Pernah Bermimpi Jadi Polwan, Nur Halizsah Andini Kini Menapaki Jalan sebagai Pengajar, Karya Ilmiahnya Tembus Jurnal Sinta 2

Nur Halizsah Andini didampingi ibunda tercinta foto bersama Wakil Bupati Bima, dr H Irfan Zubaidy dan Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Assoc Prof Dr H Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si usai dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik, Sabtu (26/9/2026).
Nur Halizsah Andini didampingi ibunda tercinta foto bersama Wakil Bupati Bima, dr H Irfan Zubaidy dan Ketua STKIP Taman Siswa Bima, Assoc Prof Dr H Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si usai dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik, Sabtu (26/9/2026).

ADA masa ketika Nur Halizsah Andini membayangkan masa depannya dengan seragam polisi wanita. Ketika masih kecil, cita-cita itu tumbuh dari keinginannya untuk mengabdi kepada masyarakat sekaligus menjadi perempuan yang mandiri. Namun, waktu dan pengalaman membawanya pada perjalanan yang berbeda.

Perempuan yang akrab disapa Dini itu akhirnya menemukan jalan pengabdian melalui dunia pendidikan. Bukan sekadar menjadi guru, ia kini memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister dan suatu hari menjadi dosen.

Bacaan Lainnya

Perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak berlangsung singkat. Ia harus melewati berbagai proses, kesibukan, kelelahan, hingga keraguan selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Kini, seluruh proses itu mengantarkannya pada satu pencapaian penting. Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut berhasil meraih IPK 3,99 dan dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik I. Ia dikukuhkan sebagai sarjana dalam prosesi Rapat Senat Terbuka Wisuda Strata Satu (S1) Angkatan XXII STKIP Taman Siswa Bima di Auditorium Sudirman, Sabtu (26/9/2026).

Tetapi bagi Dini, angka 3,99 bukanlah satu-satunya cerita dari perjalanan kuliahnya. Ada perjuangan keluarga, pengalaman organisasi, kegiatan pengabdian, Kampus Mengajar, aktivitas menulis, keterlibatan dalam penelitian dan pengabdian bersama dosen, hingga upaya membagi waktu dengan pekerjaan yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Dari semua pengalaman itu, Dini belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang belajar di ruang kelas dan mendapatkan nilai akademik.

 

Tumbuh dari Keluarga Sederhana

Dini merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ia berasal dari Desa Tumpu, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Ayahnya, Drs. H. Ahmad, bekerja sebagai petani. Sementara ibunya, Hj. Erni, merupakan pensiunan PNS.

Ia menggambarkan keluarganya sebagai keluarga sederhana yang selalu memberikan dukungan dan motivasi dalam perjalanan pendidikannya.

Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas tidak membuat orang tuanya berhenti berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Justru dari keluarga tersebut Dini mendapatkan pelajaran penting tentang kerja keras, tanggung jawab, kejujuran, dan pantang menyerah.

Orang tua menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Dini. Doa dan dukungan mereka menjadi sumber motivasi ketika ia harus menghadapi berbagai tantangan. Bagi Dini, keberhasilan yang diraihnya tidak berdiri sendiri.

Di balik pencapaian tersebut ada pengorbanan kedua orang tua yang selama ini terus berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuan mereka. Karena itu, ketika perjalanan kuliah terasa berat, salah satu hal yang selalu menguatkan Dini adalah mengingat perjuangan orang tuanya.

Sejak kecil, Dini pernah bercita-cita menjadi polisi wanita. Keinginannya sederhana: mengabdi kepada masyarakat dan menjadi perempuan yang mandiri. Namun, cita-cita itu berubah seiring bertambahnya pengalaman dan perjalanan pendidikan.

Ketika memasuki dunia perkuliahan dan semakin dekat dengan dunia pendidikan, Dini menemukan ketertarikan yang lebih besar pada bidang tersebut. Ia kemudian menyadari bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan melalui profesi kepolisian. Dunia pendidikan juga menyediakan ruang yang luas untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Nur Halizsah Andini foto bersama keluarga besarnya usai dikukuhkan prosesi wisuda XXII STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).
Nur Halizsah Andini foto bersama keluarga besarnya usai dikukuhkan prosesi wisuda XXII STKIP Taman Siswa Bima, Sabtu (26/9/2026).

Menjadi pendidik, menurutnya, berarti memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu, membimbing generasi muda, sekaligus membantu mereka meraih cita-cita. Dari sanalah cita-cita Dini mulai bergeser.  Ia tidak lagi membayangkan masa depan sebagai polisi wanita, melainkan sebagai seorang dosen yang tidak hanya mengajar, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.

Perubahan cita-cita itu menjadi bagian penting dari proses Dini mengenali dirinya sendiri.

 

Kuliah Bukan Hanya Tentang Ruang Kelas

Selama menempuh pendidikan tinggi, Dini berusaha tidak hanya fokus pada kegiatan akademik di ruang kuliah. Ia beberapa kali dipercaya menjadi MC dalam kegiatan program studi. Ia juga terlibat dalam kegiatan PKM bersama dosen sebanyak empat kali selama tiga tahun berturut-turut.

Selain itu, Dini mengikuti program Kampus Mengajar. Berbagai kegiatan tersebut mempertemukannya dengan banyak pengalaman dan orang-orang baru. Ia belajar berkomunikasi, menghadapi tantangan, bekerja bersama orang lain, dan mengambil tanggung jawab di luar rutinitas perkuliahan.

Pengalaman itu membuat Dini semakin memahami bahwa proses menjadi mahasiswa tidak hanya tentang memperoleh gelar. Ada proses membangun kepercayaan diri, belajar berkomunikasi, berani terlibat, berkarya, dan berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.

BACA JUGA:  Tapak Tilas Anak Petani, Dulu pernah jadi Buruh, kini Sukses Duduk di Kursi Legislatif

Keterlibatan di berbagai kegiatan juga menjadi ruang bagi Dini untuk mengembangkan kemampuan akademiknya. Ia mulai aktif menulis dan mengembangkan kemampuan dalam bidang akademik.

 

Delapan Artikel dan Satu Karya di Jurnal Sinta 2

Dunia menulis kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik Dini. Saat masih duduk di bangku SMA, ia pernah menjuarai lomba karya tulis ilmiah (KTI) tingkat Kabupaten Bima.

Ketertarikan itu terus berkembang ketika memasuki perguruan tinggi. Selama menjadi mahasiswa, Dini telah mempublikasikan delapan artikel jurnal. Ia juga menulis buku dan tetap terlibat dalam PKM bersama dosen. Salah satu karya akademiknya bahkan dipublikasikan dalam jurnal yang terindeks Sinta 2, Elementary School.

Artikel tersebut berjudul “Elementary School Students Critical Thinking Skills Improved Through the True or False Strategy Assisted by Student Worksheets.” Tema tersebut memiliki keterkaitan dengan skripsi yang ia kerjakan.

Dalam skripsinya, Dini mengangkat penelitian berjudul “Pengaruh Strategi True or False Berbantuan LKPD terhadap Kemampuan Berpikir Kritis pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila di Sekolah Dasar.”

Pilihan tema tersebut menunjukkan perhatian Dini terhadap kemampuan berpikir kritis siswa dalam proses pembelajaran. Baginya, pendidikan tidak berhenti pada penyampaian materi. Siswa juga perlu dibimbing agar mampu berpikir kritis, kreatif, memiliki karakter, serta mampu menghadapi perkembangan teknologi dengan bijak.

 

Membagi Waktu di Tengah Banyak Kesibukan

Berbagai aktivitas yang dijalani Dini tentu memiliki tantangan tersendiri. Selain perkuliahan, ia harus membagi waktu dengan kegiatan kampus, keterlibatan dalam PKM bersama dosen, Kampus Mengajar, aktivitas menulis, dan pekerjaan.

Tidak jarang kondisi tersebut membuatnya merasa lelah dan kewalahan. Namun, situasi itu justru menjadi bagian dari proses belajar yang penting baginya. Dini belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, dan menyelesaikan setiap tanggung jawab yang telah dipilihnya.

Ia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dijalankan dengan mudah secara bersamaan. Karena itu, kedisiplinan dan konsistensi menjadi hal yang terus ia latih selama menjalani masa kuliah. Dari proses tersebut, ia belajar menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Bahkan, Dini mengakui pernah berada pada titik ketika merasa lelah, tertekan, dan ragu apakah mampu menyelesaikan kuliah. Ada saat ketika beban yang dijalani membuatnya bertanya apakah ia mampu menyelesaikan semuanya. Namun, ia memilih untuk bertahan.

Ia kembali mengingat perjuangan dan pengorbanan orang tua yang selama ini mendukungnya dalam kondisi yang tidak selalu mudah. Doa keluarga, dukungan orang tua, dan keinginannya untuk membanggakan mereka menjadi alasan bagi Dini untuk terus melangkah. Ia kemudian memahami bahwa rasa lelah tidak selalu berarti harus berhenti. Karena itu, ia memilih menyelesaikan apa yang sudah dimulainya.

Salah satu pengalaman yang berkesan bagi Dini adalah ketika mengikuti Kampus Mengajar. Selain itu, keterlibatannya dalam kegiatan pengabdian bersama dosen juga memberikan pengalaman yang tidak diperolehnya hanya dari perkuliahan.

Empat kali terlibat dalam PKM bersama dosen selama tiga tahun berturut-turut membuatnya berhadapan dengan berbagai situasi di luar ruang kelas. Dari pengalaman tersebut, Dini semakin memahami bahwa ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi dapat diterapkan dan dibagikan kepada orang lain. Kegiatan-kegiatan tersebut sekaligus memperluas cara pandangnya mengenai profesi di bidang pendidikan.

Ia semakin yakin bahwa pendidikan merupakan salah satu ruang pengabdian yang memungkinkan seseorang memberikan manfaat secara langsung kepada generasi berikutnya.

 

Organisasi dan Aktivitas di Luar Akademik

Perjalanan Dini juga diwarnai keterlibatannya dalam organisasi. Ketika sekolah, ia pernah aktif di OSIM. Saat kuliah, ia bergabung dengan HMPS PGSD. Keterlibatan tersebut melengkapi pengalaman akademiknya.

Dini tidak hanya berusaha mempertahankan prestasi akademik, tetapi juga belajar berinteraksi dan menjalankan tanggung jawab melalui berbagai kegiatan.

Bagi Dini, pencapaian yang paling ia banggakan selama menjadi mahasiswa bukan hanya predikat Wisudawan Terbaik I. Ia justru merasa bangga karena mampu menjalankan berbagai tanggung jawab secara bersamaan.

Di tengah kesibukan bekerja, ia tetap aktif mengikuti kegiatan kampus, berpartisipasi dalam Kampus Mengajar, terlibat dalam kegiatan pengabdian bersama dosen, serta mulai aktif menulis. Pada saat yang sama, ia tetap berusaha mempertahankan prestasi akademik.

Bagi Dini, capaian tersebut bukan sekadar tentang hasil akhir. Ada proses panjang di baliknya—proses belajar mengatur waktu, menjaga komitmen, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.

 

BACA JUGA:  Kisah Inspiratif Putri Rohana: Meraih IPK 3,70 Setelah Ditinggal Ibu dan Dibesarkan Ayah Petani

Makna Sebuah Gelar

Kini, perjalanan tersebut sampai pada momentum wisuda. Namun, Dini tidak melihat gelar sarjana sebagai garis akhir. Baginya, menjadi seorang sarjana pendidikan berarti memikul tanggung jawab untuk terus belajar, berbagi ilmu, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Gelar tersebut justru menjadi awal bagi perjalanan berikutnya.

Ia ingin terus mengembangkan diri dan mengabdikan diri di dunia pendidikan. Ia ingin membimbing generasi muda serta menjadi pendidik yang memiliki ilmu, integritas, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Setelah wisuda, Dini berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 sekaligus bekerja. Cita-cita akhirnya adalah menjadi seorang dosen. Ia ingin dapat berbagi ilmu, membimbing mahasiswa, dan memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat.

Cita-cita tersebut juga membuat Dini memiliki pandangan mengenai tantangan dunia pendidikan ke depan. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar guru dan dunia pendidikan adalah menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai karakter dan kemanusiaan.

Guru, menurut Dini, tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu membimbing siswa agar mampu berpikir kritis dan kreatif, memiliki karakter, serta bijak dalam menggunakan teknologi.

Di sisi lain, pemerataan kualitas pendidikan dan peningkatan kompetensi guru juga menjadi tantangan penting. Setiap peserta didik, menurutnya, perlu memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

Karena itu, sebagai calon tenaga pendidik, Dini ingin terus belajar dan mengembangkan kompetensinya agar mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus menjawab kebutuhan pendidikan.

Ia ingin menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif, tetapi tetap menanamkan nilai karakter dan kemanusiaan. Lebih dari sekadar mengajar, ia ingin menjadi pendidik yang mampu membimbing, mendengarkan, dan memotivasi peserta didik agar berani berkembang serta memiliki kepercayaan diri untuk meraih cita-cita.

Sebagai anak daerah yang tumbuh dan menempuh pendidikan di Bima, Dini juga memiliki harapan terhadap perkembangan pendidikan di daerah. Ia berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan terus memperhatikan pemerataan kualitas pendidikan. Menurutnya, perhatian tersebut tidak hanya menyangkut fasilitas pendidikan, tetapi juga akses teknologi serta peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru.

Ia berharap setiap sekolah dan peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.  Kerja sama antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat juga perlu terus diperkuat agar pendidikan di daerah semakin maju dan mampu melahirkan generasi yang berkualitas.

Pada akhirnya, ada dua nama yang selalu hadir dalam perjalanan panjang Dini: ayah dan ibunya. Ia menyadari bahwa pencapaian yang diraihnya hari ini tidak terlepas dari doa dan pengorbanan kedua orang tuanya. Karena itu, gelar yang diperolehnya tidak hanya ia maknai sebagai pencapaian pribadi. Ia mempersembahkannya untuk kedua orang tua.

Ada rasa terima kasih karena mereka selalu mengusahakan yang terbaik, bahkan ketika keadaan keluarga tidak selalu mudah. Bagi Dini, di balik sebuah gelar terdapat perjalanan panjang yang dilalui bersama keluarga. Ia ingin suatu hari dapat membalas pengorbanan orang tuanya dan menjadi seseorang yang dapat membanggakan sekaligus membahagiakan mereka. Hari wisuda, karena itu, bukan sekadar hari ketika seorang mahasiswa mengenakan toga dan menerima gelar.

Bagi Dini, wisuda menjadi penanda bahwa perjuangan panjang bersama orang tua akhirnya sampai pada satu titik. “Ayah, Ibu, akhirnya kita sampai di titik ini.” Kalimat itu menjadi gambaran sederhana tentang perjalanan Dini—seorang anak dari keluarga sederhana di Desa Tumpu yang pernah bermimpi menjadi polisi wanita, kemudian menemukan jalan pengabdian melalui pendidikan, melewati berbagai kesibukan dan keraguan, hingga akhirnya berdiri sebagai Wisudawan Terbaik I.

Justru setelah gelar sarjana diraih, Dini ingin membuka babak baru: melanjutkan pendidikan, bekerja, terus menulis, dan suatu hari berdiri di depan mahasiswa sebagai seorang dosen. Sebab, baginya, pendidikan bukan sekadar jalan menuju gelar. Pendidikan adalah jalan untuk terus bertumbuh dan memberikan manfaat.

Dan untuk mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan, Dini memiliki pesan sederhana: jangan takut ketika perjalanan terasa berat. Setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing. Tetap bertahan, lakukan yang terbaik, dan jangan membandingkan perjalanan sendiri dengan orang lain.  Sebab, setiap langkah yang dijalani hari ini kelak akan menjadi bagian dari cerita yang patut dibanggakan.

“Jangan menyerah, karena mungkin kamu hanya perlu sedikit lagi untuk sampai pada titik yang selama ini kamu impikan.” (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait