua subkelompok mengalami inflasi, sementara satu subkelompok mengalami deflasi.  

Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok rokok dan tembakau yaitu 0,15 persen dengan sumbangan inflasi  0,0075 persen. Sementara itu subkelompok yang mengalami deflasi adalah subkelompok makanan yaitu 1,44 persen dengan sumbangan deflasi 0,3787 persen. Secara keseluruhan pada Februari 2022, kelompok komoditas ini memberikan sumbangan inflasi 0,4697 persen.

Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain beras, bawang merah, ikan layang, ikan benggol, ikan tongkol, ikan ambu-ambu, dan ice cream, sedangkan komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi antara lain telur ayam ras, ikan bandeng,ikan bolu, daging ayam ras, cumi-cumi, dan cabai rawit.

Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan pada Februari 2022 stabil selama periode pemantauan dengan dengan IHK sebesar 104,60. Dari tiga subkelompok dalam kelompok ini, tidak ada subkelompok yang mengalami perubahan harga selama periode pemantauan Februari 2022.

Inflasi Tahunan

Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Februari) 2022 sebesar 0,60 persen dan tingkat inflasi tahun YoY sebesar 2,22 persen, sedangkan tingkat inflasi pada periode yang sama tahun kalender 2021 dan 2020 masing-masing sebesar -0,04 persen dan 0,89 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun untuk Februari 2021 terhadap Februari 2020 dan Februari 2020 terhadap Februari 2019 masing-masing sebesar 0,19 persen dan 3,68 persen.

BACA JUGA:  Migor belum Stabil, Mulai Hari ini DMO CPO Tembus 30 %, Ekonom Faisal Basri Singgung B20

Harga Bapok di Pasar Tradisional

Berdasarkan pemantauan langsung pada sejumlah pasar tradisional seperti pasar pagi Sila, Kecamatan Bolo dan Pasar Tente Kecamatan Woha Kabupaten Bima, sejumlah bahan pokok (Bapok), komoditi ekspor dan barang strategis mengalami kenaikan. Namun sebagian bahan pangan seperti kelompok sayur ada yang turun dan cenderung fluktuatif. Sejumlah pedagang menuturkan, salah satu penyebab kenaikan Bapok karena kenaikan dari tingkat produsen. Selain itu, pengaruh musim yang berpengaruh terhadap tingkat ketersediaan dan permintaan.

Pedagang sayur kompleks pasar tradisional Sila Kabupaten Bima, Fitriani mengatakan, hingga sekarang belum ada hambatan berkaitan masalah moda transportasi untuk bahan pokok dan kelompok sayuran untuk Kabupaten Bima yang umumnya dipasok dari luar wilayah seperti Pulau Lombok, walaupun dua pekan terakhir kondisi cuaca mengalami masalah seperti ketinggian gelombang hingga di atas 2 meter. Namun demikian, penurunan produksi pada tingkat produsen yang dipengaruhi oleh musim yang berdampak terhadap kestabilan dan ketersediaan stok yang tidak seimbang dengan permintaan (inbalance demand and supply).

Aktivitas Pedagang Bapok di Pasar Tradisional Pagi Sila, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Foto US/ Berita11.com

Beberapa kelompok komoditi sayur yang mengalami kenaikan yang dijual oleh pedagang di pasar,  harga bawang putih Rp30.000/ Kg, naik dari sebelumnya Rp28.000/ Kg , kentang  impor Rp22.000/ Kg, naik dari sebelumnya Rp20.000/ Kg,  wortel Rp25.000/ Kg, naik dari sebelumnya Rp23.000/ Kg, cabe rawit Rp25.000 / Kg, naik dari sebelumnya Rp15 ribu/ Kg.

Sementara itu kelompok sayur yang menurun pada periode tersebut di wilayah Kabupaten Bima, cabai besar keriting Rp30.000, turun dari sebelumnya Rp35.000/ Kg,  cabai besar Rp30.000, turun dari sebelumnya Rp35.000/ Kg. Namun demikian menjelang bulan suci Ramadan 1443 Hijriah, komoditi tersebut kembali naik hingga Rp70.000/ Kg.

Pedagang bahan pokok di pasar tradisional Sila Kabupaten Bima, Hadijah mengatakan, secara umum para pedagang menginginkan harga bahan pokok tetap stabil, karena kenaikan harga tidak menguntungkan para pedagang.  Kenaikan harga berpengaruh terhadap tingkat daya beli masyarakat, sehingga perputaran omzet penjual menurun seperti yang terjadi pada Bapok jenis minyak goreng dan gula pasir.

Dia menyebut harga minyak goreng curah Rp32.000/ 1,5 liter, minyak goreng premium merek Bimoli Rp23 ribu hingga Rp26 ribu/ liter, minyak goreng biasa (curah) Rp12.000/ 0,5 liter. Harga gula pasir juga naik menjadi Rp15 ribu/ Kg dari sebelumnya Rp13.000/ Kg, bawang putih Rp30.000/Kg, bawang merah Rp15.000/ Kg, kacang hijau Rp28.000/ Kg,  terigu eceran Rp9.000/ Kg, naik dari sebelumnya Rp8.000 ribu /Kg, jagung kering Rp25.000/ Kg, Kecap ABC 600 ml, Rp25.000/ botol, merica biji Rp120.000 ribu/ Kg, naik dari sebelumnya Rp95.000 Kg, telur Rp50.000 ribu/ krak (fluktuatif), beras super Rp11.000, naik dari sebelumnya Rp10.000/ Kg.

Pedagang sayur di pasar tradisional Sila, Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Sofia mengatakan, walaupun terjadi kenaikan pada beberapa komoditi impor seperti sebagian jenis sayur, namun daya beli masyarakat tetap stabil, karena Komiditi yang dijual dibutuhkan oleh masyarakat.

Harga minyak goreng masih tinggi, berpotensi jadi penyumbang inflasi

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bima, Juraidin ST M.Si yang dihubungi secara terpisah membenarkan harga minyak goreng pada berbagai wilayah Kabupaten Bima masih tinggi. Hasil monitoring pihaknya, beberapa jenis Bapok lainnya seperti gula pasir mengalami kenaikan menjelang bulan suci Ramadan 1443 Hijriah.  Namun demikian, pemerintah daerah tetap melakukan berbagai upaya, walaupun secara langsung tidak bisa mengintervensi mekanisme pasar. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Bulog Sub Divre Bima menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga minyak goreng.

Waket STKIP Taman Siswa ini menyebut, terdapat persoalan khusus yang menyebabkan harga minyak goreng pada sejumlah wilayah Kabupaten Bima bermasalah. Persoalan itu terutama berkaitan stok yang terbatas. Beberapa agen dan pedagang mengaku menjual dengan harga tinggi, bahkan mencapai di atas Rp23 ribu/ liter untuk kategori minyak goreng premium karena memiliki stok lama. Padahal bisa dirafaksi, sehingga selisih harga dapat ditanggung oleh pemerintah.

BACA JUGA:  Posisi Mori Hanafi Digeser dan Diganti Naufar di Pucuk Udayana, ini Penjelasan HBK

Persoalan tersebut membuat pihaknya belum maksimal dalam menerapkan HET minyak goreng sebagaimana yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Seharusnya kalau masih ada minyak goreng stok lama bisa dilakukan rafaksi barang dan penyesuaian harga. Rafaksi yaitu selisih antara pembelian harga lama dan penjualan harga baru sesuai HET bisa diklaim ke pemerintah untuk dibayarkan selisihnya,” ujarnya.

Hasil monitoring Disperindag Kabupten Bima terhadap agen dan distributor minyak goreng yaitu di CV Makmur Jaya Abadi menyediakan minyak goreng merk Fortune. Pasokan minyak goreng masuk harga Rp13 ribu di tingkat distributor. Rinciannya isi 12 pouch per liter sebanyak 800 dus dan 1100 dos (isi 6 pouch/2 liter). Pasokan terakhir pada 21 Februari  2022 di peruahaan tersebut sebanyak 1900 dus dan sudah habis terjual.

Adapun hasil monitoring terhadap CV Jaya Mantap Perkasa yang menjual minyak goreng merk Sania dan Sovia, pihaknya memperoleh informasi pasokan terakhir di perusahaan tersebut pada 21 Februari 2022 sebanyak 2.000 dos dan sudah habis terjual, yang mana perusahaan tersebut  dalam proses pasokan ke produsen sebanyak 2.000 dus dan akan masuk dalam waktu tak lama lagi. Rencananya harga jual pada tingkat distributor Rp13 ribu.

Sementara hasil monitoring terhadap distributor minyak goreng merek Fitri dan Tropical CV Mitra Mandiri, pihaknya memperoleh informasi bahwa pasokan terakhir di distributor tersebut pada Desember 2021 dan hingga kini ini belum ada pasokan baru. Demikian halnya hasil monitoring terhadap distributor merek Bimoli, Toko Varia Bima.  Perusahaan tersebut mengaku hanya mendapatkan pasokan terkahir pada Desember 2021.

“Kalau di retail modern stok sangat terbatas. Masuk langsung habis, tapi harga sudah sesuai HET. Retail modern Alfamart dan Indomaret,” ujarnya.

Pedagang minyak goreng di pasar tradisional Sila, Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Rahma mengatakan, secara umum para pedagang Bapok seperti dirinya menginginkan harga minyak goreng tetap stabil sesuai HET yang dijanjikan pemerintah. Para pedagang terpaksa menjual minyak goreng dengan harga mahal, karena mengacu harga beli di tingkat distributor atau toko penyedia yang berada di Kota Bima seperti Sumber Mas.

“Harga minyak goreng tinggi malah kita rugi, karena tingkat kemampuan dan daya beli masyarakat berkurang. Tidak semua mampu membeli minyak goreng dengan harga mahal. Karena itu kami sangat memohon kepada pemerintah untuk menstabilkan harga,” harapnya.

Menurut dia, menjual harga minyak goreng sesuai HET yang ditetapkan pemerintah ibarat simalakama bagi pedagang, karena masih banyak minyak goreng stok lama yang harus dijual pedagang. Jika menyesuaikan HET, maka otomatis para pedagang rugi. Para pedagang juga belum mengetahui alur dan mekanisme rafaksi.  “Apalagi jelang Ramadan begini, semua harga pasti naik. Kita pedagang malah rugi, karena akan semakin tinggi modal yang harus dikeluarkan,” ujarnya mengeluh.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, kelompok volatile food menjadi salah satu penyumbang inflasi di Provinsi NTB termasuk di Bima, yang mana pada kuartal III tahun 2021 sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB mengalami perlambatan karena terjadi kontraksi 1,81 YoY, sehingga pada kuartal I tahun 2022 pertumbuhan ekonomi yang dipengaruhi berbagai lapangan usaha (LU) di luar sektor pertambangan masih kurang stabil yang tergambar dari kinerja seluruh komponen utama konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. Sebagaimana data pertumbuhan ekonomi tahun 2021 di Provinsi NTB termasuk Kabupaten Bima di luar LU pertambangan hanya tumbuh 5,68 % year on year/ YoY. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Heru Saptaji, pada kesempatan HLM TPID NTB beberapa bulan lalu menyampaikan urgensi penyediaan data neraca pangan dari masing-masing daerah serta penguatan konektivitas antardaerah segera ditindaklanjuti.

Secara spesifik, komoditas seperti cabai rawit dan cabai merah, daging ayam ras, serta minyak goreng meningkat cukup signifikan. Secara historikal lima tahun terakhir, komoditas tersebut juga termasuk dalam komoditas yang paling sering menjadi penyumbang inflasi.

TPID memandang penguatan klaster pangan volatile food, peningkatan infrastruktur pendukung pertanian, melaksanakan kerja sama dengan mitra strategis sebagai off-taker yang bersinergi dengan BUMD, penguatan konektivitas distribusi pasokan, dan mendorong diversifikasi pola konsumsi masyarakat adalah hal penting yang harus dilakukan setiap daerah di NTB. [B-11]