Kisah Buruh Pelabuhan Bima yang Sukses Raih Predikat Cumlaude, Pernah jadi Pemain Liga III di Jawa

Abdul Gafur/ Foto US.

Senyum merekah sesekali terpacar dari wajah pemuda 26 tahun itu. Siang itu dia ditemani dua rekannya yang juga memakai setelan almamater merah marun dan celana kain hitam polos. Puluhan rekannya yang lain telah bergegas dari tempat duduknya setelah acara selesai. Dalam ruangan sekitar 50×50 meter itu, dia baru saja dikukuhkan sebagai sarjana dan peserta yudisium terbaik. Indeks prestasi komulatif (IPK) yang dia raih bertengger dalam kategori dengan pujian (cumlaude). Namanya pun disebut-sebut dalam sambutan Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Kependidikan Taman Siswa (STKIP Tamsis) Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman, yang memimpin prosesi yudisium siang itu.

Pemuda itu adalah Abdul Gafur, peserta yudisium tahap 3 tahun 2022, STKIP Taman Siswa Bima dari program studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) yang berhasil meraih IPK 3,65 dengan waktu studi kurang dari lima tahun. Dia tak menyangka namanya disebut sebagai peserta yudisium terbaik, setelah lika-liku perjuangan dan peluh harus dia keluarkan untuk membayar semua itu. Berbeda dengan mereka-mereka yang memiliki privelege, dengan mudah tumbuh berkembang dan menggapai cita-cita setinggi mungkin. Terlebih saat masih ada ‘distorsi’ biaya pendidikan.

Ingatan putra ke-5 pasangan suami-istri Sirwan dan Fatma, warga Kelurahan Tanjung, sebuah daerah pesisir di Kota Bima ini kembali pada masa lalu saat Berita11.com mengulik sejarah hidupnya. Hidup pahit telah dia lakoni bersama keluarganya sejak puluhan tahun lalu. Maklum saja orang tuanya hanyalah seorang nelayan yang mengandalkan hasil tangkapan yang tak menentu dan bergantung pada kondisi musim, sedangkan ibunya hanyalah pedagang bakulan yang mencoba peruntungan dari para pembeli. Kini bahkan bapaknya yang semula satu-satunya menjadi penopang ekonomi keluarga, telah pensiun menjadi nelayan saat usia senja semakin menyergapnya.

“Dulu waktu duduk di bangku SMP hingga bangku SMA saya ikut melaut membantu bapak mencari ikan. Tapi sekarang bapak sudah pensiun dari profesinya sebagai nelayan, karena usia beliau juga semakin menua dan fisiknya tidak sekuat dulu,” kenang pemuda kelahiran Bima, 29 Desember 1996 silam ini.

Meskipun menempuh kuliah di perguruan tinggi adalah dambaannya sejak kecil setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, Abdul Gafur tak langsung mereguh cita-citanya itu. Selepas bangku SMA, alumnus SMPN 13 Kota Bima tahun 2011 ini harus ‘membanting tulang’ siang malam menjadi buruh pengangkat karung jagung, pengangkat karung bawang merah dan barang penumpang kapal Pelni di Pelabuhan Bima. Hasil yang dia dapat pun pas-pasan hanya Rp50 ribu per hari. Sebagian digunakan untuk kebutuhan bersama orang tua dan saudaranya, sisanya ditabung untuk biaya mendaftar kuliah.

BACA JUGA:  Telah Amankan 1 Tiket Cabor Hapkido untuk PON Aceh, ini Lawan Terberat NTB

Butuh waktu dua tahun lebih bagi Abdul Gafur untuk mendapatkan modal untuk mendaftar kuliah, sehingga praktis awalnya dia menunda masuk perguruan tinggi selama dua tahun setelah lulus SMAN 4 Kota Bima tahun 2014.

“Jadi buruh kadang sampai subuh. Kalau nasib lagi bagus kadang bisa dapat Rp100 ribu per hari. Tapi itu jarang-jarang. Kebanyakan cuma dapat upah Rp50 ribu,” ujarnya.

Abdul Gafur Foto Bersama Ketua STKIP Tamsis Bima, Dr Ibnu Khaldun M.Si, Wakil Rektor dan Pimpinan Prodi serta Teman-temannya Peserta Yudisium, Rabu (27/4/2022).

Selama menempuh pendidikan formal tingkat SMP, Abdul Gafur sering menjadi langganan jawara kelas, demikian juga saat duduk di bangku SMAN 4 Kota Bima, prestasinya tetap bertahan masuk dalam 10 besar dalam kelas dengan meraih rangking 3.  Bahkan prestasi akademinya tersebut bertahan hingga bangku kuliah. Abdul Gafur tercatat pernah meraih beasiswa berprestasi dan beasiswa uang kuliah tunggal (UKT). Selain meraih prestasi akademik, pemuda yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru dan pemain sepak bola ini, juga mengoleksi sejumlah prestasi non-akademik. Lebih dari lima kali dia tampil dalam kancah kompetisi sepak lokal antar kota-kabupaten di Pulau Sumbawa, membela Persatuan Sepak Bola STKIP Taman Siswa (PS Tamsis).

Sejak kecil dia sudah hobi memaikan si kulit bundar, beberapa pemain PS Armada, klub sepak bola kebanggaan masyarakat Kelurahan Tanjung Kota Bima seperti Sumardin alias Digon menginspirasinya untuk mengembangkan bakatnya sebagai pemain bola. Minat dan bakatnya juga diasah Rusdin M.Pd yang merupakan dosen pembinbing Prodi PJKR STKIP Tamsis Bima. Puncaknya Abdul Gafur pernah merasakan ketatnya kompetisi sepak bola di Pulau Jawa, saat dilirik bermain untuk PS Jember, Jawa Timur. Namun tak lama kemudian, dia harus merelakan hobinya mengolah si kulit bundar. Saat bermain untuk turnamen lokal di Desa Rada, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, Abdul Gafur mengalami cidera fatal hingga menyebabkan kakinya sempat patah dan harus gantung sepatu.  

BACA JUGA:  STKIP Tamsis akan Wajibkan Mahasiswa Akhir Tanam Dua Pohon

“Sekarang saya tidak bisa maksimal main sepak bola. Kalaupun dipaksakan hasilnya tidak akan maksimal,” ujarnya.

Sadar akan kondisi fisiknya saat ini, Abdul Gafur kini mengejar lisensi wasit futsal, karena didukung latar belakang pendidikannya sebagai sarjana pendidikan dari Prodi PJKR. Jika ada kesempatan dan akses beasiswa, dia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. “Salah satu yang saya kejar sekarang wasit futsal, minimal level III. Kalau ngejar lisensi wasit sepak bola juga harus kuat berlari, sementara kaki saya bermasalah setelah cidera saat main di Desa Rada,” ujar pemuda yang masih menjadi buruh pelabuhan sekaligus guru non-PNS untuk mata pelajaran olahraga di SMPN 13 Kota Bima ini.

Kini, Abdul Gafur belum memikirkan pendamping hidup atau melangsungkan pernikahan. Harapannya bisa membahagiakan orang tua dan seluruh anggota keluarganya. Salah satunya dengan meningkatkan jenjang pendidikannya atau meraih cita-citanya menjadi guru olahraga bersatatus PNS. Profesi dan jenjang pendidikan tersebut menjadi tiket baginya untuk meningkatkan taraf kehidupan keluarganya yang sudah lekat sebagai kaum papah di daerah pesisir.

Dia juga ingin menghilangkan stigmatisasi dan kesan negatif bagi anak-anak pesisir yang dianggap identik ‘kaum bar-bar’ berpendidikan rendah, putus sekolah dan miskin. Menjelang momentum May Day pada 1 Mei 2022, Abdul Gafur juga berharap pemerintah memerhatikan nasib para buruh termasuk di pelabuhan Bima. Misalnya dengan memastikan standar upah minimal bagi buruh dan hak-hak jaminan sosial kesehatan.

“Mudah-mudahan ada perhatian khusus untuk nasib parah buruh, termasuk kami yang juga menjadi buruh di Pelabuhan Bima, karena selama ini hanya janji-janji saja,” ujarnya.

Jika tak ada aral melintang, Abdul Gafur dan ratusan mahasiswa tingkat akhir STKIP Taman Siswa yang telah dikukuhkan sebagai sarjana dalam prosesi yudisium beberapa tahap, mengikuti prosesi wisuda pada pertengahan Mei 2022 mendatang.

“Selama kuliah saya tidak masuk dalam organisasi atau OKP. Saya fokus menuntaskan kuliah dan bekerja,” ujar Abdul Gafur (US)