Pernah Menangis saat Menunggu Bus, Begadang Setelah Anak Tidur, Anggota Sat Pol PP Kabupaten Bima ini Taklukkan Perjuangan Menjadi Sarjana

Novyanti Wahyuningrum dengan toga kebesaran saat akan mengikuti prosesi wisuda XXII di STKIP Taman Siswa Bima. Kolase Berita11.com.
Novyanti Wahyuningrum dengan toga kebesaran saat akan mengikuti prosesi wisuda XXII di STKIP Taman Siswa Bima. Kolase Berita11.com.

JARUM jam hampir menunjuk pukul 08.00. Ujian tengah semester atau ujian akhir semester akan segera dimulai, sementara Novyanti Wahyuningrum masih berada di perjalanan. Bukan karena terlambat bangun atau lupa jadwal ujian. Perempuan asal Desa Rato, Kecamatan Bolo, itu harus lebih dulu menunggu bus yang akan membawanya menuju kampus.

Kedatangan bus yang tidak selalu bisa dipastikan membuat perjalanan menuju kampus menjadi salah satu bagian paling menegangkan selama tiga setengah tahun menjalani perkuliahan. Ketika bus baru datang sekitar pukul 07.50, sementara ujian dimulai pukul 08.00, air mata Novyanti terkadang jatuh. Ia khawatir tidak bisa mengikuti ujian.

Bacaan Lainnya

Situasi itu semakin sulit karena pada pagi hari suaminya juga memiliki kesibukan mengantar anak-anak mereka ke sekolah dan mengikuti apel. Novyanti sendiri hingga kini tidak bisa mengendarai sepeda motor. Namun, ada satu hal yang membuatnya selalu berusaha sampai ke kampus: keinginan untuk menyelesaikan pendidikan dan mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru.

Dan perjuangan itu akhirnya terbayar.  Novyanti berhasil menyelesaikan Program Studi Matematika dengan predikat Pujian dan menjadi salah satu wisudawan terbaik di kampusnya dengan IPK 3,91. Yang membuat pencapaian itu terasa semakin istimewa, ia meraihnya ketika telah menjadi seorang istri, ibu dari tiga anak, sekaligus pekerja kantoran.

 

Baru Merasakan Bangku Kuliah Setelah Menikah

Sejak kecil, Novyanti sudah memiliki cita-cita menjadi guru. Ia menempuh pendidikan di SMPN 1 Bolo sebelum melanjutkan ke SMAN 2 Mataram. Namun, setelah tamat SMA, cita-cita itu belum bisa langsung diwujudkan. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Ia bahkan sempat merantau ke Mataram untuk menyelesaikan pendidikan sekolah. Tetapi keterbatasan keuangan membuat langkahnya untuk melanjutkan kuliah harus tertunda.

Waktu terus berjalan. Novyanti kemudian menikah dengan Ibrahim, seorang ASN Satpol PP Kabupaten Bima. Mereka dikaruniai tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Setelah menikah, kesempatan untuk duduk di bangku kuliah akhirnya terbuka. Ia memilih Program Studi Matematika. Bagi Novyanti, keputusan tersebut bukan sekadar mengejar gelar akademik. Ia sedang melanjutkan cita-cita yang pernah tertunda sejak lulus SMA.

“Menjadi seorang guru” tetap menjadi tujuan yang ingin ia raih. Namun, kuliah bukan satu-satunya tanggung jawab yang harus dijalani.

Di luar kampus, Novyanti bekerja sebagai ASN di Kantor Satpol PP Kabupaten Bima, pada sekretariat Bidang Linmas. Di rumah, ia menjalankan perannya sebagai istri dan ibu tiga anak. Ia juga mengajar bimbingan belajar matematika. Semua peran itu harus berjalan bersamaan.

Ada waktu ketika rumah sudah mulai tenang dan seluruh anggota keluarga tertidur, Novyanti justru baru membuka buku dan mengerjakan tugas kuliah. Malam menjadi waktu belajarnya. Ia harus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen setelah seluruh aktivitas rumah tangga dan pekerjaan kantor selesai. Tak jarang ia harus begadang, sementara beberapa jam kemudian harus kembali bangun untuk menjalankan rutinitas sebagai ibu dan pekerja.

Pada titik tertentu, Novyanti mengaku pernah merasa ingin menyerah. Bukan karena tidak mampu mengikuti perkuliahan, tetapi karena begitu banyak peran yang harus dijalankan dalam waktu bersamaan.

BACA JUGA:  Yayasan Alminhajussalaf Al-Islamy Isyaratkan Segera Bayar Hak Guru Pasca Putusan MA

“Kadang saya tidak bisa membagi kesibukan sebagai seorang istri, ibu rumah tangga, pekerja kantor, dan pengajar bimbel matematika,” tuturnya.

Belum lagi persoalan ekonomi.  Sebelum menjadi ASN, ia harus menabung sedikit demi sedikit untuk membayar biaya kuliah. Penghasilan yang ada harus dibagi antara kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pendidikan.

Untuk mencukupi kebutuhan kuliah, ia juga berusaha mencari penghasilan tambahan. Sesekali, orang tuanya turut membantu.  Namun, Novyanti memilih terus berjalan. Semangat menyelesaikan pendidikan membuatnya bertahan melewati masa-masa sulit tersebut.

 

Tiga Setengah Tahun Bersama Bus

Jika ada satu benda yang paling lekat dengan perjalanan kuliah Novyanti, mungkin jawabannya adalah bus. Selama sekitar tiga setengah tahun, ia harus bolak-balik menggunakan bus untuk berangkat dan pulang kuliah. Ada kalanya bus datang tepat waktu. Ada pula saat ia harus menunggu lebih lama.

Ketika kuliah selesai hingga sore, Novyanti terkadang duduk seorang diri menunggu bus pulang. Menunggu bus menjadi rutinitas yang harus dijalaninya. Namun, di tengah berbagai keterbatasan itu, ada pengalaman lain yang justru membuatnya tersenyum: berbaur dengan teman-teman kuliah yang usianya terpaut cukup jauh.

Novyanti menyadari terdapat perbedaan usia sekitar 11 tahun antara dirinya dan sebagian teman sekelasnya. Meski demikian, ia tidak menjadikan perbedaan usia sebagai penghalang.

Ia mampu membaur dan mengikuti dinamika perkuliahan bersama mahasiswa yang sebagian besar lebih muda darinya. Bahkan, dalam urusan akademik, Novyanti mampu bersaing dan mempertahankan prestasinya.

 

Dari Juara Olimpiade hingga Wisudawan Terbaik

Prestasi akademik sebenarnya bukan hal baru bagi Novyanti. Sejak sekolah dasar hingga SMA, ia kerap menjadi juara kelas dan juara umum. Saat SD, ia pernah tiga kali berturut-turut meraih juara dalam lomba Olimpiade Matematika tingkat Kabupaten Bima.

Ia juga pernah meraih juara dalam lomba cerdas cermat tingkat kabupaten serta berbagai lomba tari bersama sanggar.  Di sekolah, Novyanti aktif sebagai anggota OSIS dan pernah mengikuti Forum Sekolah Islam ketika SMA. Ketika kuliah, aktivitas organisasinya tidak sebanyak saat sekolah. Bukan karena tidak tertarik, tetapi karena ia harus membagi waktu dengan pekerjaan.

Sebagai ASN, izin yang diberikan kepadanya oleh atasan lebih difokuskan untuk menjalani perkuliahan. Di luar pekerjaan dan pendidikan, ia juga terlibat dalam kegiatan sosial pembagian bantuan bagi warga terdampak bencana bersama Dinas Sosial dan anggota kantornya di Bidang Linmas Satpol PP Kabupaten Bima.

Kini, pencapaian yang paling ia banggakan adalah keberhasilannya menjadi wisudawan terbaik.

Menurutnya, pencapaian tersebut memiliki makna tersendiri karena ia meraihnya sebagai perempuan yang telah bersuami, memiliki tiga anak, bekerja, mengajar bimbingan belajar, sekaligus menjalani pendidikan.

Ia merasa telah bersaing secara sehat dengan mahasiswa lain yang memiliki kondisi kehidupan berbeda dan sebagian besar masih belum berkeluarga.

Perjalanan akademik Novyanti kemudian dituangkan dalam skripsinya yang mengangkat pembelajaran matematika berbasis pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) pada Mpa’a Amba. Penelitian tersebut berfokus pada pengaruh RME pada Mpa’a Amba terhadap pemahaman konsep perkalian matematika siswa kelas III SDN 5 Sila. Topik tersebut mempertemukan bidang yang dipelajarinya di perguruan tinggi dengan konteks pembelajaran yang dekat dengan lingkungan peserta didik.

BACA JUGA:  Kisah Mutiara Zulyanti: Melawan Keterbatasan Ekonomi Menuju Wisudawati Terbaik

Kini setelah menyandang gelar Sarjana Pendidikan, Novyanti ingin membawa ilmu tersebut ke ruang kelas. Cita-cita yang sempat tertunda sejak tamat SMA itu ingin diwujudkannya dengan menjadi seorang guru.

Baginya, gelar S.Pd. bukan sekadar tambahan di belakang nama. “Menjadi seorang Sarjana Pendidikan bukan sekadar tentang menyematkan gelar di belakang nama atau memegang lembar ijazah setelah bertahun-tahun perjuangan akademik. Bagi saya, lebih jauh dari itu, gelar ini adalah sebuah amanah, identitas, dan komitmen seumur hidup,” katanya.

Novyanti menyadari dunia pendidikan terus berubah. Menurutnya, pendidikan masa depan tidak lagi hanya soal menyampaikan pengetahuan. Guru dituntut membentuk peserta didik yang adaptif, berkarakter, dan memiliki kemampuan yang tidak dapat digantikan teknologi.

Karena itu, ia ingin menguasai teknologi dan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu pembelajaran, sembari tetap memperkuat pendidikan karakter, empati, dan kemampuan berpikir kritis.

Ia ingin menjadi guru yang bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi fasilitator yang mampu menginspirasi dan membentuk generasi muda yang tangguh, beretika, serta siap menghadapi era digital.

Novyanti juga berharap pemerintah memberikan perhatian nyata terhadap pendidikan di daerah, mulai dari pemerataan infrastruktur dan fasilitas belajar berbasis teknologi, kesejahteraan guru, hingga pelatihan berkelanjutan.

Menurutnya, kebijakan pendidikan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah serta mengurangi beban administratif yang berlebihan agar guru dapat lebih fokus menjalankan tugasnya.

 

Untuk Ayah yang Telah Tiada dan Adik yang Tak Sempat Menjadi Guru

Di balik keberhasilan Novyanti, ada sosok-sosok yang menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.  Ayah kandungnya, Suhermanto, telah meninggal ketika Novyanti masih kecil.  Ada pula sosok adiknya yang memiliki cita-cita menjadi guru terbaik di SMAN 2 Bolo, tetapi lebih dahulu dipanggil Tuhan.

Karena itu, pencapaian sebagai sarjana pendidikan juga ingin dipersembahkan Novyanti untuk mereka. Cita-cita menjadi guru yang sejak kecil ia genggam kini memiliki makna yang lebih dalam. Ia ingin melanjutkan harapan yang pernah dimiliki sang adik.

Sementara itu, kepada orang tua, Novyanti menyampaikan bahwa gelar dan predikat yang diraihnya bukan hanya miliknya. Baginya, pencapaian tersebut merupakan buah dari doa dan pengorbanan keluarga.

“Terima kasih telah menjadi alasan utama di balik setiap langkah, doa, dan lembar perjuangan yang saya selesaikan hingga hari ini,” ungkapnya.

Novyanti Wahyuningrum  saat praktik mengajar di ruang kelas.
Novyanti Wahyuningrum saat praktik mengajar di ruang kelas.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada suaminya yang selama bertahun-tahun menjadi penyokong terbesar dalam perjuangannya. Suaminya harus berbagi waktu dengan Novyanti, termasuk mengurus dan mengantar anak-anak, ketika istrinya harus mengikuti perkuliahan. Kesabaran dan dukungan itu membuat Novyanti mampu bertahan.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang—dari cita-cita yang tertunda karena ekonomi, menjadi istri dan ibu tiga anak, bekerja sebagai ASN, mengajar bimbel, menunggu bus selama bertahun-tahun, hingga belajar larut malam ketika keluarga sudah terlelap—Novyanti akhirnya sampai pada titik yang selama ini ia perjuangkan.

Gelar sarjana pendidikan telah berada di tangannya. Namun, baginya, wisuda bukanlah garis akhir. Itu adalah awal untuk mewujudkan cita-cita yang pernah tertunda: berdiri di depan kelas sebagai seorang guru. Dan kali ini, ia datang membawa bekal bukan hanya berupa gelar, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana bertahan ketika keadaan tidak selalu berpihak. (US)

Follow informasi Berita11.com di Google News

Pos terkait