PERISTIWA itu masih membekas diingatan Chairudin Natram selama menjalani masa kuliah di Bima. Bukan tentang ujian, sidang skripsi, atau wisuda, melainkan ketika ia ketinggalan kapal saat hendak berangkat ke Bima untuk kuliah. Peristiwa itu menjadi salah satu pengalaman yang tidak pernah dilupakannya sebagai mahasiswa.
Chairudin merupakan anak ketiga dari empat bersaudara yang berasal dari Reo, Manggarai, dan kemudian menempuh pendidikan perguruan tinggi di Bima.
Jalan yang ditempuhnya tidak selalu mudah. Sebagai mahasiswa yang datang dari luar daerah, Chairudin harus beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa yang berbeda.
Ia mengaku salah satu tantangan yang cukup dirasakan selama kuliah adalah keterbatasan dalam berbahasa. Sebab, dalam keseharian, banyak teman-temannya masih menggunakan bahasa daerah atau bahasa Mbojo. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Kebersamaan dengan teman-teman satu kelas justru menjadi salah satu alasan Chairudin mampu bertahan hingga menyelesaikan pendidikannya.
“Karena teman satu kelas saling memberikan motivasi dan kebersamaan,” ujarnya.
Di balik perjalanan tersebut, ada dorongan yang jauh lebih besar. Chairudin selalu mengingat perjuangan ayahnya yang berusaha menyekolahkan keempat anaknya hingga perguruan tinggi.
Ayahnya, Soleman S.Pd.I, merupakan pensiunan PNS, sedangkan ibunya, Asmawati, seorang ibu rumah tangga. Keduanya memberikan dukungan dan motivasi terhadap pilihan pendidikan yang ditempuh Chairudin.
Bagi Chairudin, sang ayah menjadi sosok yang paling berjasa dalam perjalanan pendidikannya. “Karena beliau selalu berusaha agar semua anak-anaknya sukses semuanya dan meraih gelar sarjana,” katanya.
Dari Ingin Jadi Tentara, Memilih Jalan Pendidikan
Ketika masih kecil, Chairudin memiliki cita-cita menjadi seorang tentara. Namun, seiring perjalanan hidup dan pendidikannya, cita-cita tersebut berubah. Kini, ia justru ingin menjadi seorang pendidik yang amanah. Perubahan cita-cita itu sejalan dengan pilihan pendidikannya. Chairudin mengambil Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR).
Selama kuliah, ia juga memiliki ketertarikan pada aktivitas olahraga. Ia pernah mengikuti kegiatan lompat LKBB, sepak bola, dan bulu tangkis. Di lingkungan pendidikan, ia juga pernah aktif dalam Pramuka.
Perjalanan akademiknya kemudian bermuara pada penelitian mengenai olahraga yang dekat dengan bidang studinya.
Chairudin menyelesaikan skripsi berjudul “Pengaruh Model Latihan Multiball untuk Meningkatkan Kemampuan Servis Forehand pada Peserta Ekstrakurikuler Tenis Meja Putra SMPN 7 Kota Bima.” Hingga akhirnya, mahasiswa dengan IPK 3,89 itu berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih predikat wisudawan terbaik ke-16 serta terbaik ke-3 se-program studi PJKR STKIP Tamsis Bima.
Bagi Chairudin, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang angka IPK atau predikat yang disandang saat wisuda. “Pencapaian yang paling saya banggakan adalah berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjana dan wisudawan terbaik ke-16 dan terbaik ke-3 se-prodi,” tuturnya.
Ia menyebut, di balik pencapaian tersebut terdapat proses, perjuangan, tantangan, dan pengorbanan yang mengajarkannya untuk bertahan dan tidak mudah menyerah.

“Meraih gelar sarjana bukanlah proses yang mudah. Ada banyak tantangan dan perjuangan yang harus saya lewati, sehingga pencapaian ini menjadi bukti bahwa saya mampu bertahan, menyelesaikan apa yang telah saya mulai, dan membanggakan orang tua,” katanya.
Bagi Chairudin, menjadi sarjana pendidikan bukan semata-mata mendapatkan gelar. Menurutnya, gelar tersebut justru membawa tanggung jawab untuk terus belajar, berbagi ilmu dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Bagi saya, menjadi seorang Sarjana Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi tentang memiliki tanggung jawab untuk terus belajar, berbagi ilmu, dan memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Ia ingin menjadi pendidik yang tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga mampu memberikan teladan dan membentuk karakter peserta didik.
Karena itu, setelah wisuda, Chairudin berencana mencari pengalaman kerja yang sesuai dengan bidang pendidikan. Ia juga ingin terus mengembangkan kemampuan, membantu keluarga, serta mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Menurutnya, dunia pendidikan ke depan menghadapi tantangan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai karakter dan kemanusiaan.
Guru, kata dia, perlu terus meningkatkan kompetensi, termasuk dalam memanfaatkan teknologi dan mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Saya ingin terus belajar dan meningkatkan kompetensi, terutama dalam pemanfaatan teknologi dan metode pembelajaran yang inovatif. Saya juga ingin menjadi guru yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi mampu membentuk karakter, memberikan teladan, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan pendidikan terus memperhatikan pemerataan pendidikan di daerah, termasuk penyediaan fasilitas, akses teknologi dan peningkatan kompetensi guru.
Bagi Chairudin, perjalanan kuliahnya pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan gelar sarjana. Ada perjalanan panjang yang harus dilalui, dari beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi keterbatasan bahasa, hingga mengingat perjuangan orang tua sebagai sumber kekuatan.
“Perjalanan kuliah adalah proses panjang penuh perjuangan, tantangan, dan pengalaman yang akhirnya mengajarkan saya untuk terus berusaha, bertahan, dan tidak menyerah hingga meraih gelar sarjana.”
Kini, setelah menyelesaikan perjalanan tersebut, Chairudin membawa satu pesan yang juga ingin ia titipkan kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan kuliah. “Jangan mudah menyerah, tetap fokus pada tujuan, nikmati setiap prosesnya, dan percaya bahwa setiap perjuangan akan terbayar pada waktunya. Selesaikan apa yang sudah dimulai dan teruslah melangkah meskipun perlahan.”
Dan untuk kedua orang tuanya, terutama ayah dan ibu yang selama ini menjadi sumber dukungannya, Chairudin menyampaikan terima kasih.
“Gelar ini bukan hanya hasil perjuangan saya, tetapi juga buah dari doa dan perjuangan kalian. Hari ini, saya ingin mengatakan: terima kasih telah selalu percaya dan menjadi alasan saya untuk terus berjuang.” (US)
Follow informasi Berita11.com di Google News












