PAGI bagi Mentari Oryzal Sativa adalah waktu untuk duduk di ruang kuliah. Setelah itu, aktivitasnya belum selesai. Siang hingga waktu kerja berikutnya, ia harus menjalani pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus membiayai pendidikannya.
Bagi sebagian mahasiswa, kuliah sambil bekerja mungkin terdengar melelahkan. Bagi Mentari, itu adalah bagian dari perjalanan yang harus dijalani.
Perempuan asal Kelurahan Rite, Kota Bima, itu memilih untuk tidak hanya bergantung pada keluarga dalam membiayai pendidikannya. Ia bekerja sambil kuliah. “Pagi kuliah, siangnya kerja,” kata Mentari.
Rutinitas itu dijalani hingga akhirnya ia mampu menyelesaikan pendidikan di Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi dengan IPK 3,95.
Mentari bahkan menjadi salah satu wisudawan terbaik dari 18 mahasiswa pada program studinya.
Pencapaian tersebut menjadi salah satu hal yang paling ia banggakan selama menjadi mahasiswa. Bukan semata karena angka IPK, tetapi karena gelar itu diraih setelah melewati perjalanan yang tidak sederhana.
Sejak kecil, Mentari memiliki cita-cita menjadi polisi wanita atau polwan. Namun, cita-cita tersebut berubah ketika ia mulai memikirkan biaya dan pilihan pendidikan setelah lulus sekolah.
Alih-alih memaksakan cita-cita masa kecilnya, Mentari memilih melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan yang mengarah pada profesi guru.
Pilihan tersebut kemudian membawanya ke dunia pendidikan jasmani. Ia menempuh pendidikan di MTsN 2 Kota Bima, kemudian SMAN 4 Kota Bima, sebelum melanjutkan kuliah.
Mentari merupakan anak ketiga dari lima bersaudara, putri pasangan Abdul Haris dan Hujaimah. Ayahnya bekerja sebagai PNS, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Ia menggambarkan keluarganya sebagai keluarga sederhana. Meski demikian, dukungan orang tua terhadap pendidikannya sangat besar.
Dukungan itu menjadi salah satu alasan Mentari terus melangkah hingga menyelesaikan kuliahnya.
Hal yang paling membekas bagi Mentari selama menjadi mahasiswa bukanlah organisasi atau banyaknya kegiatan kampus. Justru rutinitas sederhana antara ruang kuliah dan tempat kerja yang menjadi bagian paling penting dari perjalanan pendidikannya.
Kuliah sambil bekerja membuatnya merasakan lelah. Namun, ada kepuasan tersendiri ketika mengetahui biaya pendidikan yang dijalaninya dapat dipenuhi dari hasil kerja sendiri.
“Rasanya capek, tapi alhamdulillah bisa biayai kuliah dengan hasil keringat sendiri,” ujarnya.
Mentari menyadari bahwa dirinya menjalani kondisi yang berbeda dengan sebagian teman sebayanya. Ketika sebagian mahasiswa seusianya masih mendapatkan dukungan penuh keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, ia harus membagi waktu antara menuntut ilmu dan mencari penghasilan.
“Di usia saya, mereka sangat dibantu oleh keluarga, sedangkan saya harus mencari nafkah sendiri untuk membiayai pendidikan saya,” katanya.
Namun, kondisi itu tidak membuatnya berpikir untuk berhenti. Ia mengaku tidak pernah sampai pada titik benar-benar ingin menyerah. Baginya, mengingat kerja keras yang telah dilakukan menjadi alasan untuk terus bertahan.
Kuliah sambil bekerja memang melelahkan, tetapi Mentari menjalaninya dengan sepenuh hati.
Dunia olahraga sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi Mentari. Ketika masih sekolah, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan bola voli antarsekolah, baik tingkat SMP maupun SMA.
Ia juga pernah mengikuti Pramuka, PMR, Rohis, serta bergabung dalam klub voli. Namun, ketika memasuki bangku kuliah, aktivitas organisasi dan kegiatan tambahan mulai ia kurangi.
Bukan karena kehilangan minat, melainkan karena waktunya sudah terbagi. Pagi digunakan untuk kuliah, sementara siang digunakan untuk bekerja.
Karena itu, selama kuliah Mentari tidak banyak mengikuti organisasi atau kegiatan kampus. Fokusnya sederhana: menyelesaikan pendidikan sambil tetap bekerja.
Meski aktivitasnya terbatas, capaian akademiknya justru menunjukkan hasil yang kuat.
Ia menyelesaikan skripsi dengan penelitian berjudul “Pengaruh Model Latihan Hurdle Jump untuk Meningkatkan Kemampuan Vertical Jump pada Siswa Kelas VII SMPN 8 Kota Bima.”
Penelitian tersebut sekaligus mempertemukan latar belakang pendidikannya dengan dunia olahraga yang telah dikenalnya sejak sekolah.
Di tengah kesibukan kuliah dan kerja, Mentari tetap memiliki satu kenangan yang paling ia simpan dari masa perkuliahan: kebersamaan bersama teman-temannya.
Bagi dia, teman-teman kuliah bukan sekadar orang yang ditemui di ruang kelas. Mereka adalah orang-orang yang sama-sama berjuang mendapatkan gelar.
“Masa-masa bersama teman-teman. Masa di mana kami sama-sama berjuang untuk mendapatkan sebuah gelar,” ujarnya.
Kebersamaan itu membuat perjalanan yang dijalani terasa lebih ringan. Selain orang tua, Mentari juga menyebut dosen, pasangan, serta orang tua pasangannya sebagai orang-orang yang banyak membantunya selama menjalani perkuliahan.
Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa materi, tetapi juga perhatian dan perlakuan ketika dirinya menghadapi kesulitan.
Menurut Mentari, dukungan dari orang-orang terdekat tersebut menjadi bagian penting dari perjalanannya hingga sampai pada titik wisuda.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Mentari tidak ingin gelar sarjana hanya menjadi simbol. Baginya, menjadi sarjana pendidikan berarti memiliki tanggung jawab untuk terus belajar dan membagikan ilmu yang telah diperoleh kepada orang lain.
“Menjadi sarjana bukan hanya kita mendapatkan gelar saja, tetapi bagaimana kita belajar demi sebuah ilmu. Ilmu yang kita dapatkan kita salurkan kembali kepada orang-orang,” katanya.
Menurut dia, gelar sarjana bukan untuk sekadar gaya-gayaan. Pendidikan harus menjadi bekal untuk membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Setelah wisuda, Mentari berencana kembali bekerja. Baginya, bekerja merupakan langkah penting untuk mewujudkan rencana hidup berikutnya.

Ia juga memiliki harapan untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar suatu saat dapat membalas jasa kedua orang tuanya. “Harapan saya mengumpulkan uang banyak agar bisa membalas jasa kedua orang tua saya dan tentu untuk kehidupan saya yang akan datang,” ujarnya.
Mentari melihat dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding sebelumnya. Salah satunya adalah perubahan perilaku siswa akibat perkembangan teknologi dan media sosial.
Menurutnya, guru harus mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Di sisi lain, beban administrasi yang tinggi juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru.
Jika kelak menjadi pendidik, Mentari ingin menghadapi perubahan itu dengan pendampingan aktif kepada siswa, memberikan batasan yang jelas, sekaligus memasukkan nilai-nilai karakter dalam aktivitas digital.
Baginya, teknologi tidak cukup hanya digunakan sebagai alat. Siswa juga perlu dibimbing agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Mentari juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap pemerataan pendidikan.
“Harapan utama kepada pemerintah terkait pendidikan adalah mewujudkan pemerataan akses dan peningkatan kualitas layanan belajar di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.
“Ingat Orang Tua dan Perjuanganmu”
Kini, setelah menyelesaikan kuliah dengan IPK 3,95 dan meraih predikat sebagai salah satu wisudawan terbaik, Mentari melihat perjalanan tersebut dengan satu kata: luar biasa.
Ia tidak menutupi bahwa perjalanan kuliah sambil bekerja memiliki rasa lelahnya sendiri. Namun, justru dari sana ia belajar tentang perjuangan, kemandirian, dan arti bertahan.
Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan, Mentari berpesan agar tidak berhenti mengejar cita-cita hanya karena merasa jenuh. “Kejar terus cita-citamu. Walaupun ada saatnya kita merasa jenuh, tapi ingat orang tuamu, ingat perjuanganmu, ingat seberapa berusahanya kamu ingin belajar. Terus semangat untuk kalian semua.”
Dan kepada kedua orang tuanya, Mentari membawa satu kalimat sederhana yang mewakili rasa terima kasihnya setelah semua perjuangan itu terlewati. “Terima kasih banyak karena telah berjuang untuk anakmu selama ini.”
Dari ruang kuliah pada pagi hari hingga tempat kerja pada siang hari, Mentari akhirnya sampai pada satu titik yang dulu mungkin hanya menjadi impian: mengenakan toga, membawa pulang gelar sarjana, dan membuktikan bahwa perjuangan yang dijalani dengan sungguh-sungguh dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian yang membanggakan. (US)
Follow informasi Berita11.com di Google News












