Pernah Minder Melihat Teman Kuliah Lebih Dulu, Ana Triana Raih IPK 3,97

Wisudawati terbaik XXII STKIP Taman Siswa Bima, Ana Triana .
Wisudawati terbaik XXII STKIP Taman Siswa Bima, Ana Triana .

ADA MASA ketika Ana Triana Wulandari merasa dirinya tertinggal dari teman-teman seangkatannya.

Setelah lulus SMA, ia mencoba masuk perguruan tinggi melalui jalur yang diimpikannya. Ia belajar sejak subuh hingga pagi, kemudian kembali belajar dari sore sampai malam. Namun, hasil yang ditunggu tak kunjung datang. Ia gagal.

Bacaan Lainnya

Kesempatan berikutnya pun belum berpihak kepadanya. Kegagalan itu membuat Ana frustrasi. Apalagi, ketika melihat teman-teman seangkatannya mulai memasuki perguruan tinggi yang mereka impikan, sementara dirinya masih harus menunggu.

“Semua teman saya bisa masuk ke universitas yang mereka impikan. Saya merasa tertinggal dan minder,” kenang Ana.

Situasi itu semakin berat karena kondisi fisiknya yang kala itu kerap sakit. Dalam sebulan, ia bahkan bisa jatuh sakit hingga beberapa kali.

Satu tahun berlalu. Atas saran sang ibu, Ana kemudian mencoba mendaftar di STKIP Taman Siswa Bima. Ia memilih Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Semula, pilihan itu bukan bagian dari rencana besarnya. Ketika masih duduk di sekolah dasar, Ana justru bercita-cita menjadi dokter.

Namun, perjalanan hidup membawanya ke arah berbeda. Di kampus yang kemudian ia sebut sebagai “Kampus Merah” itu, Ana perlahan menemukan jalannya.

Kini, perempuan asal Desa Sanolo, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, tersebut justru bersiap menyandang gelar sarjana dengan catatan akademik yang membanggakan.

Ana meraih IPK 3,97, peringkat ketiga wisudawan terbaik dari Program Studi PGSD.

Bagi Ana, pencapaian itu bahkan terasa seperti sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan. “Saya merasa saya mahasiswa yang biasa-biasa saja. Bahkan ketika masuk mahasiswa berprestasi, saya kaget,” ujarnya.

Ana merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya, Guntur, bekerja sebagai petani sekaligus petugas lapangan PLN. Sementara ibunya, Nurayu, merupakan ibu rumah tangga. Keduanya sama-sama lulusan SMA.

Ana tumbuh dalam keluarga sederhana. Namun, keterbatasan latar belakang pendidikan orang tuanya justru menjadi alasan kuat bagi kedua orang tuanya untuk mendorong anak-anak mereka menempuh pendidikan setinggi mungkin.

Sejak kecil, Ana banyak belajar dari kedua orang tuanya. Dari ayahnya, ia belajar tentang ketegasan, kedisiplinan, kejujuran, serta bagaimana bersikap sebagai seorang perempuan. Dari ibunya, Ana belajar tentang kasih sayang.

“Saya belajar banyak hal dari orang tua. Dari ayah saya belajar apa itu tegas dan disiplin. Dari ibu saya belajar tentang kasih sayang,” katanya.

Dukungan kedua orang tuanya terhadap pendidikan juga sangat kuat. Mereka ingin anak-anaknya memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik daripada yang mereka dapatkan.

Karena itu, sejak kecil Ana diarahkan untuk fokus belajar. Bahkan, urusan pacaran bukan sesuatu yang menjadi perhatian utama orang tuanya.

Ibunya justru selalu mengingatkan agar Ana menikmati masa muda dengan belajar dan mempersiapkan masa depan. “Mama selalu bilang, puas-puasin dulu masa mudamu, sekolah yang baik, cari uang dulu, nikmati kesenangan,” tutur Ana.

Kalimat sederhana itu terus ia ingat.

Selama sekolah, Ana sebenarnya bukan sosok yang asing dengan prestasi akademik. Ia konsisten masuk peringkat empat besar, tiga besar, bahkan dua besar. Saat kelas tiga SMA, ia pernah menjadi juara umum pertama.

Di sekolah, Ana juga aktif dalam berbagai kegiatan. Ia pernah menjadi anggota OSIS dan dipercaya sebagai bendahara umum. Ia juga mengikuti Rohis, Pramuka, serta pernah menjadi bagian dari Paskibra sekolah.

BACA JUGA:  Kuliah Pagi, Kerja Siang, Mentari Raih IPK 3,95 dan Jadi Wisudawan Terbaik

Namun, ketika memasuki perguruan tinggi, Ana mengambil keputusan berbeda. Ia sengaja tidak mengikuti organisasi kampus.

Sejak awal, ia ingin menjadi mahasiswa yang “biasa saja” dan fokus menjalani perkuliahan. Justru dari pilihan sederhana itu, ia mampu menjaga konsistensi akademiknya hingga akhirnya meraih IPK 3,97.

Pencapaian tersebut bukan berarti kuliahnya tanpa hambatan. Ana mengaku beberapa kali berada dalam situasi yang membuatnya hampir menyerah. Namun, persoalan yang dihadapinya merupakan masalah pribadi keluarga yang tidak ingin ia ceritakan kepada publik.

Baginya, tidak semua perjuangan harus diumbar. Ia hanya mengatakan bahwa masa-masa sulit tersebut akhirnya dapat dilewati.

“Kalau menghadapi berbagai tantangan, saya mulai memperbaiki salat dan memperbanyak doa. Saya merasakan bahwa Allah selalu memberikan kekuatan, jalan, dan pertolongan untuk melewati setiap masalah yang saya hadapi,” katanya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas selama kuliah justru datang dari Kampus Mengajar Angkatan 7.

Ana berhasil lolos dalam program tersebut. Di sana, ia bertemu dengan rekan-rekan dan siswa yang menurutnya memberikan pengalaman berbeda.

Bagi Ana yang mengaku sebagai pribadi introvert dan tidak mudah akrab, Kampus Mengajar menjadi ruang untuk keluar dari zona nyaman.

Ia harus berinteraksi dengan orang-orang baru, bekerja bersama tim, sekaligus berhadapan langsung dengan siswa. Pengalaman itu membuatnya menemukan sisi dirinya yang selama ini belum banyak ia kenal.

“Saya bertemu orang-orang yang bisa membuat saya menjadi saya. Ini loh Ana yang sebenarnya,” ujarnya.

Ada satu hal yang paling ia rasakan dari pengalaman tersebut. Ketika sedang sedih, bertemu dengan rekan-rekan Kampus Mengajar dan para siswa mampu membuat kesedihannya sejenak hilang. “Kalau sedang sedih, saat bertemu mereka saya langsung melupakan apa itu sedih,” katanya.

Pengalaman itu menjadi salah satu bagian yang tidak akan ia lupakan dari perjalanan kuliahnya.

Bagi Ana, salah satu pencapaian yang paling ia banggakan bukan sekadar menjadi wisudawan terbaik. Ia justru bangga karena mampu menyelesaikan tugas akhir di tengah berbagai persoalan yang sempat membuatnya ingin menyerah.

Ana mengambil artikel ilmiah yang telah terbit di jurnal Sinta 2 dengan judul “Reconstruction of Magic Ruler Media Based on Brain-Based Learning to Improve Elementary School Students’ Mathematical Problem-Solving Ability.”

Proses menyelesaikan tugas akhir juga menuntut kesabaran, termasuk perjuangannya menemui dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing.

Pada akhirnya, semua usaha itu membuahkan hasil. “Saya bangga ke diri sendiri karena bisa menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa dengan banyaknya rintangan yang bahkan hampir membuat saya menyerah,” katanya.

Ia juga berseloroh bahwa ada satu hal lain yang membuatnya bangga. Ia menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya tanpa menggunakan jasa joki. “Saya bangga bisa menyelesaikan tugas-tugas tanpa yang namanya joki tugas,” ujarnya sambil bercanda.

Di balik candaan itu, ada kebanggaan bahwa gelar yang akan disandangnya benar-benar lahir dari proses yang ia jalani sendiri.

Bagi Ana, gelar sarjana pendidikan bukan sekadar tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Justru setelah wisuda, menurut dia, ada tanggung jawab baru yang harus dijaga.

“Bagi saya, itu adalah beban baru yang harus dijaga hati-hati, karena pandangan orang terhadap kita juga akan berubah,” katanya.

Ana tidak ingin gelar yang diperolehnya justru membuatnya lupa diri. Ia ingin menjaga nama baik keluarga, orang-orang yang telah membantunya, sekaligus menjaga kepercayaan yang melekat pada gelar sarjana pendidikan.

BACA JUGA:  Dibesarkan Nenek dan Uwak Sejak Usia 5 Tahun, Rosdiana Raih IPK 3,94 dan Tetap Memilih Jalan Pendidikan

Setelah wisuda, Ana berencana mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Ia ingin menjadi guru yang tidak hanya dihormati oleh wali murid dan rekan kerja, tetapi juga mampu menjadi teman sekaligus orang tua bagi siswa-siswanya.

“Ke depannya saya ingin menjadi guru yang dihormati para wali dan rekan kerja, ingin menjadi guru yang bisa menjadi teman dan orang tua bagi siswa-siswanya,” katanya.

Ana juga memiliki pandangan kritis terhadap tantangan yang akan dihadapi guru. Menurut dia, persoalan pendapatan masih menjadi salah satu tantangan besar bagi tenaga pendidik. Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh gelar pendidikan, menurutnya, tidak selalu sebanding dengan pendapatan yang diterima ketika mulai mengabdi.

Ia juga menyoroti tuntutan administrasi dan perangkat pembelajaran yang harus disiapkan guru. Karena itu, Ana berharap persoalan kesejahteraan guru tidak hanya dibicarakan dari sisi pengabdian dan keikhlasan, tetapi juga dilihat dari kondisi nyata yang dihadapi guru di lapangan.

“Kadang ada yang bilang pahala, ikhlas, dan sebagainya. Mohon maaf, bukan berarti tidak bersyukur. Tapi kalau melihat fakta di lapangan, ada guru yang gajinya dibayar tiga bulan sekali dan belum bisa menutup biaya hidup,” ujarnya.

Sebagai calon guru, Ana menyadari tantangan tersebut tidak sederhana. Ia bahkan berpikir bahwa seorang guru mungkin perlu memiliki sumber penghasilan tambahan di luar profesinya.

Kepada pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan, Ana berharap mereka lebih sering turun langsung melihat kondisi sekolah.

“Kalau bisa turun langsung satu per satu ke sekolah, apalagi ke daerah terpencil. Jangan hanya mendengar desas-desus dari bawahan,” katanya.

Perjalanan Ana tidak berjalan lurus. Ia pernah gagal masuk perguruan tinggi yang diinginkan. Pernah merasa minder ketika melihat teman-temannya melangkah lebih dulu. Pernah tertinggal satu tahun. Pernah menghadapi masalah pribadi yang membuatnya hampir menyerah.

Namun, satu per satu semuanya dilewati. Kini, gadis yang dulu merasa tertinggal itu justru berdiri di antara para wisudawan terbaik dengan IPK 3,97.

Ana tidak menyebut perjalanan kuliahnya sebagai perjalanan yang mudah.  Namun, ia percaya bahwa ada kekuatan yang membuatnya terus bertahan.

“Perjalanan saya tidak selalu mudah. Saya telah berusaha sekuat yang saya bisa, tetapi ketika menghadapi berbagai tantangan, saya mulai memperbaiki salat dan memperbanyak doa, hingga saya merasakan bahwa Allah selalu memberikan kekuatan, jalan, dan pertolongan untuk melewati setiap masalah yang saya hadapi.”

Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan kuliah, Ana hanya berpesan sederhana. “Salat dan berdoa serta usaha. Dan jangan lupa berterima kasih kepada diri sendiri karena tidak menyerah.”

Sementara kepada kedua orang tuanya, Ana membawa pesan yang jauh lebih personal. Ia berterima kasih karena kedua orang tuanya tidak pernah berhenti mendukung pendidikannya.

Di balik keberhasilannya meraih gelar sarjana dan menjadi salah satu wisudawan terbaik, tersimpan harapan sederhana seorang anak: ingin terus merasa disayangi dan diterima oleh orang tuanya.

“Terima kasih selalu mendukung saya. Saya mungkin bukan anak yang baik, saya mungkin bukan anak yang membanggakan dibanding adik saya. Tetapi terima kasih sudah selalu mendukung dan memberikan pendidikan kepada saya.”

Kini, Ana membawa satu tekad setelah wisuda: menjaga gelar yang telah diperjuangkannya, menjadi guru yang bermanfaat, dan membuktikan bahwa perjalanan yang sempat membuatnya merasa tertinggal ternyata bukan akhir dari segalanya (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait