Ditinggal Ayah sejak Usia Dini dan Sempat Merasa Tertinggal, Meilan Rengkuh Gelar Sarjana Pendidikan

Meilan Sahlan.
Meilan Sahlan.

TIDAK semua perjalanan menuju wisuda berjalan lurus. Ada yang harus melewati keraguan, membandingkan diri dengan orang lain, hingga bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar mampu menyelesaikan apa yang telah dimulai. Meilan Sahlan pernah berada di titik itu.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi tersebut sempat merasa tertinggal ketika teman-temannya mulai memasuki tahap bimbingan proposal, sementara dirinya masih berkutat dengan revisi judul skripsi yang berulang.

Bacaan Lainnya

Di saat teman-temannya sudah melangkah lebih jauh, Meilan justru merasa masih berada di tempat yang sama. Namun, ia memilih tidak menyerah.

“Saya tetap meyakinkan diri bahwa saya bisa mengejar ketinggalan dengan teman-teman yang lain yang sudah jauh lebih depan dari saya,” ungkap Meilan.

Keraguan itu bukan karena ia tidak memiliki keinginan untuk menyelesaikan kuliah. Sebaliknya, Meilan hanya sedang berusaha menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya.

Ia mengaku pernah mempertanyakan kemampuan diri ketika melihat teman-temannya mulai menemukan bidang yang mereka kuasai, sementara dirinya masih mencari tahu di mana sebenarnya kemampuan yang dimilikinya.

Meski demikian, perasaan tersebut tidak pernah membuatnya benar-benar ingin berhenti.

Meilan terus melangkah hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan di STKIP Taman Siswa Bima dengan IPK 3,91 dan menyandang predikat Mahasiswa Terbaik. Di balik pencapaiannya itu, ada sosok yang sejak awal menjadi sumber kekuatan utama: sang ibu, Aminah.

Meilan merupakan anak keempat sekaligus bungsu dari empat bersaudara. Ia kehilangan ayahnya, almarhum Sahlan, ketika usianya bahkan belum genap tiga tahun. Sejak saat itu, Meilan dibesarkan oleh ibunya seorang diri.

“Saya anak bungsu yang dibesarkan penuh oleh mama seorang diri, sebab sebelum umur saya genap tiga tahun bapak saya lebih dulu berpulang,” tuturnya.

BACA JUGA:  Perjuangan Dinas Dukcapil Kabupaten Bima Menjaga Kedaulatan Suara Masyarakat pada Pemilu 2024

Meski menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal, Aminah tidak pernah berhenti memberikan dukungan terhadap pendidikan anaknya. Dukungan tersebut juga datang dari keluarga, terutama kakak-kakaknya yang terus meyakinkan Meilan bahwa ia mampu menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.

Bagi Meilan, keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukan semata-mata tentang memperoleh gelar. Ada perjalanan panjang dan dukungan keluarga yang membuat pencapaian itu terasa lebih bermakna.

“Terima kasih karena selalu mengusahakan yang terbaik,” menjadi kalimat yang ingin disampaikan Meilan kepada ibunya pada hari wisuda.

 

Menjadi Guru hingga Ingin Bermanfaat bagi Banyak Orang

Sejak kecil, Meilan sebenarnya sudah memiliki cita-cita yang sederhana: menjadi seorang guru. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, cita-cita itu berkembang. Ia tidak lagi sekadar ingin menjadi guru, tetapi ingin menjadi seseorang yang kemampuan dan ilmunya dapat membantu orang lain.

“Sekarang cita-cita yang ingin saya raih yaitu menjadi orang yang mampu membantu semua orang lewat kemampuan saya,” katanya.

Keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain juga tumbuh melalui berbagai pengalaman yang dijalaninya selama kuliah. Meilan pernah menjadi bagian dari Kampus Mengajar Angkatan 7, kegiatan yang mempertemukannya dengan pengalaman belajar dan pengabdian di luar lingkungan kampus. Ia juga mengikuti kegiatan pengabdian bersama dosen serta kegiatan sosial BEM Berdampak bersama Mardiah dan Mariamah di Dompu.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari prosesnya mengenal dunia pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan di luar ruang perkuliahan.

Di lingkungan kampus, Meilan juga aktif dalam Himpunan Mahasiswa Pendidikan Teknologi Informasi (HMPTI). Ia bahkan berhasil menerbitkan artikel pada jurnal DECODE yang terindeks Sinta 2, sebuah pencapaian yang menambah pengalaman akademiknya selama menjadi mahasiswa.

Namun, dari berbagai pencapaian itu, ada dua hal yang paling ia banggakan: berhasil lolos sebagai bagian dari mahasiswa dari seluruh Indonesia dalam program Kampus Mengajar dan mampu mempertahankan prestasi akademiknya sejak semester awal hingga lulus.

Bagi Meilan, kuliah bukan hanya tentang bagaimana memperoleh nilai bagus atau menyelesaikan tugas tepat waktu. Perjalanan itu juga mengajarkannya untuk mengenali dan mempercayai kemampuan diri sendiri. Ia menyadari bahwa setiap mahasiswa memiliki waktunya masing-masing.

BACA JUGA:  Sri Laila Fauziah: Mengubah Rintangan Kampus Mengajar dan Cedera Jadi Inspirasi Lulusan Terbaik

Ketika sempat merasa tertinggal dari teman-temannya, Meilan memilih menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk terus bergerak, bukan berhenti. “Yang terpenting adalah terus berjuang dan percaya pada kemampuan diri sendiri,” ujarnya.

Ada pula kenangan lain yang tidak kalah penting baginya, yakni kebersamaan dengan teman-teman sekelas. Bagi Meilan, waktu bersama teman selama menjadi mahasiswa merupakan momen yang tidak akan mudah dilupakan. Mereka meluangkan waktu untuk menciptakan berbagai kenangan yang ia sadari tidak akan bisa diulang dengan cara yang sama di kemudian hari.

Kini, setelah gelar sarjana pendidikan berada di tangannya, perjalanan Meilan belum selesai. Ia berencana mengikuti program MagangHub sambil menunggu informasi mengenai Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jika terdapat kesempatan, ia juga ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Ia tidak ingin ilmu yang diperolehnya selama kuliah berhenti menjadi sekadar gelar. “Semoga ilmu yang saya dapat mampu bermanfaat buat banyak orang,” harapnya.

Meilan juga berharap akses pendidikan semakin merata, terutama bagi wilayah-wilayah 3T di Kabupaten Bima yang masih menghadapi berbagai keterbatasan. Baginya, menjadi sarjana pendidikan bukan sesuatu yang patut disesali atau dipandang sebelah mata.

Sebagian orang mungkin menganggap gelar sarjana pendidikan kurang menjanjikan. Namun, Meilan memiliki pandangan berbeda. Pendidikan justru memberinya bekal untuk dapat membantu dan mengambil peran dalam berbagai hal di tengah masyarakat.

Perjalanannya dari Desa Tumpu, kehilangan ayah sejak usia dini, dibesarkan seorang ibu, hingga sempat merasa tertinggal dari teman-temannya akhirnya mengantarkannya ke satu titik: menyelesaikan pendidikan yang pernah ia ragukan sendiri.

Dan dari semua pencapaian itu, Meilan membawa satu keyakinan sederhana—perjalanan mungkin tidak selalu mudah, tetapi selama seseorang terus berjuang dan percaya pada kemampuannya, selalu ada jalan untuk sampai pada tujuan. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait